Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 38 : SATU MOBIL BERDUA


__ADS_3

Membutuhkan waktu 3 jam menuju ke kampung halaman kakek. Namun Angga masih belum menemukan rumah kakek itu. Di sampingnya ada Ila yang tertidur dengan pulasnya.


Hari itu sudah sangat larut malam, Angga sudah sangat lelah sekali saat itu. Jalan sangat gelap sekali dan sepi, tidak heran itu bisa terjadi di daerah pedesaan seperti ini.


Angga pun segera mencari tempat penginapan untuk dirinya dan Ila disana namun sangat susah sekali. Kebetulan Angga melihat ada orang-orang yang sepertinya sedang melakukan ronda dan dia menghampiri orang-orang itu.


"Permisi pak mau tanya, untuk hotel atau penginapan disini dimana ya pak?" tanya Angga


"Kamu tinggal lurus saja, tidak jauh dari sini nanti ada toko. Di sebelah toko itu ada " ucap salah satu bapak yang sedang ronda.


Angga pun pergi ke tempat penginapan tadi. Dia mengikuti arahan bapak itu. Namun saat di perjalanan apa yang terjadi dengan mobil Angga. Mobil Angga tiba-tiba berhenti sendiri, Ila pun terbangun dari tidurnya karena dia merasakan seperti mobil yang bolak-balik rem.


"Apa ada masalah?" tanya Ila


"Tuan putri sudah bangun. Aku tidak tahu mobil ini kenapa." ucap Angga sambil meledek sekaligus memberitahu.


"Aku coba cek dulu." lanjut Angga dan ia keluar dari mobil.


Saat itu Angga mulai memeriksa mesin kendaraannya dan mencoba memperbaikinya. Alangkah malangnya saat itu tiba-tiba hujan datang hingga membuat Angga tidak jadi memperbaikinya dan memutuskan untuk masuk mobil.



"Mobilnya sudah bisa kah?" tanya Ila


Angga hanya menggelengkan kepala menandakan kalau mobil itu tidak bisa


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Ila


"Oke oke sekarang aku jelaskan kepadamu, kalau kita mau ke rumah kakek yang ada di TKP saat kecelakaan ayahmu."


Angga pun menceritakan semuanya kepada Ila kalau dia pagi-pagi sekali sudah pergi ke TKP dan menemukan cctv disana.


Dalam pikiran Ila, mengapa dia sampai segitunya.


"Apakah aku selama ini salah." ucap Ila dalam hatinya


Angga melihat Ila sedang melamun.

__ADS_1


"Halo..halo." (tangan Angga di depan wajah Ila)


Karena Ila susah untuk disadarkan, hingga akhirnya Angga mencubit hidung Ila.


"Apa si.." ucap Ila yang sudah sadar dari lamunannya saat itu.


"Kamu berani ya sama aku." lanjut Ila


Ila pun membalas perbuatan Angga kepadanya, dia mencoba meraih hidung Angga agar dia bisa mencubitnya juga. Angga pun tidak tinggal diam, dia tidak mau Ila menang saja dengan mencubit hidungnya. Mereka berdua pun terlibat perang tangan satu sama lain.


Duarr..(suara petir menyambar)


Ila kaget karena suara petir yang tiba-tiba menyambar, hingga dia tidak sengaja memegang tangan Angga. Angga pun mencoba menenangkan Ila saat itu, dia mengelus tangan Ila.


"Aku takut sekali." ucap Ila


Tangan Ila gemetar saat itu, dia pun sangat ketakutan. Dia memang dari kecil takut dengan suara petir.



Ila pun menyadari kalau tangan Angga saat itu ada di telinganya. Dia pun menatap Angga, mereka begitu sangat dekat saat itu. Kedua mata saling bertemu dan menatap satu sama lain sambil tangan Angga masih tetap menutupinya.


