
Waktu telah sore, Ila mengantar Angga untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin memastikan dia pulang dengan selamat dan aman.
Lalu tibanya di rumah Angga, langit sudah menggelap. Angga menyuruh Ila untuk mampir ke rumahnya dulu sebelum ia pulang, namun Ila menolaknya karena ia ingin langsung saja untuk kembali ke rumah.
Saat mengantar Angga sampai di depan pintu, betapa kagetnya terdapat orang yang membuka pintu itu.
Ila tampak kebingungan karena orang di depannya sungguh asing menurut dia.
Itu adalah ibu Angga, ia sudah lama tinggal di luar negeri. Puluhan tahun Angga tinggal bersama ayahnya dan kini ia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya yang utuh kembali.
"Angga, apa kabar nak." kata Ibu
"Ibu, mengapa tak bilang dulu kalau mau datang." ucap Angga sambil berpelukan
"Ini siapa?" tanya ibu Angga dengan menunjuk ke arah Ila
"Oh ini, kenalkan bu. Dia Ila."
"Ini namanya Ila, cantik sekali."
"Iya tan." kata Ila dengan mencium tangan ibu Angga.
Ibu Angga pun menyuruh Ila untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu sebelum ia memutuskan untuk pergi dari sana. Dia sudah menyiapkan makan malam yang banyak, sehingga mubazir jika tidak habis. Oleh karena itu Ibu Angga menyuruh Ila untuk makan malam dulu di sana.
Saat di meja makan
"Ila kamu pacar Angga ya?" tanya ibu Angga
Ila tersedak lalu Angga mengambilkan minum untuk dia.
"Bu..bukan tan, aku temennya." ucap Ila
"Jadi pacarnya juga tak apa." kata Angga yang asal ceplos saja.
Ila menepuk perut Angga "Apa sih.."
"Kalian sangat cocok sekali." kata Ibu Angga
Ayah Angga mengetahui segala perjalanan kisah antara Angga dan Ila yang penuh lika-liku
"Biarkan mereka mengenal satu sama lain dulu hingga mereka berdua bisa menerima satu sama lain." kata ayah Angga
Ila hanya tersenyum saja, sebagai bentuk ia menghargai perkataan dari orang tua dari Angga.
Setelah selesai makan malam, Ila ingin langsung pulang saja. Namun cuaca di luar sedang hujan deras, sehingga Angga melarang dirinya untuk pulang terlebih dahulu. Orang tua Angga juga menyuruhnya untuk tetap disana sampai hujan mereda.
Angga dan Ila menunggu berdua di sofa ruang keluarga, mereka berdua saling mengobrol satu sama lain.
__ADS_1
"La, kamu lagi apa?" (melihat Ila yang sedang bermain handphone)
"Lagi main handphone, memang ada apa?" tanya Ila yang fokus bermain handphonenya.
"Aku mau tanya padamu."
"Tanya apa, tanya saja."
"Apa benar sebelum aku kecelakaan kita hanya sekedar teman biasa?" tanya Angga
Angga merasakan perasaan yang berbeda jika ia di dekat Ila. Perasaan itu tidak tahu mengapa bisa muncul pada diriku seperti rasa sakit bercampur dengan kebahagiaan, namun aku tak tahu apa yang aku rasakan ini. Apa aku pernah berbuat salah padanya atau apa aku adalah kekasihnya sebelum kecelakaan ini terjadi.
Angga selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, hingga ia memutuskan untuk bertanya langsung kepada Ila
"Iya..iya kita hanya teman." ucap Ila dengan sedikit gugup.
"Apa aku pernah menyakitimu?" tanya Angga
"Hmmm..tidak pernah, kita sebelum ini tak terlalu dekat juga." ucap Ila bohong
Angga merasa aneh, jika ia tak terlalu dekat dengan Ila mengapa perasaan nyaman itu terus ada jika dirinya di dekat Ila.
"Apa yang kamu pikirkan, mengapa kamu melamun seperti itu." kata Ila
Angga hanya menggeleng saja.
