Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 22 : BIMBANG


__ADS_3

Matahari mulai menyinari rumah Ila.Ila yang saat itu masih terlelap ditemani Angga yang tetap berada di sisi Ila, hingga Ila pun terbangun dari tidurnya.



Dalam benaknya, Ila merasa bingung sekaligus heran, dia bertanya-tanya dalam hatinya.


"Mengapa dia masih ada disini?"


Karena ingin menghirup udara di luar, Ila bangun dari tempat tidurnya dan sontak itu semua membuat Angga kaget.


Tanpa mereka sadari, kedua mata pun saling bertatap mereka berdua pun saling memandang satu sama lain, matanya penuh rasa kekhawatiran terhadap keadaan Ila saat itu.


"Andai kamu tahu, aku berusaha untuk melupakanmu meski kita hanya sekedar teman tapi tetap saja hati ini seakan akan mengarah kepadamu, aku ada hati denganmu sejak di bangku kuliah. Namun apakah tidak ada sedikit saja pintu maaf untukku di hatimu?". luapan hati Angga kepada Ila.


Di sisi lain Ila juga berkata dalam hatinya. "Aku tidak membecimu karena sifatmu, aku hanya benci pada keadaanku. Aku tahu kamu laki-laki baik, tapi aku juga tahu keluargamu yang menyebabkan ayahku meninggal . Aku bingung dengan diriku sendiri apakah aku harus menerimamu lagi di dalam kehidupanku?"


Lamunan seketika hilang, saat Ibu datang ke kamar Ila untuk membawakan sarapan pagi.


Angga saat itu langsung berniatan untuk menyuapi Ila, tapi Ila hendak pergi dari tempat tidurnya karena dia sudah mulai bosan dan ingin menikmati udara yang sejuk di teras depan.


"Apa kamu butuh sesuatu? biar aku ambilkan." ucap Angga


Ila hanya menggelengkan kepala sebagai tanda kalau dia tidak membutuhkan sesuatu saat itu.


Ila pergi dari kamarnya tanpa mengatakan satu kata apapun dan Angga mengikuti Ila dari belakang karena takut ada sesuatu yang terjadi padanya.


...----------------...


Di teras rumah



Ila menuju teras rumah, tak lama kemudian Angga berada di sampingnya.


"Mengapa kamu mengikutiku?." tanya Ila


" Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkanmu."


Karena tidak mau terbawa perasaan karena kebaikan hati Angga dan tak mau Angga selalu berada di dekatnya, Ila masuk lagi ke dalam rumah dan meninggalkan Angga di teras sendirian.


Angga pun merasa bingung dengan sikap Ila.


"Dia bilang mau ke teras, tapi saat aku ingin menemaninya dia malah pergi masuk lagi


Menghela nafas panjang

__ADS_1


Aku tidak boleh menyerah sampai dia mau membuka hatinya untukku." ucap Angga dengan optimis.


...----------------...



Ila memandangi vas bunga di ruang tamu sambil memikirkan keadaannya saat itu.


"Apa yang harus aku perbuat, apa sikapku saat ini sudah benar kepadanya? apakah aku termasuk orang yang jahat karena membenci orang baik seperti dia?" tanya Ila kepada dirinya sendiri.


Angga yang semula ada di luar, sudah masuk ke dalam rumah dan melihat Ila yang saat itu sepertinya merasa sedih.



Kenapa wajahnya terlihat sedih seperti itu." tanya Angga.


Ibu yang melihat mereka berdua di ruang tamu, merasa ada yang aneh dan memecahkan suasana disana.


" Nak, kenapa makanan di kamarmu masih utuh, apakah kamu belum makan?"


" Belum bu, aku tidak lapar."


" Ibu kan sudah bilang, kamu harus menjaga kesehatanmu nak, jangan sampai telat makan." ucap Ibu penuh perhatian kepada anaknya.


Ibu bergegas menuju kamar Ila untuk mengambil sarapannya, namun Angga berkata "Bu, biar aku saja yang mengambilnya." ucap Angga


"Ibu tinggal dulu ya, Angga pastikan Ila makan yang banyak ya."


Angga hanya senyum dan mengangguk.


