Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 19 : LIBURANKU BERAKHIR BERSAMA DIA


__ADS_3

Melihat Ila dari kejauhan, Jesi langsung menghampiri sahabatnya itu.


“ Ada apa denganmu?” tanya Jesi


“ Nanti saja aku ceritakan, sekarang aku akan menghampiri bos.” Jawab Ila


Ila pun dengan cepat menghampiri bos nya untuk memberikan kacamata yang ia titipkan kepadanya.


Semua orang sedang menikmati suasana disana karena disana udara sangat sejuk. Ila dan Jesi pun dengan mengobrol juga menikmati suasana disana. Ila yang tanpa ia sadari sedang diperhatikan oleh bos besar Angga. Jesi selaku sahabatnya itu mengetahui hal ini dan ia pun mencoba memberitahu Ila.


“La..” ucap Jesi (sambil menyenggol badan Ila dengan sikutnya)


“Ada apa?” tanya Ila


“Itu, bos besar.”


“Aku tidak peduli sama dia, mau dia jungkir balik terserah dia.” Jawab Ila dengan ketus


Jesi menjelaskan kepada Ila kalau Angga sedang memperhatikan dia dari kejauhan, Ila pun mengetahui hal itu semua langsung menyuruh Jesi untuk menutupi mukanya dari tatapan bos besar Angga itu.Karena Ila sudah merasa risih, dia menarik Jesi untuk berpindah tempat saja.


Sepanjang hari para pegawai sudah menikmati waktu dengan sangat seru termasuk Ila dan Jesi. Rangkaian kegiatan sudah dilakukan disana yang mana bisa sedikit menghilangkan penat akibat pekerjaan yang akhir akhir ini membuat mereka pusing.


Semua orang pun memutuskan pergi ke bus karena hari sudah mulai petang terkecuali orang orang atasan disana, mereka naik mobil pribadi mereka sendiri. Ila yang sudah trauma dengan kejadian tadi pagi dimana Angga memaksanya ikut langsung bergegas naik duluan ke dalam bus itu.


Ila menutupi kepalanya dengan jaket dan dia duduk di dalam bus dengan menutupi wajahnya dengan jaket. Ila menganggap keadaan sudah aman karena bus akan segera pergi dan akhirnya dia membuka jaketnya itu dan betapa kagetnya karena di sebelah tempat duduknya itu ternyata Angga.


“Loh..” (muka Ila terkejut dan kaget)


Semua orang yang ada di bus kaget melihat teriak Ila itu. Lalu ada salah satu rekan Ila yang berkata.

__ADS_1


“Ada apa, La?” tanya salah satu rekan kerjanya


“Tidak apa-apa, dimana Jesi?” tanya Ila


“Itu dia ada di depan.” Jawab rekannya


Ila pun melihat kursi depan apakah ada yang kosong dan sekelilingnya ternyata penuh semuanya.


“Sudah La, kamu duduk saja. Bos besar juga duduk karena kursi di sebelahmu adalah satu-satunya kursi yang kosong.” Ucap rekan kerjanya


Angga yang ada disana hanya senyum senyum melihat tingkah Ila saat itu. Ila merasa kesal dan kembali duduk di sebelah Angga dimana dia terpaksa karena tidak ada pilihan lain.


Selama perjalanan Angga menikmati waktu-waktu bersama Ila dimana ia flashback masa ia kuliah dulu bersama Ila. Angga sering diajak Ila untuk naik angkutan umum bersama, namun sekarang situasinya beda. Kini Ila sudah merasa jauh darinya.


Tanpa menyadari hal ini, Ila tertidur di bahu Angga. Keduanya memang sudah tertidur lelap dengan saling bersandar.


Seketika itu Jesi membangunkan Ila dan tanpa sengaja Angga juga ikut terbangun. Jesi merasa takut karena bos besarnya itu juga ikut terbangun karena dia tidak bermaksud untuk membangunkannya.


Ila pun segera pergi dari tempat duduknya meninggalkan Angga di bus itu, tapi Angga tidak diam begitu saja dia memegangi tangan Ila seperti menginginkan Ila agar tetap disisinya. Ila melepaskan genggaman tangan Angga di pergelangan tangannya itu.


