
Mata yang bertemu satu sama lain, membawa keduanya terenyuh dalam suasana saat itu. Angga yang memegang tangan Ila dengan penuh perasaan, hingga tak sadar kalau tangannya sedang dipegang olehnya.Ila seketika langsung tersadar atas apa yang saat itu terjadi, Angga memegang tangannya dengan penuh kasih sayang. Sontak tangannya terlepas dari jari jemari Angga yang sangat erat memegangnya.
Saat Ila hendak berdiri, Angga langsung menyela.
“Kamu mau kemana?” tanya Angga
“Aku mau siap siap ke kantor.” Ucap Ila
“Kamu istirahat saja di rumah, aku mengizinkanmu untuk istirahat saja dulu. Kamu kan belum pulih benar.” dengan nada yang sedikit khawatir.
“Kamu mengapa tidak pergi ke kantor saja,daripada harus disini?”
“Apakah seorang bos tidak boleh memperhatikan bawahannya.” Ucap Angga sambil meledek.
“Kalau begitu aku saja yang ke kantor dan kau disini saja.” Ucap Ila dan langsung menuju ke dalam kamarnya untuk persiapan ke kantor.
Ibu yang saat itu ada di dapur merasa kaget dan heran dengan Ila yang tiba tiba ke dapur untuk berpamitan kepadanya. Awalnya Ibu tidak menyetujui Ila untuk pergi ke kantor dan saat itu juga Ibu Ila menitip pesan kepada Angga tanpa sepengetahuan Ila kalau dia harus menjaga Ila karena kondisinya saat itu belum benar-benar pulih. Ibu mengantar Ila sampai depan rumah dan tanpa diminta Angga membuka pintu mobilnya, dimana dia berniatan untuk mengantar Ila ke kantor. Ila pada awalnya tidak mau dengan ajakan Angga itu tetapi karena ibunya memaksa untuk menyuruh dia pergi bersama Angga saja karena lebih aman dan untuk menjaga keselamatannya, jadi mau tidak mau akhirnya dia pergi bersama Angga di saat itu juga.
...----------------...
Di dalam mobil mereka diam dengan seribu bahasa, mau tidak mau untum memecahkan keheningan diantaranya, Angga berbicara lebih dulu.
"Apakah kamu haus, aku belikan minum ya?" tanya Angga
"Tidak perlu, aku tidak haus." jawab Ila
Padahal itu hanya basa basi Angga untuk mencairkan suasana.
Perjalanan yang mereka lalui cukup lama karena harus mengalami macet di jalan dan mereka sampai di kantor pun cukup memakan waktu yang lama juga karena Angga harus pulang terlebih dahulu ke rumahnya untuk mengganti pakaian yang ia pakai saat itu dimana sudah terlihat sangat kucel sekali.
Sesampainya di kantor.
Angga selaku bos besar disana tampil dengan gagah penuh wibawa dengan kacamata hitam membuat dia lebih tampan, sedangkan di sisinya ada Ila yang merupakan primadona saat di bangku kuliah dulu yang hari itu tampak lebih cantik dengan dress yang ia pakai meskipun wajahnya agak sedikit pucak tetapi hal itu tidak mengurangi kecantikannya.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada mereka berdua dan tiba-tiba Angga berhenti dan tangga Angga menghalang Ila agar dia berhenti berjalan juga.Banyak karyawan yang bertanya-tanya mengapa bos besar berhenti di jalan dan menyuruh untuk memperhatikannya dan saat itu juga dia mengatakan hal yang cukup menggemparkan.
"Aku ingin menyampaikan, kalau mulai saat ini dan hari ini aku mengangkat Ila sebagai sekretaris pribadiku." ucap Angga tanpa basa basi.
Ila merasa kaget dan tidak menyangka kalau Angga mengatakan hal itu, padahal dia sebelumnya belum mengatakan ini kepadanya.
