Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 8 : 8 BULAN KEMUDIAN


__ADS_3

Hari demi hari, selama Ila menjadi mahasiswa dia melewati hidupnya dengan penuh semangat. Kini dia sudah mengerti dan mulai terbiasa dengan suasana di kampusnya itu.


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Ila yang sebentar lagi naik ke tingkat 2 tepatnya di semester 3 sudah bisa mengambil banyak pengalaman dan mendapatkan segudang prestasi yang membanggakan kampus dan orang tuanya.


Hal ini terjadi karena dia sangat aktif dalam berorganisasi, tak lupa dia mempunyai semangat yang membara di hatinya untuk selalu belajar dan belajar.


Oleh karena itu Ila adalah seorang mahasiswa yang bisa dikatakan terkenal, hampir seluruh mahasiswa di kampusnya itu mengenal sosoknya sebagai penulis yang handal.


Banyak sekali orang yang menyukai Ila namun banyak juga yang tidak menyukainya , salah satunya dia dulu pernah menjadi teman dan sekarang dia sangat benci sekali dengannya, tak salah lagi itu Mira. Mira semakin benci kepada Ila karena dia tetap saja dekat dengan Angga.


Hubungan Ila dan Angga pun lambat laun semakin mencair dan baik, Ila sekarang sudah mulai mengenal Angga karena dia pernah satu kelompok dengannya. Ila sudah menganggap Angga layaknya seorang teman. Sedangkan hubungannya dengan Mira sekarang hanya pasrah saja, dia sudah minta maaf berkali kali namun Mira tetap saja begitu padahal Ila tidak bermaksud melukainya.


...****************...


Saat jam istirahat tiba...


"Ayo kita makan, La?" ajak Angga


"Aku tadi di bawakan bekal sama ibu, kamu saja sendiri sana."


"Kamu kan bisa makan disana, ayo temani aku masa aku sendirian kebetulan ini teman teman cowok lain lagi pada sibuk ngerjain tugasnya yang belum selesai." (dengan nada membujuk)


Tanpa pikir panjang, tangan Ila di tarik oleh Angga.


Ila pun mau tidak mau harus menurutinya. Ila sudah sangat hafal dengan sikap Angga yang seenaknya sendiri.


...****************...


Mereka sudah sampai kantin, memesan dan duduk berdua layaknya seseorang yang berpacaran.


Memang banyak kabar yang menjadi gosip di kalangan mahasiswa lainnya kalau Ila dan Angga telah berpacaran. Namun hal inj tidak benar, yang sebenarnya mereka hanya berteman baik dan menjadi lebih dekat karena mereka satu kelompok belajar. Ila santai menghadapinya karena menurutnya masih wajar, ia pun menghiraukan gosip gosip seperti itu.


Di sisi lain ada Kak Bima yang mendengar gosip itu menjadi cemburu. Kesempatan Kak Bima untuk mendekati Ila menjadi sirna begitu saja dan Kak Bima memang belum sempat menanyakan kebenaran hal itu kepada Ila.


Setelah Ila dan Angga selesai makan.


" La, pulang kuliah ini aku mampir ke rumahmu ya. Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengan ibumu." Kata Angga


" Hari ini aku ada kumpul organisasi." Jawab Ila

__ADS_1


" Yah..sayang sekali."


Angga dan Ila kembali ke ruang kelasnya.


Angga yang selalu diam diam memperhatikan wajah Ila yang cantik tanpa di ketahuinya setiap perkuliahan berlangsung dan selalu memiliki banyak alasan agar mengobrol dengan Ila seperti


" Ila aku pinjam bolpoinmu"


" Ambil sendiri di kotak pensilku." (dengan pandangan tetap fokus ke dosen)


" Baiklah." Jawab Angga


Sepertinya Angga sudah mulai jatuh cinta kepada Ila dan dia akan menutupi perasaannya itu dulu.


...****************...


Perkuliahan telah selesai, semua mahasiswa bisa meninggalkan ruang kelas.


Kali ini Ila akan berkumpul dengan teman-teman organisasinya. Mereka akan membahas mengenai sambut maba untuk ajaran baru di tahun depan.


Kak Bima selaku ketua organisasi juga ada disana, begitu juga Mira. Mereka pun saling menyampaikan pendapatnya mengenai program kerja tersebut. Saat Ila menyampaikan pendapat semua sangat kagum kepadanya kecuali si Mira. Mira malah menentang pendapat Ila itu.


