Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 67 : MASIHKAH MENGINGATKU?


__ADS_3

Ila menunggu Angga sampai dia siuman, hingga tiba saatnya Angga membuka kedua matanya. Ila pun langsung memanggil dokter yang ada disana, ia mengatakan kalau Angga telah siuman.


Saat Angga pertama kali membuka mata, ia seperti orang kebingungan. Dokter memeriksa kondisinya dan berita baiknya karena Angga kini baik-baik saja. Ia hanya membutuhkan perawatan yang intens dan tetap menjaga kesehatannya sampai ia benar-benar pulih


"Kondisinya sudah stabil, dia bisa dipindahkan ke kamar rawat inap sekarang." ucap dokter


Tiba saatnya Angga dipindahkan ke kamar rawat inap, disana hanya ada Ila. Ila mencoba mendekat menuju Angga, ia sangat takut Angga tidak mengenalinya.


"Kamu siapa?" tanya Angga


"Apa kamu tidak mengenaliku? aku Ila."


Angga bereaksi, kepalanya sakit. Ila saat itu panik dia langsung menenangkan Angga.


"Kamu tidak perlu mengingatnya, tenangkan dirimu." ucap Ila


Ila pun membangunkan Angga untuk memberikan dia minum. Ila memegangi gelasnya dan seketika Angga memegang tangan Ila lalu ia menatap Ila. Mereka pun saling tatap dan Angga pun mengucapkan nama Ila.


"Apakah kamu mengingatku?" kata Ila sambil tersenyum bahagia


Angga pun mengangguk


"Ka..kamu temanku kuliah kan." ucap Angga


"Iya, lalu apa lagi yang kamu ingat."


"Aku hanya ingat kamu adalah temanku saat kita maba dulu." sambil memegang kepalanya


Ila kasihan terhadap Angga hingga ia menyuruh Angga untuk beristirahat dan berhenti untuk memakasa ia untuk ingat semuanya.


"Semua butuh proses, aku yakin kamu akan ingat semuanya." kata Ila sambil mengelus Angga


Tiba-tiba ada panggilan telepon dari Kak Bima. Ila pun mengangkatnya dan Kak Bima mengatakan kalau ia ada di luar ruangan kamar dari Angga di rawat. Ila melihat ke arah luar dan benar saja disana ada Kak Bima. Ila pun izin keluar sebentar kepada Angga.


Datang menemui Kak Bima.


"Kak, kenapa tidak mengabari aku dulu kalau mau datang kesini." kata Ila


"Aku tahu ini dari ibumu jika Angga kecelakaan dan kamu yang merawatnya. Apakah tidak ada keluarganya disini?" ucap Kak Bima


"Orang tuanya sedang di luar negeri, mereka menitipkan Angga ke aku. Mau bagaimana lagi aku harus mematuhinya."


"Aku tidak suka kamu merawat Angga sendiri, aku akan ikut denganmu." kata Angga dengan nada tinggi

__ADS_1


Kak Bima terus mengoceh, ia menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Angga dan memarahi Ila karena kembali dekat-dekat dengan Angga.


"Mengapa kamu marah padaku, bukan mauku seperti ini dan asal kamu tahu Angga sedang hilang ingatan jadi dia akan sedikit susah untuk mengingat seseorang."


"Apa kamu bilang, Angga hilang ingatan."


"Iya, jika kondisimu masih emosi seperti ini mending kamu jangan bertemu dengan dia dulu. Aku masuk dulu." kata Ila (langsung menutup pintu kamar ).


Ila tak menyangka Kak Bima yang ia anggap bijak ternyata sikapnya seperti kekanak-kanakan. Ila sangat marah saat itu dengan sikapnya. Angga yang ada disana memperhatikan raut wajahnya.


"Ada apa denganmu? apa terjadi sesuatu?" tanya Angga


"Tidak tidak ada." ucap Ila


Angga pun masih mengenali Ila, ia tahu kalau Ila sedang menyembunyikan perasaannya.


"Aku baru ingat, kamulah wanita yang aku suka." kata Angga dalam hatinya.


