
Hari ini adalah hari libur Ila bekerja, dia ingin membantu ibunya untuk melakukan pekerjaan rumah. Adik Ila yang kini sudah tumbuh semakin besar, sudah semakin rajin membantu ibu jika Ila masih ada di kantor. Ila di hari itu ingin sekali berada di rumah untuk menghabiskan waktunya di rumah saja dan dia tidak ingin keluar rumah. Dia sangat kangen dengan pelukan dan perhatian ibunya yang sudah lama tak ia dengarkan karena kesibukannya di kantor. Selama ini Ila berangkat pagi dan pulang juga malam hari, jadi sangat jarang sekali bertemu ibunya. Karena saat dia berada di rumah itupun di waktu malam, semua orang sudah tidur dengan pulas.
Di ruang makan..
"Selamat pagi, semuanya." ucap Ila dengan penuh semangat
"Kamu hari ini tidak kerja, nak?" tanya ibu sambil menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya
"Tidak bu, aku hari ini libur." kata Ila
"Kak, ayo antar aku ke sekolah. Kakak kan sudah jarang sekali keluar rumah untuk mengantarku, sekalian bisa menyapa tetangga-tetangga yang ada di sekitar.
"Iya nak, antar adikmu. Kan sudah lama sekali tidak diantar sama kakak tercintanya." kata ibu sambil meledek
Suasana sarapan pagi keluarga Ila sangat amat rukun sekali sehingga keluarga-keluarga lain yang lain melihat hal tersebut pasti akan dibuat iri. Sayang saja kurangnya sosok tulang punggung yaitu ayah di keluarga tersebut. Namun hal itu tidak mengurangi rasa harmonis dari keluarga Ila.
Setelah selesai makan, semua piring dijadikan satu dan Ila siap untuk mencuci piring-piringnya.
"Bu, sini biar aku yang mencucinya." ucap Ila
"Tidak perlu, nak. Kamu siap-siap dulu saja buat antar adikmu. Nanti dia terlambat."
"Cuci piring cuma sebentar bu, tidak sampai 5 menit." kata Ila dengan sedikit memaksa
Akhirnya Ibu Ila hanya diam membiarkan putrinya untuk melakukan apa yang dia mau. Ila menyuruh ibunya untuk beristirahat saja duduk dengan manis biarkan putrinya itu melayani dia.
Mengantar adik ke sekolah..
Dalam perjalanan menuju ke sekolah, Ila dan adiknya berangkat dengan jalan kaki. Hal ini sudah sering mereka lakukan setelah kepergian ayahnya.
__ADS_1
"Kak, bagaimana kabar kak Angga?"
"Kak Angga baik-baik saja, mengapa kamu tanya dia?"
"Kangen kak, sudah lama aku tidak bertemu kak Angga. Salam untuk kak Angga ya kak."
Ila hanya mengangguk menandakan kalau dia menuruti perkataan adiknya itu.
Setelah mengantar adiknya sampai di sekolah, Ila kembali ke rumah. Tiba-tiba dalam perjalanan pulang, ada mobil yang berhenti di samping Ila.
Ila saat itu sangat kebingungan, mobil siapa yang berada di sampingnya itu dan terus saja membuntutinya. Karena merasa risih, Ila memberanikan diri untuk mengetuk kaca pintu mobil itu.
Tok...Tok..Tok...Tok..(Suara ketukan pintu kaca mobil)
Kaca mobil itu langsung terbuka dan betapa kagetnya melihat sosok laki-laki yang sudah tak asing lagi di mata Ila saat itu.
Ila masih belum menyangka kalau itu Kak Bima, laki-laki yang pernah menyatakan perasaannya dulu kepadanya sekaligus kakak pendampingnya saat ospek di kampus. Kak Bima yang saat itu sudah melihat Ila, dia menaruh mobilnya itu di tepi jalan dan turun menuju ke hadapan Ila.
Mereka berdua saling bertatapan, Kak Bima dengan tatapan yang dalam dia tak mau berpaling dari wajah Ila yang menurutnya semakin bertambah tahun kecantikan Ila tak tergantikan oleh wanita manapun yang pernah ia dekati.
