
Sudah beberapa bulan lamanya, rahasia Mira masih dipendam oleh Angga. Kini tak lagi ia rahasiakan sendiri, semakin hari dirinya merasa bersalah jika harus terus memendamnya. Meskipun tak langsung ia laporkan ke polisi, ia akan mengatakan ini untuk pertama kalinya kebenaran itu kepada Ila.
Malam ini Angga mengajak Ila untuk makan malam berdua di restoran.
"Dalam rangka apa kamu mengajakku makan malam seperti ini." (suasana begitu sangat romantis)
Mereka berdua duduk saling berhadapan dengan diiringi instrumen musik yang sangat romantis. Angga mengajak Ila untuk berdansa berdua.
"Kamu sangat cantik malam ini." ucap Angga (sambil berdansa berdua)
Wajah mereka saling mendekat, mereka berdua pun menikmati malam itu. Hingga Ila tersadar kalau yang mereka lakukan tidak benar. Bagaimana bisa Angga mengkhianati Mira.
"Berhenti." (menjauhkan tubuhnya dari Angga)
"Ada apa denganmu?" tanya Angga
"A..a..aku tidak apa-apa. Katanya kamu mengajak aku kemari karena ada hal yang ingin dibicarakan dan itu sangat penting."
Angga mengajak Ila untuk duduk kembali karena hidangan makanan dan minuman sudah datang.
"Selamat makan." ucap Ila dengan tersenyum
"Selamat makan juga." jawab Angga
Setelah selesai menikmati hidangan itu. Angga ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Ila.
"Ada apa? apa ada yang ingin kamu katakan." (melihat ekspresi Angga yang saat itu tampak gelisah).
"A..aku ingin mengatakan pelaku dari kecelakaan ayahmu." ucap Angga (nadanya tampak sangat gugup)
"Kamu sudah tau, siapa? polisi sudah mengabari kamu ya. Ya tuhan syukurlah." kata Ila
Meskipun bertele-tele Angga mengatakan hal itu kepada Ila dengan pelan. Mira adalah orang yang telah menabrak ayahnya hingga meninggal dunia.
"Mana mungkin. Kamu pasti salah dengar." kata Ila (sangat shock dan masih tidak percaya)
"Aku mengatakan kebenarannya."
Ila masih shock saat itu, dia masih tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa. Badannya terasa lemas, dia masih tidak habis pikir. Orang yang selama ini ada di dekatnya tidak bertanggungjawab atas perbuatannya selama ini. Sudah lebih dari 1 tahun dia merahasiakan ini.
Ila menundukkan kepalanya, dia memegangi kepalanya. Tiba-tiba saat itu dia langsung berdiri.
"Aku harus kesana." ucap Ila (pergi meninggalkan meja makan)
"Kamu mau kemana." teriak Angga
__ADS_1
Ila yang berjalan cepat langsung dikejar oleh Angga. Angga bertanya kepada Ila ia mau kemana. Ila ingin pergi ke kantor polisi, dia ingin mencoba mendengar penjelasan dari polisi secara langsung.
"Kamu mau ke kantor polisi, jangan sekarang." kata Angga
Angga mencoba untuk melarang Ila untuk pergi ke kantor polisi hari itu.
"Kita bisa bicara dulu. Aku belum selesai." kata Angga
"Menurutku semua sudah selesai, aku akan meminta polisi untuk segera menangkapnya."
Angga masih terus mencoba melarang Ila. Ila pun merasa heran kepada Angga. Mengapa dia terus saja membujuknya untuk tidak ke kantor polisi.
"Kalau kamu tidak mau mengantarku, biar aku yang pergi sendiri." kata Ila
Angga menuruti Ila dan menarik tangannya agar dia masuk ke dalam mobilnya.
SELAMA DI PERJALANAN.
Suasana hening saat di mobil, Ila sesekali meneteskan air matanya lalu menyekanya kembali. Angga mengetahui situasinya, pasti dia tidak menyangka kalau Mira adalah pelakunya.
"Ila." kata Angga.
"Iya, ada apa."
"Kita jangan ke kantor polisi ya." kata Angga
"Aku masih tidak mengerti, mengapa kamu terus saja mengatakan ini."
"Mengapa kamu berhenti? kamu tidak ingin mengantarku. Baiklah aku akan turun dan pergi sendiri." ucap Ila
Di saat hendak membuka pintu, Angga menutup pintu mobilnya secara otomatis sehingga Ila tidak bisa keluar dengan begitu saja.
