Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 32 : PERTEMUAN ANGGA DAN BIMA


__ADS_3

Kak Bima yang saat ini sudah menetap di Indonesia telah kembali mengurus perusahaan milik keluarganya. Perusahaan Kak Bima tanpa di duga memiliki peran besar terhadap perusahaan Primadi milik Angga. Angga selama ini tidak pernah menduga kalau perusahaan Santoso Group itu adalah milik keluarga Kak Bima.


Di saat ada pertemuan untuk rapat, Angga kaget karena melihat sosok Kak Bima yang memimpin rapat tersebut dimana tak seperti biasanya. Kak Bima sebelumnya sudah tahu kalau perusahaan Primadi ini dikelola oleh Angga semenjak Ila menceritakan kepada dirinya kalau ia bekerja di Perusahaan Primadi. Sejak saat itu Kak Bima mencari tahu siapa pemiliknya sampai seluk beluk perusahaan milik Angga itu. Rapat berlangsung cukup lama, hingga tiba saatnya momen pertemuan antara Angga dan Kak Bima terjadi.


"Angga, apa kabar kamu?" ucap Kak Bima


Dengan sikap yang sopan dan menunduk Angga menunjukkan sikap profesional.


"Iya Pak Bima, saya sehat dan baik-baik saja." dengan suara agak sedikit pelan


"Kamu profesional sekali ya Ngga, aku jadi tidak enak bicara dengan Pak Angga ini." sambil senyum meledek mengajak bercanda.


Karena rapat sudah selesai dan Angga tidak mempunyai waktu banyak karena harus mengurus pekerjaan kantornya lagi, Angga pun izin kepada Kak Bima untuk meninggalkan ruang rapat sekaligus berpamitan.


Dalam hatinya Angga mengatakan "Untung saja Ila tidak ada disini." sambil mengelus dadanya.



Dengan diikuti oleh beberapa staf pegawainya dan pengawalnya, Angga dan yang lainnya pergi meninggalkan Kantor Santoso Group. Angga di dalam mobil masih memikirkan cerita Ila, yang mana dia pernah menceritakan kalau Ila pernah bertemu Kak Bima. Angga merasa takut jika Kak Bima mengungkit kisahnya dulu saat dia mengutarakan perasaan cintanya kepada Ila. Jadi secara tidak langsung Kak Bima adalah saingan dari Angga untuk mendapatkan hati Ila.


SAMPAI DI KANTOR PRIMADI..


Angga dengan langkah yang cepat langsung menuju ke ruangannya. Hari itu sudah sangat sore, tak terasa waktu Angga terbuang untuk rapat di kantor milik Kak Bima tadi. Angga saat itu sudah merasa lelah sekali sampai-sampai dia ketiduran di tempat duduknya.


Beberapa jam kemudian, Angga yang terbangun tampak di luar terlihat sudah gelap. Saat itu menunjukkan sudah malam hari namun Angga masih berada di kantor. Di saat Angga terbangun terdapat selimut yang menutupi tubuhnya itu, tetapi dia tidak tahu siapa yang telah menaruh selimut itu di badannya. Dia melihat di sekelilingnya terlihat kosong tidak ada orang satupun kecuali satpam yang sedang menjaga di luar kantor. Dia melihat kursi Ila, ia juga sepertinya sudah pulang. Angga pun melupakan masalah selimut itu dan memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam juga.

__ADS_1


Saat di perjalanan pulang, cuacanya hujan deras. Angga mengendarai mobil sampai-sampai jalan tidak terlihat jelas karena terlalu kerasnya air hujan yang jatuh. Tiba-tiba Angga melihat wajah yang tidak asing di tepi jalan, di halte bus.



Terlihat Ila ada di halte bus, dia sedang berteduh disana. Dia tidak bisa pulang karena tidak ada bus yang lewat disana ditambah hujannya yang lebat. Ila tidak pulang dengan Jesi karena saat itu Jesi pulang lebih awal sehingga Ila harus pulang dengan kendaraan umum. Angga dari kejauhan melihat Ila disana sedang kedinginan dan dia pun menghampiri Ila disana. Melihat mobil datang menghampirinya, Ila tahu kalau itu adalah mobil Angga.


