Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 53 : PEREBUTAN SENGIT


__ADS_3

Angga sangat menyesal karena selalu menyalahkan Ila. Ila telah berkorban demi Perusahaan Primadi, oleh karena itu Angga tidak akan tinggal diam.


Saat Angga dan Jesi hendak pergi dari cafe, terlihat ada Kak Bima yang disampingnya Ila tampak baru datang.



Angga seketika langsung menghampiri meja mereka berdua. Jesi pun mengikuti bos nya itu dari belakang. Angga berdiri di depan Ila, ia ingin mengajak Ila pergi.


"Ayo ikut aku." kata Angga (menarik tangan Ila)


Kak Bima melepaskan tangan Angga yang menggenggam tangan Ila.


"Mau kemana? kamu harus izin denganku jika ingin membawa pergi sekretarisku." ucap Kak Bima.


Mereka berdua bagaikan mengikuti pertandingan. Hubungan antara kakak tingkat dengan adik tingkat yang bisa dikatakan dulu tidak ada masalah, kini menjadi pertarungan yang sengit. Pertarungan untuk memperebutkan Ila.



Ila saat itu berada di situasi yang sulit, satu sisi dia senang jika Angga masih mengajaknya untuk bicara tetapi di lain sisi ada Kak Bima yang kini menjadi atasannya sehingga segala apapun jika masih jam kerja dia harus izin terlebih dahulu.


Saat itu meskipun Kak Bima melarang Angga untuk membawa Ila pergi, Angga tetap saja memaksa untuk membawanya. Ila saat itu ada reaksi penolakan terhadap ajakannya, tangan dia berusaha untuk melepasnya dari Angga.


"Nanti saja Angga, aku mohon. Aku sekarang lagi kerja." kata Ila berusaha membujuk Angga.


"Aku tidak peduli, aku mau sekarang kamu kembali bekerja denganku."


"Tidak semudah itu, aku mohon padamu lepaskan tanganku. Kita bisa bicarakan ini nanti."


Angga terus saja melangkah kakinya membawa Ila pergi. Jesi disana mengikuti mereka pergi.


Di saat Ila masuk ke dalam mobil, Kak Bima mengehentikannya. Dia menarik Ila dan membawa dirinya di belakang tubuhnya, lalu dia memukul Angga dengan keras. Angga pun melawan balik Kak Bima.


Disana terjadi perkelahian antara mereka berdua. Ila yang disana tidak tinggal diam, dia berusaha menjadi penengah di antara perkelahian mereka. Tanpa sengaja pukulan yang akan diluncurkan ke muka Kak Bima terkena wajah Ila hingga membuat Ila jatuh pingsan.


"Apa yang kamu lakukan." kata Kak Bima dengan teriak.


Kak Bima sangat marah karena Angga menyakiti Ila, dia hendak melanjutkan perkelahian itu tetapi Jesi mengehentikan mereka berdua dan mengajaknya untuk membawa Ila ke rumah sakit dengan segera.


Mereka semua mengantar Ila untuk ke rumah sakit.


Jesi tampak khawatir dengan keadaan Ila, di ruang tunggu di mondar-mandir menunggu kabar dari kondisi Ila.


"Ini semua gara-gara kalian." kata Jesi kepada Angga dan Kak Bima


"Inj semua gara-gara kamu." ucap Kak Bima kepada Angga.


"Siapa yang memulai perkelahian ini? itu kau." kata Angga kepada Kak Bima

__ADS_1


Mereka pun saling menyalahkan satu sama lain. Tak lama kemudian dokter keluar dan memberikan kabar kalau keadaan Ila baik-baik saja.


Jesi yang mendengarnya merasa lega begitu juga dua lelaki itu.


"Saya lihat kondisi Ila ya, dok." kata Jesi


"Iya silahkan."



Kak Bima dan Angga juga ingin ikut untuk melihat kondisi Ila tetapi saat di pintu, Jesi menghentikan mereka berdua. Jesi melarang mereka berdua untuk melihat Ila.