"Apa kabar, Il?" tanya Kak Bima
"Aku baik-baik saja kak, bagaimana kabar Kak Bima?"
"Aku juga baik-baik saja."
__ADS_1
Ila meminta maaf kepada Kak Bima karena tidak melihatnya saat di mobil tadi. Suasana pun terasa canggung saat itu. Mereka pun saling menanyakan kabar satu sama lain dan tanpa banyak berpikir panjang, Kak Bima mengajak Ila untuk pergi ke suatu tempat yang cocok untuk mengobrol bersama dia disana.
"Kamu ikut aku, Il." ucap Kak Bima
"Mau kemana kak?"
"Aku tidak tahu, tapi karena ini pertemuan pertama kita setelah sekian lama tak bertemu bagaimana kalau kita cari tempat untuk kita mengobrol. Bagaimana? apakah kamu setuju?"
Ila pun dengan sangat ramah menolak ajakan dari Kak Bima, karena dia telah janji kalau hari ini dia ingin di rumah saja untuk membantu ibunya melakukan pekerjaan. Mendengar hal itu, Kak Bima langsung mengusulkan kepada Ila, kalau dia ingin bermain saja ke rumah Ila. Karena merasa tidak enak, Ila menyetujui permintaan dari kakak seniornya itu.
Mereka berdua pun naik mobil Bima menuju rumah Ila. Beberapa menit kemudian sesampainya di rumah Ila, ada ibu yang sedang menjemur pakaian di luar dan tanpa sengaja melihat mereka berdua. Kak Bima dengan sikap hormatnya langsung menyalami ibu Ila dan ibu mempersilahkan Kak Bima untuk masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu.
"Maaf ya, rumah Ila ya sederhana seperti ini. Biar ibu buatkan nak Bima minum."
"Tidak perlu repot-repot bu." ucap Bima
Mendengar hal itu semua, Ila tidak akan membiarkan ibunya menyiapkan itu semuanya. Akhirnya Ila yang menyajikan minuman untuk Kak Bima saat itu. Mereka berdua pun asik dalam bernostalgia mengenai kehidupan semasa di kampus dulu, dimana Ila adalah adik tingkat yang Kak Bima dampingi waktu itu. Mereka tertawa bersama, namun Kak Bima tidak menyinggung masalah kalau dia pernah menyatakan cintanya pada Ila. Ila pun mencegah percakapan itu terjadi diantara keduanya, karena dia merasa tidak enak saja kalau membahas momen itu.
"Oh iya, kamu sekarang kerja dimana?" tanya Kak Bima.
"Itu kak, aku di Perusahaan Primadi."
"Kamu disana? aku tahu itu, perusahaanku juga banyak berinvestasi disana Perusahaan Primadi."
Ila pun menceritakan kehidupannya selesai menjalani kuliah sampai dia bisa diterima kerja. Ila merasa tak asing lagi dengan Kak Bima setelan berjam-jam mereka bercengkrama. Suasana yang semula dingin dan agak canggung, kini sudah mulai mencair. Kak Bima juga terbawa dengan suasana saat itu, wajahnya terlihat sangat bahagia bisa bertemu dengan Ila lagi. Kak Bima juga selama ini belum bisa move on dari Ila, dia masih menyimpan perasaan suka terhadap perempuan yang ada dihadapannya saat itu. Hingga tiba saatnya topik yang mereka bicarakan menjadi lebih serius.
"Apakah kamu sudah punya pacar Il?" tanya Kak Bima dengan wajah sedikit takut atas pertanyaannya yang ia lontarkan tadi.
Ila menggerakkan jari-jari tangannya yang menandakan kalau dia dalam situasi yang tidak nyaman saat itu. Ila sangat menghindari pertanyaan seperti ini, tetapi Kak Bima secara terang-terangan menanyakan secara langsung kepadanya.
__ADS_1
Bagaimana cerita selanjutnya, stay tune terus ya :)
BERSAMBUNG..