Rapat telah berakhir dan mereka sudah menemukan jalan yang terbaik untuk kedepannya. Setelah rapat selesai, Ila pun langsung bergegas pulang karena tidak ingin orang tuanya khawatir padanya.


"Ila, mau bareng pulang sama aku?" tanya Kak Bima


" Tidak Kak, nanti jadi merepotkan kakak. Arah rumah kita kan berbeda." ucap Ila


"Tidak apa-apa, sekalian aku mau membeli sesuatu untuk ibuku dan arahnya sama dengan rumahmu."


Ila diam sejenak dan memikirkan apakah dia harus menerima tawaran Kak Bima itu. Dia sangat takut nanti ada gosip yang beredar lagi tentang dirinya yang dekat dengan seorang ketua di organisasinya.


Mira dari kejauhan melihatnya dan dia langsung mengeluarkan ponselnya dari saku untuk segera memotret momen langkah itu.


"Ila kenapa kamu diam, ayolah." ajak Kak Bima (tanpa jawaban Ila, Kak Bima langsung menggenggam tangan Ila dan mereka pun menuju parkiran)


Saat perjalanan pulang Ila dan Kak Bima saling berbincang di sepeda montor. Mereka terlihat sangat akrab saat itu.


Tiba-tiba ada masalah dengan mereka, sepeda montor Kak Bima mogok. Mereka berdua pun jalan kaki mencari tempat bengkel dekat sana, untungnya tak jauh dari tempat mogok bengkel itu sudah ditemukan.

__ADS_1


Daripada mereka menunggu disana, Kak Bima mengajak Ila menunggu di cafe dekat sana. Cafe itu berada di jauh dari bengkel, hanya dengan jalan kaki sudah sampai.


Hari petang dan awan mulai menghitam. Hujan turun saat mereka dalam perjalanan menuju cafe, Kak Bima saat itu langsung melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala Ila. Mereka pun berlari dan segera berteduh di sebuah halte bis disana.


Mereka duduk bersama disana, namun Ila merasa kedinginan dan mengigil karena yang diketahui dia habis kehujanan.


"Kamu kenapa, Ila? " tanya Kak Bima (dengan wajah panik karena merasa bersalah)


" hmmm..ini kak." (dengan meniup tangannya agar hangat)


Seketika Kak Bima langsung meraih tangan mungil Ila dan meniup sambil menggosokkan tangannya agar Ila tidak kedinginan lagi.


Mata mereka saling bertemu, mereka berdua merasa sangat dekat sekali. Ila sangat kaget melihat Kak Bima yang sangat memperhatikannya.


"Sudah kak, biar aku saja yang melakukannya. Kak Bima pasti juga kedinginan kan." ucap Ila (merasa tidak enak dengan Kak Bima)


Di saat Ila hendak melepaskan tangannya, Kak Bima tidak akan membiarkan itu terjadi dia langsung meraih tangan Ila kembali.


"Kamu sedang apa, biarkan aku membantumu menghangatkannya." ucap Kak Bima (sambil tetap menghangatkan tangan Ila)


Mereka tetap disana hingga hujannya reda. Saat hujan sudah mulai reda, mereka memutuskan untuk kembali saja ke tempat bengkel.


Telah selesai semua, mereka perjalanan ke rumah Ila.


"Apakah kamu tidak marahi orang tuamu, pulang malam?" (dengan mengendarai sepeda motornya)


"Sebenarnya aku takut ibu khawatir kepadaku, ponselku dari tadi mati karena baterainya habis jadi aku tidak bisa mengabari ibu."


" Baiklah, aku akan ngebut sekarang. Tolong kamu pegangan yang erat ya." perintah Kak Bima


Ila mencoba berpegangan ke Kak Bima, namun Kak Bima memegang tangan Ila berniat untuk dia agar lebih erat dalam berpegangan.


Kak Bima hanya mengantar Ila hanya di depan gang rumahnya karena dia terburu buru membelikan sesuatu untuk ibunya takut tokonya tutup.


"Ini kak, jaket kakak."


"Kamu pakai saja, itu bisa kamu kembalikan kapan saja. "


"Terima kasih kak, aku pergi dulu ya."

__ADS_1


Saat Ila hendak memalingkan badannya untuk pergi, Kak Bima saat itu turun dari sepeda sambil melepas helm dan langsung meraih tangan Ila. Kak Bima yang sudah tidak tahan memendam perasaannya itu menarik Ila kedalam pelukannya, karena hal itu Ila merasa heran.


BERSAMBUNG...


__ADS_2