"Dengarkan aku Ila, sebenarnya polisi tidak mengetahui kalau Mira adalah pelakunya." ucap Angga (berkata dengan cepat sambil menutup mata)
Ila yang menghadap membelakangi Angga langsung menengok ke arahnya.
"Apa kamu bilang?" tanya Ila.
"Iya, polisi tidak mengetahui ini."
"Lalu bagaimana kamu tahu, Mira adalah pelakunya." ucap Ila
Angga mengatakan kepada Ila kalau dirinya mengetahui ini ketika Mira menemui Kakek Danu di desanya dan dia mendengar semua percakapannya.
"Jadi kamu tahu, dan kamu tidak segera melaporkannya."
" Maafkan aku, hampir 5 bulan aku menyembunyikan ini."
(Ila memotong perkataan Angga saat itu)
__ADS_1
"5 bulan kamu bilang? itu tidaklah sebentar. Selama ini kamu menyembunyikan dariku, setiap aku tanya kepadamu bagaimana dengan pelaku penabrakan ayah kamu selalu bilang tidak ada kabar. Kamu pembohong yang hebat." kata Ila
"Aku terus mencoba mempercayaimu dan aku selalu berpikir kamu membantuku untuk kasus ayah ini ternyata aku salah." lanjut Ila
Ila mengungkapkan semua kekecewaannya kepada Angga. Ila selalu mempercayainya, tetapi dia dengan teganya membohonginya. Dia tahu pelakunya, tetapi dia tidak memberitahunya. Angga membiarkan saja orang yang bersalah berkeliaran dengan semaunya.
"Aku mohon jangan laporkan Mira sekarang." kata Angga (Angga mempunyai alasan mengatakan ini karena dia tahu konsekuensi yang akan diambil untuk ini)
Angga menginginkan agar bergerak dengan hati-hati karena Mira sangatlah berbahaya untuk ini. Namun saat itu Ila tidak mau mendengarkan Angga. Dia masih berpikir kalau Angga memihak pada Mira yang jelas-jelas bersalah.
"Kamu minta untuk aku tidak melaporkan Mira, bagaimana bisa." ucap Ila.
"Dengar-dengarkan aku." kata Angga
"Stop, aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu. Semuanya sudah jelas, tolong buka pintunya aku mau keluar." kata Ila
Angga tidak mau Ila keluar, dia terus memegang tangan Ila agar dia mau mendengar penjelasannya tetapi dia terus saja menepis dan berusaha melepaskannya.
"Aku bilang buka, kalau tidak aku akan memecahkan kaca ini dengan tanganku." kata Ila (Ila saat itu menangis dan dengan berteriak dia mengatakan ini)
Angga menuruti perkataan Ila. Dia membuka pintunya dan Ila keluar dari sana.
"Kamu mau kemana? tunggu aku mohon." kata Angga (mengejar Ila)
Angga dapat meraih Ila dengan memeluk tubuhnya dari belakang. Ila tidak mau dengan hal itu, dia berusaha melepaskan pelukan itu. Namun pelukan Angga semakin erat kepadanya.
"Lepaskan aku, aku tidak mau bicara dengan pembohong sepertimu." kata Ila
"Aku tidak seperti itu, dengarkan penjelasanku." ucap Angga.
"Aku tidak mau...aku tidak mau.. aku tidak mau bicara padamu." (Ila menangis sejadi jadinya, dirinya sangat marah kepada Angga dan saat itu sangat emosional)
Ila masih tidak bisa berpikir secara jernih. Angga mengerti dengan keadaan Ila, dia terus mengatakan agar Ila tetap tenang.
Tiba-tiba di depan mereka ada mobil berhenti. Itu adalah mobil Kak Bima. Saat itu Kak Bima melihat Ila yang menangis dan bertengkar dengan Angga. Melihat itu semua Kak Bima datang.
"Plakkk...." (Kak Bima menampar )
"Itu pelajaran buat kamu, yang terus saja memaksa Ila. Lepaskan tangannya." ucap Kak Bima.
Angga pun tak tinggal diam, dia pun melepaskan tangan Ila dan dia ingin membalas tamparan dari Kak Bima. Namun Ila menghentikannya, karena dia tahu Angga ingin membalasnya.
"Hentikan." kata Ila dengan berteriak.
Semua dari mereka disana melihat ke arah Ila.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)
Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