"Terima kasih." ucap Ila (sambil menatap Angga dengan begitu dekat)


"Aku rasa kamu bisa melepaskan ini, aku tidak apa-apa." lanjut Ila


Ssstt...(tangan Angga menempel ke mulut Ila) lalu tangannya kembali lagi menutupi telinga Ila


"Lihat aku, aku disini untukmu. Selama kamu masih ada disisiku, aku akan melindungimu dan aku tidak akan membiarkan apapun terjadi denganmu." ucap Angga dengan perasaannya yang selalu tulus kepadanya.



Tanpa Ila menyadarinya, dia terbawa suasana saat di mobil bersama Angga. Angga begitu baiknya kepadanya, tiba-tiba mulutnya mengatakan ini kepada Angga.


"Apa aku begitu jahat padamu?" ucap Ila sambil menatap Angga (mata Ila mulai berkaca-kaca).


"Apa aku sudah keterlaluan denganmu ha?" lanjut Ila

__ADS_1


"Apa aku sudah sangat kejam denganmu?" ucap Ila sambil meneteskan air matanya.


Angga yang saat itu melihat Ila dibuat kaget olehnya. Angga masih bingung dengan sikap Ila, dia masih tidak menyangka dia akan berbicara seperti itu kepadanya. Angga pun mulai berpikir kalau Ila melamun karena memikirkan hal ini.


Hujan di luar pun sudah mereda, Angga pun melepaskan tangannya dari telinga Ila. Angga pun menjawab semua pertanyaan Ila.


"Apakah kamu jahat, keterlaluan, kejam?" ucap Angga yang mencoba untuk mengulang pertanyaan dari Ila.


"Tolong jawab aku, apa aku seperti itu? tanya Ila yang begitu penasaran


"Aku memohon kepadamu, jangan kamu terlalu baik kepadaku karena aku tidak bisa membalas kebaikanmu kepadaku mengingat atas apa yang telah aku lakukan kepadamu. Aku yang tidak menganggapmu lagi sebagai teman hingga kita dipertemukan kembali lagi seperti ini" kata Ila sambil menangis.


"Aku juga tidak tahu pada diriku sendiri, asal kamu tahu. Aku sangat bingung harus berbuat apa." lanjut Ila. (menutupi wajahnya dengan kedua tangannya).


Ila menangis dengan sekencang-kencangnya. Setidaknya dia telah mengeluarkan segalanya apa yang ia rasakan kepada Angga. Hatinya saat itu sedang sangat bergejolak. Dia masih bingung dengan dirinya sendiri.


Angga pun menarik tubuh Ila ke dalam pelukannya.


Angga pun bisa merasakan jika ia berada di posisi Ila pasti sangat sulit sekali. Apalagi ibu Ila pernah bilang kepada Angga, kalau Ila menjadi sangatlah berbeda setelah kepergian ayahnya. Dia mudah sekali terbawa perasaan. Dia tidak dengan mudah meluapkan isi hatinya, sekalipun dia marah dia akan pendam itu agar tidak ada yang tersakiti. Itulah yang membuat dia sering terguncang dalam hatinya.


Saat Angga memeluk erat tubuh Ila, Ila kembali menanyakan itu kepada Angga.


"Aku tidak apa-apa, aku ingin kamu lakukan apa yang buat kamu nyaman." ucap Angga sambil memegangi wajah Ila


"Kamu tidak jahat dan kejam. Aku mengerti posisi kamu. Maafkan aku juga, jika saat pertemuan kita di kantor polisi aku marah kepadamu." lanjut Angga


Ila menatapi wajah Angga saat itu. Dia benar-benar beruntung ada Angga di sisinya saat itu. Ila langsung memeluk Angga saat itu. Angga pun membalas pelukan Ila.


"Aku akan mencoba untuk menerimamu kembali sebagai temanku dan aku berusaha juga untuk mempercayai perkataanmu. Ayo kita cari bersama-sama buktinya." kata Ila


Angga yang mendengar itu sangat senang, keraguan Ila kepadanya lama-kelamaan semakin memudar dan diganti dengan rasa percaya. Angga masih tidak menyangka Ila akan berusaha untuknya, dia pun memeluk dengan erat tubuh Ila.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2