
Ila masih tidak menyangka kalau Angga mempunyai pemikiran seperti itu. Ila tidak mau di cap sebagai perebut tunangan orang lain, hingga dia yang harus mundur
"Biarkan aku yang mundur, kamu bisa memulainya dengan Mira yang sebentar lagi menjadi istrimu." kata Ila dengan tegas
"Anggap saja, apa yang aku katakan kepadamu tidak berarti apa-apa. Sekarang bagaimana cara kamu menata hidupmu dengan Mira, lupakan aku." lanjut Ila
Ila keluar dari mobil itu dengan menangis. Padahal di luar masih hujan, menurut Ila urusannya dengan Angga sudah selesai. Angga yang melihatnya langsung menyusul Ila. Dia berhasil meraih tangan Ila saat itu.
Di derasnya hujan mereka saling berdebat satu sama lain.
"Lepaskan." kata Ila (Angga yang sedang memegangi tangannya).
Angga tidak merespon apa yang Ila katakan. Dia terus memegangi tangan Ila, karena ada yang masih ingin ia bicarakan. Angga menyuruh Ila untuk mendengarkannya sebentar saja.
"Lihat aku, baru saja kamu bilang cinta kepadaku dan baru saja kamu juga mematahkan hatiku lagi." kata Angga
"Tapi apa yang kita lakukan ini salah, kamu sudah menjadi milik orang lain." ucap Ila
"Oke baik, kalau itu yang kamu mau. Aku akan putuskan hubunganku dengan Mira. Aku tidak peduli lagi dengan harta atau apalah itu."
Mereka berdua saling bicara di derasnya hujan yang mengguyur. Angga pun memutuskan meninggalkan Ila dan ingin bicara menemui Mira, tetapi Ila menghadang niat Angga itu.
Ila berada di depan mobil Angga, tetapi Angga masih tetap dengan pendiriannya. Mobilnya berhasil lolos dari Ila dan Ila tidak tinggal diam, ia mengejar mobil Angga.
Saat Ila mengejar mobil Angga, ia terjatuh dan Angga melihatnya dari kaca spion mobil.
Mobilnya mundur menuju Ila dan dia turun lalu menggendongnya.
DI DALAM MOBIL.
"Apa yang kamu lakukan?" kata Angga
Ila kedinginan dan kakinya merasa kesakitan. Angga tidak tega melihatnya, ia pun memberikan jaketnya yang saat itu ada di mobil untuk menutupi tubuh Ila. Lalu dia meraih tangan Ila dengan memberinya kehangatan dengan menggosoknya menggunakan kedua tangannya sambil meniupnya.
Badan Ila sangat menggigil, dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Dia menutup kedua matanya, badannya terasa dingin sekali.
"Badan kamu panas." kata Angga
"Aku bawa kamu ke rumah sakit." lanjut Angga
Saat Angga ingin menancap gas mobilnya, tangan Ila memegang dia.
"Antar aku pulang saja." kata Ila dengan lemas, matanya masih tertutup.
__ADS_1
Angga pun menuruti permintaan Ila, dia membawanya pulang ke rumah.
Di saat di perjalanan pulang, Ila terus mengigau kalau Angga tidak boleh memutuskan hubungannya dengan Mira hanya karena dia. Angga tahu kalau Ila saat itu sedang mengigau.
SAMPAI DI RUMAH ILA.
Untung saja hujan sudah berhenti. Angga menggendong Ila sampai di rumahnya. Ibu Ila membukakan pintu dan seketika panik dengan keadaan anaknya.
"Ada apa ini nak?" tanya ibu
Angga menjelaskan kalau Ila kehujanan hingga dia menjadi seperti ini.
Saat di kamar, ibu menyuruh Angga untuk meninggalkannya karena ibu ingin mengganti pakaian Ila yang basah.
Angga pun menunggu di ruang tamu hingga ibu memanggil Angga untuk menemani Ila disana. Di kamar ada adik, Angga, kemudian ibu. Semuanya panik dengan keadaan Ila yang tak kunjung sadar.
Beberapa saat kemudian, setelah Angga memberikan minyak kayu putih di hidung Ila. Kemudian dia siuman.
