Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 62 : KEJAHATAN TERUNGKAP


__ADS_3

Selama berhari-hari Ila menjalankan misinya untuk mengungkap kejahatan dari Mira. Ila harus merasa kelelahan karena hampir setiap hari. Selesai ia pulang kerja Ila pun mencari semua bukti yang menyatakan kalau Mira bersalah atas kecelakaan yang menimpa ayahnya.



"Kini tak ada lagi yang bisa menghentikanku, baik itu kau Angga." sambil menatap Angga dari kejauhan


Ila yang hanya absen di kantornya langsung bergegas menuju ke kantor polisi. Disana sudah terlihat Kak Bima yang menunggunya.


"Apa kau sudah siap?" tanya Kak Bima


Ila menganggukkan kepalanya, menandakan kalau ia sudah siap dengan apa yang harus ia lakukan hari itu.


Percakapan berjam-jam mulai terjadi di kantor polisi antara Ila, Kak Bima dan polisi yang ada disana. Wajah mereka sungguh amat sangat serius. Ila mulai menunjukkan semua rekaman baik itu rekaman suara maupun video yang membuktikan kalau Mira lah dalang di balik kecelakaan yang menimpa ayahnya. Semua terasa tegang. Detik detik penangkapan Mira pun mulai di eksekusi.


RUMAH MIRA


Mira kala itu tepat berada di rumahnya. Sedangkan Ayahnya sudah tertidur di kamarnya. Polisi mulai mengetuk pintu rumahnya.


"Tok..Tok..Tok.." tak ada seorangpun yang membuka pintu itu.


Oleh karena itu, polisi langsung membuka pintu rumahnya dan tanpa di sangka disana ada Angga yang sedang tergeletak. Mira yang hendak seperti serigala yang ingin memangsa.


"Angkat tangan" kata polisi


Para polisi tersebut langsung membawa dan memborgol Ila. Tak disangka Ila pun melihat Angga disana seperti orang yang pingsan. Hatinya pun merasa iba, ia pun menyadarkan Angga yang disana.


Tak lama kemudian Angga pun tersadar dan dia tak ingat dia ada dimana saat itu.


"Ila." ucap Angga


Ila pun memberinya air putih dan menurutnya tugas dia pun sudah selesai. Ia pun segera pergi dari sana tetapi Angga memegang tangan Ila seraya menghentikan langkah Ila agar dia tidak pergi dari sana.


"Kau mau kemana?" tanya Angga


"Aku mau pulang."


"Tolong bantu aku, antar aku pulang."

__ADS_1


Ila tak tega melihat kondisi Angga dalam keadaan yang lemas seperti itu, akhirnya ia memutuskan untuk mengantar Angga pulang ke rumahnya.


SAMPAI DI RUMAH ANGGA


"Rumahnya kok sepi, memangnya bibi kemana?" ucap Ila dalam hatinya.


Sambil membopong Angga, Ila mengantar Angga cukup sampai di sofa ruang tamu.


"Baiklah, aku pulang ya sekarang." kata Ila


Angga kala itu merengek kepada Ila, ia mau Ila tetap ada disana karena rumahnya saat itu tak ada siapa-siapa. Bibi sedang pulang kampung. Sedangkan ayahnya sedang ke luar negeri untuk memperoleh perawatan.



"Ayo, aku mohon temani aku malam ini saja. Aku berjanji tidak akan berbuat aneh kepadamu." ucap Angga


"Maaf aku tidak bisa. Lebih baik aku panggil temanmu saja ya kemari." kata Ila yang coba menjelaskan panjang lebar kepada Angga


"Aku maunya kamu." kata Angga


"Aku bisa menjamin apa kalau kamu tidak akan berbuat macam-macam. Jelas jelas aku mempergoki kamu dan Mira sedang berduaan." kata Ila dengan raut wajah yang cemberut


Ila saat itu terbawa perasaan dengan suasana disana. Dia harus tetap konsisten dengan jalan hidupnya saat itu. Menjauhi dan melupakan masa lalu dan melangkah ke depan itulah prinsip hidup Ila. Ila akan sebisa mungkin menjauhi orang-orang di masa lalunya karena masa itu sungguh kelam menurutnya.