"Ayo ikut denganku." pinta Angga


"Tidak mau, aku tidak mau satu mobil dengan calon suami orang." ucap Ila


"Ibumu sudah menunggumu, dia pasti khawatir denganmu. Ayolah.."


Ila hanya diam saja, dia masih mengharapkan suatu keajaiban yaitu bus yang datang jadi dia bisa pergi tanpa harus memilih pulang bersama Angga.


Terdengar suara perut berbunyi...


"Kamu lapar?" ucap Angga dengan tertawa meledek.


Ila menutupi wajahnya karena menahan malu, perutnya memang tidak diisi makanan mulai sore hari tadi. Angga terus dan masih saja tertawa terbahak-bahak karena suara perut Ila yang sedang kelaparan. Namun dia tidak tinggal diam, dia mengambilkan roti yang ada di mobilnya. Kebetulan waktu itu Angga selalu menyimpan roti di mobilnya karena sebagai jaga-jaga kalau dia nanti lapar. Angga membuka pintu mobilnya dan mengambil roti dan air minum botol untuk Ila makan.



"Ini makan." kata Angga (menyerahkan roti dan air minum itu kepada Ila)


Awalnya Ila malu-malu, tapi mau bagaimana lagi dia sangat lapar. Angga juga memaksa Ila memakannya jadi dia makan roti pemberian Angga itu dengan sangat lahap. Angga yang melihat dari samping Ila senyum-senyum sendiri melihat tingkah Ila yang menurutnya sangat lucu.

__ADS_1


Kira-kira 1 jam, Ila dan Angga berada di halte bus namun bus yang Ila tunggu tidak kunjung datang.


"Masih mau menunggu? ayo pulang sama aku, hujannya juga sudah reda. Ibumu nanti khawatir La."


Mau tidak mau Ila mengikuti Angga di mobilnya, dia juga sudah bosan menunggu bus tapi tidak ada satupun yang lewat. Angga juga dengan senang hati bisa pulang bersama Ila, momen seperti inilah yang sangat dinikmati oleh Angga. Kebersamaannya dengan Ila adalah hal yang paling membuat Angga bahagia saat ini.


"Kamu dari rapat di perusahaannya Kak Bima ya?" tanya Ila


"Kamu tahu kalau itu perusahaannya Kak Bima." ucap Angga dengan raut wajah kesal


"Tentu aku tahu, Kak Bima yang memberitahuku." kata Ila tanpa dia memikirkan perasaan Angga


Muka Angga menjadi murung saat Ila menyebut Kak Bima di hadapannya. Ila yang melihat ekspresi wajah Angga merasa aneh mengapa mukanya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Ila berpikir apakah Angga tidak suka kalau aku menyebut Kak Bima dihadapannya hingga saat itu Ila pun menghindari pembicaraan mengenai Kak Bima.


"Mengapa wajahmu seperti itu, apakah kamu mengantuk? tapi kamu sudah tidur di ruanganmu tadi." ucap Ila


"Bos mu ketiduran sampai larut malam, tapi kamu tidak membangunkannya. Pegawai macam apa kamu." kata Angga seolah-olah memarahi Ila


"Tapi aku memberimu selimut, bukankah aku sekretaris yang perhatian." ucap Ila


Mendengar itu, Angga menjadi tahu kalau yang memberinya selimut adalah Ila. Angga senang sekali karena mendapat perhatian dari Ila, meskipun Ila tidak seperti dulu tetapi Angga bisa merasakan Ila tetaplah Ila yang dulu. Ila yang periang, suka membantu dan menolong orang lain, selalu perhatian kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya terutama untuk para teman dekatnya. Angga yakin keceriaan dari Ila akan kembali lagi pada dirinya, ia akan membantunya dan janji pada dirinya sendiri untuk mengembalikan itu semua.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2