Semua orang sudah berkumpul di bawah dekat dengan bus yang mereka gunakan untuk pergi ke puncak tadi. Tak luput bos besar Angga memberikan sepatah kata untuk mengakhiri kegiatan itu.



Akhir kegiatan semua pegawai diizinkan untuk segera pulang ke rumah masing-masing karena besok pagi harus memulai pekerjaan seperti semula. Jesi dan Ila pun saling berboncengan bersama.


Sepanjang jalan mereka hanya diam saja karena sudah sangat lelah dengan aktivitas seharian ini. Kemudian hal yang tidak terduga terjadi pada mereka. Jesi oleng saat membonceng Ila dan itu terjadi karena ban sepeda motor yang mereka kendarai bocor ditambah situasi disana sudah tampak tidak ada tukang tambal ban yang buka. Mereka kebingungan dan mereka akhirnya memutuskan lanjut berjalan dengan menuntun sepeda motor secara bergantian. Mereka membutuhkan waktu sangat lama sekali untuk menuntunnya tapi tidak ada tukang tambal ban yang terlihat disana.


“La, mau ganti aku saja yang menuntun sepedanya?”

__ADS_1


“Tidak, kamu kan sudah baik sama aku sering boncengi dan sekarang aku saja yang melakukan pekerjaan ini” ucap Ila


“Tapi wajahmu sudah sangat lelah sekali sepertinya.” Ungkap Jesi


“Ah..tidak, itu hanya perasaanmu saja.” Jawab Ila (Ila terpaksa harus berbohong karena dia tidak ingin selalu menyusahkan sahabatnya itu padahal dalam hatinya Ila sudah sangat capek dengan kegiatan seharian ini)


Dari kejauhan ada mobil yang melintasi keberadaan mereka berdua dan mobil tersebut berhenti tepat di depan mereka. Seseorang itu turun dan tanpa diduga itu adalah Angga. Ila mengetahui itu semua langsung dengan cepat bergegas melanjutkan menuntun sepeda motor dan Jesi mengikuti langkah Ila juga.


“ La, mengapa kamu menghindar? Mungkin saja bos besar mau memberi bantuan kepada kita.” Ucap Jesi


“ Aku yakin sebentar lagi kita akan menemukan tukang tambal ban kok di sekitar sini jadi tidak perlu bantuan dari bos besar itu.” Jawab Ila


Ila pun berhenti sejenak menuntun sepeda motornya, nafasnya pendek ngos ngosan karena merasa sangat lelah dan menahan sakitnya. Jesi yang berada di belakangnya menanyakan keadaan Ila apakah dia baik-baik saja tapi dia hanya menggeleng saja tanpa mengucapkan satu kata pun.



Seperti dugaan Jesi, Ila seperti orang yang sangat kelelahan. Dia pun menghampiri Ila dan menggantikannya tapi dia menepikan sepedanya. Jesi mengajak Ila untuk duduk sejenak di sekitar sana namun Ila menolak karena kalau dia istirahat akan semakin larut malam sampai di rumah , dia tidak ingin membuat ibunya khawatir.


Namun Ila memang sudah sangat lelah saat itu karena Ila tak dirahasiakan lagi memiliki daya tahan tubuh yang kurang bisa dikatakan kalau dia sangat lelah sekali dia bisa langsung drop jadi ibunya selalu menasehati Ila untuk tidak terlalu capek. Jesi sebagai seorang sahabat sudah mengetahui keadaan Ila seperti itu sehingga dia sedikit khawatir jika Ila mengalami kelelahan yang berlebihan.


Angga yang masih memantau keadaan mereka berdua sangat khawatir dengan Ila dan Jesi karena sudah begini takut ada yang macam-macam dengan mereka. Angga melihat dari kejauhan Jesi memegangi Ila seperti Ila mau pingsan disana. Tak tinggal diam dia mengemudikan mobilnya ke tempat mereka berada dan Angga membantu Jesi yang sepertinya Ila sedang kesakitan saat itu.


“Ayo ikut mobilku saja, nanti biar sepeda motormu supirku yang urus” Ucap Angga



Tanpa banyak bertanya kepada Ila karena situasinya lagi genting, Jesi ikut mobil bos besarnya sambil memegangi Ila dan Ila saat itu tidak banyak berbicara karena dia sudah sangat malas bicara karena menahan sakitnya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2