Ila pun menyuapi makan untuk Angga lalu Ila menyuruh Angga untuk beristirahat. Di saat Angga tidur, Ila pergi dari sana. Ia ingin pulang terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang yang ia butuhkan selama di rumah sakit.


RUMAH ILA


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kakak sudah datang. Bagaimana keadaan Kak Angga?" tanya adik


"Ibu masih membeli kebutuhan rumah di pasar kak."


Ila pun bergegas menuju kamarnya, ia mengemasi bajunya untuk ia menginap di rumah sakit. Ila juga membawa kebutuhan yang lain.


Ibu datang dan menuju kamar Ila


"Sedang apa nak?" tanya ibu


"Oh iya bu, ini aku sedang mengemasi bajuku dan aku izin untuk menginap di rumah sakit." ucap Ila


"Iya nak, hati-hati disana dan jaga kesehatanmu juga. Jangan sampai yang jaga juga ikutan sakit." kata ibu


Ila mengatakan semua kejadian yang ada di rumah sakit kepada ibunya. Dia menceritakan sikap Kak Bima yang keterlaluan kepadanya. Kak Bima yang emosi dan tidak memiliki perikemanusiaan.


"Aku tidak menyangka ia akan mengatakan itu." kata Ila


"Tenangkan dirimu, mungkin Bima sedang cemburu kepadamu." kata ibu mencoba untuk menenangkan anaknya itu.

__ADS_1


Setelah selesai mengemasi semuanya Ila kembali menuju rumah sakit.


Saat tiba di rumah sakit, Ila melihat Angga yang masih tidur terlelap. Ia pun menunggunya sambil bermain handphonenya. Tiba-tiba dia ketiduran di tempat tidur Angga sambil duduk.


Ketika Angga bangun dari tidurnya, tangannya terkena kepala Ila tanpa sengaja tetapi ia tak bangun atau bergerak sedikitpun. Kemudian ada perawat datang untuk memberi suntikan kepada Angga.


"Sebentar ya pak, saya suntik dulu." ucap perawat


"Iya"


"Kasihan ya, dari kemarin ia menemani bapak. Mungkin dia sangat kelelahan." kata perawat


Angga menatap Ila, ia mengelus kepalanya. Angga mengucapkan terima kasih kepada Ila


"Aku tak salah menyukai wanita sepertimu, meskipun kamu tidak mengetahui perasaanku padamu. Aku tak mau persahabatan kita hancur karena aku menyukaimu." (Angga hanya mengingat hanya sebatas itu).


Angga terus menatapi wajah Ila kemudian Ila mulai terbangun. Ila pun melihat Angga sudah terbangun dan menatapnya. Sontak kepalanya langsung terangkat dan menanyakan kebutuhan Angga saat itu.


"Maafkan aku, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Ila


Angga hanya menggeleng dan tersenyum.


"Ada apa denganmu mengapa kamu tersenyum?" tanya Ila yang merasa heran.


"Mendekatlah sini." kata Angga


Ila menuruti perkataan Angga, ia pun mendekatkan wajahnya ke Angga. Lalu Angga menyuruhnya untuk lebih dekat. Ila menurutinya tetapi apa yang terjadi, Angga mencubit hidungnya.


"Kamu sangat lucu." kata Angga sambil tertawa


"Lucu apa." ucap Ila kesal


"Kamu tidur sambil ngorok." kata Angga sambil meledek


Ila pun mengelak karena ia jarang sekali mengorok kecuali kalau ia benar-benar lelah sekali. Wajah Ila sangat malu sekali dan ia pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.


"Apa benar aku tadi mengorok ya." ucap Ila sambil berpikir


"Jika benar aku ngorok, aku malu sekali." lanjut Ila


Di tempat tidur Angga masih menertawakan tingkah Ila.


"Kamu tak berubah, kamu masih saja tidak mengerti aku yang hobinya suka meledekmu. Tapi tak apa itu yang membuatku candu setiap aku ada di dekatmu." ucap Angga

__ADS_1


"Wajahmu yang lugu, lucu dan sikapmu yang sering ngambek aku sampai menghafalnya." lanjut Angga


Ila keluar dari kamar mandi dengan wajah agak sedikit malu dan kesal dengan sikap Angga yang terus meledeknya.


__ADS_2