Angga mencoba menyuapi Ila, namun Ila mengelak dan berusaha mengambil sendok dari tangan Angga.


"Apa yang kamu lakukan?"


" Sini aku makan sendiri saja." ucap Ila


" Aku kan sudah bilang, aku akan menyuapimu."


Dengan penuh paksaan akhirnya Ila luluh dan mau disuapin oleh Angga.


Makanannya pun habis tanpa tersisa.


Setelah itu, mereka berdua saling memandang satu sama lain di ruang tamu.


__ADS_1


"Mengapa kamu menatapku seperti itu? apakah kamu kangen dengan masa kita dulu" tanya Angga sambil senyum meledek.


Ila diam sejenak dengan wajah yang serius tanpa senyum dibibirnya itu lalu dia berkata.


" Mengapa kamu lakukan ini kepadaku?" tanya Ila


" Aku lakukan apa kepadamu?" Angga merasa bingung karena menatap wajah Ila saat itu sedang berkaca-kaca seperti mau meneteskan air mata.


" Ada apa denganmu? apakah aku membuat kesalahan?" lanjut Angga


" Berhenti lakukan ini kepadaku, jangan buat aku merasa bersalah kepadamu." ucap Ila


Angga sudah mulai memahami apa yang Ila bicarakan saat itu.


" Kenapa? apa aku salah melakukan ini kepadamu?" tanya Angga


" Iya kamu salah, kamu sudah tahu aku tidak ingin kamu ada di kehidupanku kalau bisa kamu jauh dariku." ucap Ila


Mereka saling memandang satu sama lain, Ila yang sudah tak sanggup menatap wajah Angga apalagi matanya langsung seketika memalingkan wajahnya dan menyeka air matanya yang hampir jatuh ke pipi.


" Kenapa? kenapa kamu memalingkan wajahmu Ila. Apakah perkataanmu itu jujur dari hatimu?" tanya Angga kepada Ila dengan menanyakan seribu pertanyaan yang ada di dalam hatinya.


Tanpa melihat wajah Angga, Ila mengatakan banyak hal kepada dia.


" Sekarang aku tanya kepadamu, semua yang kamu lakukan padaku memang buat apa? aku sudah dengan jelas mengatakan kepadamu kalau aku tidak ingin dekat denganmu lagi, kita cukup sama-sama tahu saja, cukup antara atasan dengan bawahan."


Mereka terdiam memikirkan itu semuanya dan tiba saatnya Angga mengatakan sesuatu kepada Ila.


"Aku hanya ingin kita seperti dulu lagi, menjalin persahabatan."


Dalam hatinya Angga berkata "tidak hanya itu saja, aku juga ingin selalu ada di dekatmu dan menjagamu sebagai bentuk permintaan maaf dariku karena telah mengambil sosok laki-laki yang kamu sayangi."


Ila mengatakan panjang lebar kepada Angga yang dimana Ila mengatakan kalau alasannya benar-benar sungguh tidak masuk di akal. Ila sudah sangat terus terang mengatakan kalau dia tidak ingin Angga ada di kehidupannya, dia menjadi pegawai di kantornya itu hanya terpaksa karena harus menghidupi keluarganya saat ini.


Angga mencoba mendekat ke sebelah Ila dimana Ila duduk, tapi Ila menggeser badannya menjauhi Angga.


"Kamu dengarkan aku, apakah tidak ada pintu maaf dihatimu untukku?" tanya Angga


Ila hanya terdiam dan menundukkan kepala seraya memalingkan wajahnya ke kanan kiri karena dia tidak mau air matanya menetes di depan laki-laki itu.


"Kamu diam." ucap Angga


Angga mencoba lagi memindah posisi duduknya lebih mendekat kepada Ila, hingga sampai Ila tidak bisa berpindah posisi kemana-mana.


"Apa yang kamu lakukan, apa mau mu?" tanya Ila kepada Angga , suaranya agak terdengar lirih karena dia menahan air matanya itu.

__ADS_1


Angga pun mencoba meraih tangan Ila dan kedua mata saling bertemu satu sama lain.


BERSAMBUNG.


__ADS_2