Semua orang disana senang, akhirnya Ila sadar. Ibu langsung memberikan teh hangat untuk putrinya itu. Adik Ila saat itu sangat mengantuk, akhirnya setelah kakaknya siuman dia kembali ke kamarnya.
Kini tinggal ibu dan Angga yang tersisa disana. Ibu mengelus kepala anaknya itu.
Ila tidak ingin membuat ibunya cemas, dia beralasan kalau tadi hanya kehujanan. Karena hujannya sangat deras sekali membuat badannya sakit semua.
"Maaf bu, aku tidak bisa menceritakannya. Ini sangat rumit." kata Ila dalam hatinya
Angga dan Ila pun saling menatap satu sama lain. Kejadian yang sesungguhnya tidaklah se simpel itu pikirnya.
Mereka berdua menjaga Ila, hingga Ila tertidur kembali.
Sudah larut malam, Angga memutuskan untuk pulang ke rumah, dia berpamitan pada ibu.
"Bu, aku pamit dulu ya." kata Angga
"Iya nak hati-hati, terima kasih sudah mengantarkan Ila sampai rumah." kata Ibu
PERJALANAN PULANG.
Malam semakin dingin, angin sangat kencang. Perjalanan Angga berjalan dengan mulus. Dia sampai di tujuan dengan selamat.
Angga pulang ke rumahnya, ternyata disana ada Mira yang sudah menunggu dia
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?" tanya Mira.
"A..a..aku ada urusan tadi, jadi aku meninggalkan acara."
"Urusan apa yang begitu penting, sampai kamu meninggalkan pesta pertunangan kita."
Angga tidak mau membahas ini dengan Mira, dia mengalihkan pembicaraan dia ingin segera ganti baju karena bajunya sudah terasa lengket di badannya.
"Aku mau ganti baju dulu, kamu bisa pulang sekarang. Kita bisa bahas ini besok saja aku mau istirahat dulu." ucap Angga secara tidak langsung mengusir Mira dari rumahnya.
Kebetulan saat itu, ayah Angga belum tidur dan dia mendengarkan percakapan antara Angga dan Mira.
"Kasihan Angga harus memikul beban yang begitu banyak." ucap Ayah Angga.
KAMAR ANGGA.
"Hari ini begitu melelahkan." kata Angga
Setelah mandi menggunakan air hangat, Angga menuju ke tempat tidurnya.
Dia telentang, menghadap langit-langit sambil memikirkan sesuatu yang ada di benaknya kala itu.
Dia hari itu sangat bingung dengan perasaannya sendiri. Angga merasa senang karena Ila akhirnya menjawab cintanya tetapi di sisi lain urusannya dengan Mira masih belum selesai.
Saat itu, Angga berpikir untuk menghubungi sahabat Ila yaitu Jesi. Dia mencoba chat Jesi dan ternyata dia membalasnya. Akhirnya Angga menelepon Jesi.
Maksut dia untuk menelepon Jesi adalah ia ingin Jesi membantunya untuk membujuk Ila agar dia bisa mengerti posisi Angga saat itu.
Ila tidak mau lagi berhubungan ke arah yang lebih serius dengan Angga apabila Angga masih menjadi tunangan Mira. Angga pun tidak mau menyia-nyiakan orang yang selama ini dia cintai. Angga menceritakan kejadian semuanya kepada Jesi. Jesi sudah mengetahui memang Ila menyimpan perasaan kepada bosnya itu, tetapi Ila tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dia pernah menceritakan semuanya kepadaku bos, dia pun perlahan memilih mundur daripada harus ribut dengan Mira." ucap Jesi
"Aku tahu..aku tahu Jes, masalahnya aku tidak cinta kepada Mira. Aku cintanya sama Ila." kata Angga dengan tegas.
Angga pun menjelaskan alasannya mengapa dia sampai bersama Mira, agar Jesi mengerti posisi Angga yang begitu rumitnya.
"Jadi begitu ya bos, aku tidak bisa janji ya." kata Jesi
"Iya terima kasih Jes, aku sangat butuh bantuanmu untuk membujuk Ila dan biarkan aku yang mengurus Mira dan segera mengakhiri hubunganku dengannya." ucap Angga
BERSAMBUNG.
Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)
Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏
__ADS_1