"Apa yang kamu lakukan, buka pintunya." kata Angga


"Dasar anak buahmu, berani sekali dia melarangku untum bertemu Ila." ucap Kak Bima.


Terpaksa mereka berdua harus menunggu di luar.


Saat Jesi melihat Ila, dia sudah merasa baik-baik saja dan mengatakan kepada Jesi kalau dirinya ingin pulang. Jesi pun menuruti permintaan Ila itu dan kebetulan dokter juga mengizinkan Ila untuk pulang tanpa harus rawat inap.


"Ayo aku bantu kamu untuk jalan." kata Jesi (melihat kondisi Ila yang masih lemas)


"Terima kasih." ucap Ila


Saat mereka keluar dari ruangan, di luar hanya terlihat Kak Bima saja. Ila mencari di sekitarnya tetapi tidak ditemukan batang hidung Angga.


"Tidak ada."


Kak Bima pun menghampiri Ila dan Jesi.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kak Bima


"Aku baik-baik saja."


"Aku akan mengantarmu." ucap Kak Bima


"Oh..tidak perlu. Aku dengan Ila bisa naik taksi."


Kak Bima terus memaksa Ila agar dia mau untuk ia antar pulang. Akhirnya Ila dan Jesi memutuskan untuk pulang bersama Kak Bima.


PERJALANAN PULANG.


"Melihat kondisimu yang seperti ini, untuk pekerjaan besok kamu bisa libur dulu." kata Kak Bima.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja." jawab Ila.


"Terserah kamu saja, kalau kamu merasa masih lemas kamu bisa ambil libur. ucap Kak Bima.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, sudah sampai di rumah Ila. Jesi juga ikut turun kecuali Kak Bima saat itu tidak bisa ikut turun karena ada urusan pekerjaan yang belum terselesaikan.


...****************...


Di saat Ila sampai di rumah, ada ibu yang membukakan pintu. Ibu melihat kondisi Ila saat itu terlihat pucat dan lemas. Ibu sangat khawatir karena tidak biasanya dia seperti ini.


"Ada apa ini?" tanya Ibu


"Tidak apa-apa bu, aku hanya terasa lelah hari ini."


Jesi pun membantu Ila untuk berjalan langsung menuju kamarnya karena Ila harus beristirahat.


Ibu membuatkan teh hangat untuk Ila maupun Jesi. Di kamar, Ila beristirahat ditemani sahabatnya Jesi dan Ibunya. Jesi disuruh ibu untuk menginap saja, karena saat itu cuacanya sedang hujan deras.


Mereka berdua dalam satu kamar yang sama. Jesi tidur di samping kanan Ila. Tak terasa pula hari itu sudah larut malam, tetapi mereka berdua masih saja mengobrol.


"Kamu tahu tidak, reaksi Pak Angga tadi saat kamu diperiksa dokter." kata Jesi


"Memang kenapa?"


"Aku lihat dia sangat sayang kepadamu."


"Mengapa kamu bisa bicara begitu?" tanya Ila


Jesi menceritakan kepada Ila, apa yang ia lihat saat di rumah sakit. Saat itu Jesi melihat, Angga sedang memukul tembok dengan tangannya sambil menyalahkan dirinya sendiri. Tangannya saat itu sampai terluka.


"Bodoh..bodoh mengapa aku lakukan itu bodoh bodoh, seharusnya aku tidak menyakiti orang yang aku sayangi." (kalimat itu yang di dengar oleh Jesi).


"Dia rela menyakiti dirinya sendiri hanya untuk menyesali perbuatan yang tidak ia sengaja." kata Jesi.


"Lalu, bagaimana kondisi tangannya? apakah baik-baik saja?" tanya Ila


Jesi melihat waktu itu, tangannya telah di perban dan sepertinya dia sudah melakukan perawatan untuk itu.


"Sangat kebiasaan sekali dia melakukan hal seperti itu." ucap Ila dalam hatinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Jesi


"Tidak ada, aku hanya merasa bingung dengan situasi sekarang. Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Jesi diam sejenak, untuk memikirkan itu semuanya. Saat itu situasinya sangat sulit hingga dia harus berpikir keras untuk itu.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2