Kala itu suasana hening, Ila masih mencoba untuk menghubungi teman-teman Angga agar dia mau menemani Angga di rumahnya ini.


Menghela nafas "Akhirnya terima kasih tuhan, engkau telah memudahkan langkahku untuk mengungkap segalanya. Mira, semoga kamu bisa jerah atas yang menimpamu saat ini." Ila yang melamun seraya hatinya berbicara.


Tanpa Ila sadari, air matanya menetes membasahi pipinya.



"Astaga, apa-apa an aku ini. Tetap kuat Ila tetap kuat." kata Ila dalam hatinya


Angga melihat Ila saat itu, di sofa ruang tamu mereka duduk berdua. Angga mencoba mendekatkan dirinya kepada Ila.


Angga memegang tangan Ila, mereka berdua saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Aku Angga, meminta kepada sahabatku satu ini untuk memaafkan segala kesalahan yang aku perbuat selama ini. Aku tak membantumu menangkap Mira, tetapi aku mempunyai alasan untuk itu semua. Kamu tahu, meskipun tanpa aku beritahu kami mungkin juga tahu. Aku masih tetap mencintaimu Ila, dari dulu hingga sekarang."


Angga pun mengungkapkan perasaannya kepada Ila panjang dan lebar yang intinya dia mau memulai kehidupan mulai nol lagi dengan Ila.


Ila memandang mata Angga yang penuh keseriusan. Namun tiba-tiba teman Angga bernama Rio datang.


Mereka berdua yang telah hanyut dalam perasaan tiba-tiba buyar setelah kedatangan Rio disana.


"Oke, baiklah. Karena sudah ada temanmu disini. Aku pamit pulang ya." kata Ila sambil bergegas pergi dari sana.


Ila pun pulang menuju rumahnya. Mulai dari perjalanan hingga dia telah sampai rumah, kata-kata Angga terngiang-ngiang di benaknya.


"Apa benar dia serius bicara begitu denganku." kata Ila


Telepon berdering...


"Halo kak, ada apa?"


"Apa kamu sudah ada di rumah?"


"Iya kak, aku sudah ada di rumah. Memangnya ada apa kak?"


"Aku hanya khawatir, karena saat aku mengantar Mira ke kantor polisi kamu tak ada disana."


"Iya kak maaf, tadi aku ada urusan sebentar."


Itu adalah telepon dari Kak Bima. Ila sangat berterima kasih kepadanya disamping perbuatan dia yang sangat nyebelin. Meskipun begitu dan secara tidak langsung Kak Bima telah membantu Ila untuk mengungkap kejahatan dari Mira.


"Huuft..hari yang melelahkan saat ini."


Ila pun terbayang ucapan ibu "Kamu mudah untuk mengatakan telah memaafkannya. Namun nyatanya sangat sulit dalam prakteknya."


"Apa aku harus mulai dari nol seperti yang Angga bilang kepadaku."


Ila mulai bimbang dengan pemikirannya. Ila tahu apa yang selama ini ia rasakan dalam dirinya tak mudah untuk dijalani. Masalah persahabatan, percintaan, ekonomi, kasta satu sama lain saling terhubung. Waktu yang cukup sulit ia jalani selama bertahun-tahun ini. Tanpa ia sadari lagi, ternyata temannya sendiri telah mengkhianati dirinya. Ila yang baru telah tumbuh beberapa bulan lalu. Ila yang lebih kuat ia tunjukkan sisinya yang lain. Jesi sebagai seorang sahabatnya sampai kaget dengan perubahan Ila yang cukup drastis.


"Aku tahu, itu bukan aku yang sebenarnya. Tapi setidaknya dengan aku yang kemarin, aku bisa membuat ayah tenang di surga sana." ucap Ila

__ADS_1


"Aku akan mencoba berkompromi dengan kehidupan ini, aku akan menyerahkan semua kehidupanku denganmu tuhan. Apa yang kamu berikan kepadaku hari kemarin telah merubah diriku menjadi lebih baik. Aku akan mencoba membuka hatiku untuk dua pria di depanku ini. Jika salah satu dari mereka jodohku maka dekatkan jika tidak maka jauhkan tuhan. Inilah babak baru dariku."


__ADS_2