"Ya sudah aku mau ke toilet dulu, toilet sebelah mana?" tanya Ila
Saat Ila bercermin di toilet, dirinya menghela nafas.
"Untung saja aku bisa mengatasi ini. Aku tak mau Angga tahu kalau aku pernah jadi sahabatnya dulu." ucap Ila
Aku sengaja merahasiakan ini kepadamu, agar kamu tak berharap lebih kepadaku. Aku tahu kamu menyukaiku, namun maaf aku kali ini tak bisa membalas cintamu. Seandainya kamu tak menghilang dan terus memperjuangkannya, mungkin hatiku lama kelamaan akan luluh. Tetapi kini cintaku telah berlabuh pada orang lain.
"Maafkan aku." sambil melihat cermin.
Lampu mati..
Ila berteriak dan Angga mendengarnya. Ila meminta tolong agar ada orang yang kesini untuk membantunya, karena Ila tak dapat melihat apapun disana.
"Tenanglah aku disini." ucap Angga
Ila sontak reflek memeluk Angga.
"Tolong aku, aku takut." kata Ila dengan merengek
Angga seperti mengingat kembali momen-momen seperti ini. Kepala Angga mulai bereaksi, sedikit agak pusing.
"Angga, are you okay?" tanya Ila
__ADS_1
"Ya..ya." ucap Angga yang berusaha kuat untuk menahan rasa sakit itu demi menyelamatkan Ila.
Tak beberapa lama, tiba-tiba lampu hidup. Posisi saat itu, tangan Ila melingkat di tubuh Angga seperti memeluk. Seketika Ila langsung melepasnya saat ia mulai tersadar
"Maaf..maaf." kata Ila
"Tak apa, jika kamu takut. Aku akan pasang badan untuk selalu melindungimu." kata Angga
Perkataan Angga itu membuat hati Ila terenyuh, Ia manatap Angga dengan penuh perasaan sedih.
"Apa aku salah kali ini, apa seharusnya aku tak pernah membencimu." kata Ila dalam hati.
Melihat Ila yang terus memandangnya membuat Angga juga ikut menatapnya.
"Satu persatu ingatanku tentangmu kembali." kata Angga dalam hati.
Lalu ada suara petir.
Ila pun sontak memeluk Angga karena kaget.
"Tenang..tenang kamu tenang." ucap Angga
"Aku sangat takut." kata Ila sambil memejamkan mata.
"Baiklah pelan-pelan kita keluar dari sini."
Mereka berjalan menuju sofa di ruang keluarga tadi dengan posisi Angga masih memeluk erat Ila. Angga khawatir Ila akan kaget dan ketakutan seperti tadi.
"Tenang tenanglah, tak akan terjadi apa-apa." ucap Angga sambil mengelus kepala Ila.
Ila sungguh merasa ketakutan, tubuhnya gemetar. Sampai di sofa, Angga masih memeluk Ila, ia tak akan membiarkan Ila ketakutan. Angga pun berusaha untuk menenangkannya, hingga tanpa mereka sadari mereka ketiduran disana.
Sudah beberapa jam berlalu, hari itu menunjukkan pukul 11 malam. Ila terbangun dan kaget.
"Mengapa aku bisa memeluk Angga." kata Ila
Angga juga ikut terbangun mendengar suara Ila yang agak terdengar kencang.
"Ada apa, La?"
"Aku mau pulang sekarang." ucap Ila
Sambil bersiap-siap merapikan diri.
"Apa kamu yakin, ini sudah hampir tengah malam. Apa kamu tak mau menginap disini dulu." kata Angga.
"Tidak, aku pulang saja."
Banyak sekali chat yang masuk dan panggilan tak terjawab dari ibu maupun Kak Bima. Mereka sepertinya khawatir dengan Ila karena ia tak kunjung pulang. Tanpa berpikir lama, ia berpamitan kepada Angga kalau dirinya ingin pulang.
__ADS_1
"Aku suruh supir untuk mengawalmu dari belakang ya, takutnya ada apa-apa di jalan."
"Terserah kamu saja, aku buru-buru."