Angga melakukan hal ini karena dia ingin Ila selalu berada di dalam pengawasannya, ibu Ila sudah menitipkan dia kepadanya untuk selalu aman dan selamat maka dari itu Angga memutuskan untuk dia jadi sekretarisnya.
Mulut Ila hanya tertutup rapat saat itu, dia tidak ingin ribut dengan Angga di depan banyak pegawai disana. Ila menjaga tingkah laku layaknya antara atasan dan bawahan.
Angga bergegas pergi menuju ruangannya dan menyuruh Ila untuk ikut dengannya. Jesi selaku sahabat Ila selama di kantor itu mencoba menenangkan Ila supaya menahan amarahnya.
Saat berada di ruangan Angga, Ila langsung mengatakan isi hatinya.
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Ila dengan nada tinggi
"Jaga sikapmu aku disini atasanmu." ucap Angga
" Mengapa bos memutuskan sepihak, padahal banyak sekali pegawai yang bisa dijadikan sekretaris yang lebih berbakat daripada aku." ucap Ila dengan panjang dan lebar.
"Kamu tidak perlu tahu apa alasanku memilihmu, sekarang kamu silahkan ke ruangan sekretaris. Pindahkan semua barangmu ke ruangan sekretaris yang ada di sebelah sini." perintah Angga
Ila keluar dari ruangan itu untuk mengambil barang-barangnya dan Jesi ternyata sudah ada di pintu keluar.
"Bagaimana?" tanya Jesi
"Tidak ada apa-apa." jawab Ila dengan sangat lemas (dia tidak mau banyak berbicara dulu karena itu menguras energinya, dia tidak mau tubuhnya drop lagi)
"Kamu mau kemana?" tanya Jesi
__ADS_1
"Aku mau ke ruanganku untuk memindahkan barang-barangku yang ada disana."
"Ayo aku bantu kamu."
Mereka berdua menuju ruangan Ila untuk memindahkan barang-barang Ila ke ruangan barunya disana. Semua mata tertuju pada Ila, karena banyak yang heran kepada Ila karena dia masih tergolong baru dan mana bisa mendapat posisi jabatan yang tinggi seperti itu. Akhirnya mereka berdua mempercepat langkah kakinya.
Mereka sampai di ruangan itu, Jesi pun selaku sahabat membantu Ila untuk beberes disana. Angga yang dari kejauhan melihat apa yang dilakukan Ila dan Jesi disana. Dari jarak kauh Angga selalu memantau keadaan Ila.
Setelah selesai beberes, Jesi memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan Ila tak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya atas apa yang ia lakukakan hari ini karena sangat membantu pekerjaannnya
"Aku pergi dulu ya."
"Iya, terima kasih sudah membantuku." ucap Ila
Ila merasa tubuhnya letih dan dia menundukkan kepalanya dengan melipat kedua tangannya didepan tepat diatas meja kerjanya sambil nafas panjang. Dari kejauhan Angga melihat itu semua dan tiba-tiba Angga mendekat ke ruangan Ila dan menyodorkan air minum kepadanya.
"Ini, kamu minum dulu." ucap Angga sebagai bentuk rasa perhatiannya.
Ila yang tanpa banyak berbicara mengambil minuman Angga itu dan langsung meminumnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih namun suara Ila saat itu terdengar lemas.
"Kamu tidak apa-apa kan, kamu pulang saja ya?" tanya Angga
"Tidak perlu, kalau aku tidak kerja hari ini nanti gajiku kena potong."
"Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, aku beri kamu cuti."
"Cuti kan hanya sekali, aku kemarin sudah mengambilnya.' ucap Ila
Angga mengecek suhu badan Ila lewat dahinya.
"Tubuhmu dingin, apakah kamu kedinginan?"
"Aku buatkan kamu teh hangat ya." lanjut Angga
__ADS_1
Angga langsung menuju dapur kantor untuk membuatkan Ila teh hangat agar dia tidak kedinginan lagi."
BERSAMBUNG.