Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 37 : BUKTI DI TEMUKAN?


__ADS_3

Angga hari ini sedang mencari bukti kalau keluarganya tidak bersalah atas kecelakaan yang menimpa ayah Ila. Pagi-pagi sekali Angga pergi ke tempat kejadian perkara tanpa harus pergi ke kantor terlebih dahulu. Dia mencoba mencari tahu disana, apakah masih ada bukti yang bisa ia temukan kalau kakaknya bukanlah yang bersalah pada kecelakaan yang menimpa ayah Ila itu.



Angga pun mencari bukti di sekeliling tempat kecelakaan itu. Angga sangat lama sekali berada di tempat itu, karena dia tidak menemukan bukti apa-apa saat itu. Cuaca yang semakin panas, matahari yang sangat terik membuat Angga harus beristirahat dan berteduh di pinggiran.


"Aku yakin pasti ada bukti kalau kakakku tidak bersalah." ucap Angga dengan sangat yakin


Beberapa saat kemudian, saat Angga sedang beristirahat ia pun melihat sesuatu. Angga melihat seperti ada cctv di suatu rumah dan mengarah ke tempat kecelakaan itu terjadi. Angga pun berlari melihatnya, apakah itu benar-benar cctv yang Angga maksut.


"Aku tidak salah lagi, ini bukti yang benar-benar aku cari." ucap Angga dengan wajah yang amat bahagia


Angga pun mencoba untuk mengetuk rumah tersebut untuk menanyakan perihal cctv tersebut.


"Tok..tok..tok." (suara ketukan pintu)


" Permisi." kata Angga


Ada seorang ibu yang membuka pintu itu.


"Ada apa nak, mau cari siapa?." tanya ibu


Angga pun menjelaskan kepada ibu itu kalau kedatangannya kesana adalah ingin melihat rekaman cctv kecelakaan yang terjadi 1 tahun yang lalu.


"Ayo nak, masuk dulu. Saya coba periksa dulu ya nak. Biasanya yang mengerti ini anak ibu, tapi anak ibu sedang kerja sekarang." (menunjuk komputer yang ada di depannya).


Angga pun menghampiri ibu itu dan mencari sendiri rekaman cctvnya.


"Waktu itu polisi juga memeriksa rekaman cctv kecelakaan itu nak, makanya anak ibu simpan baik-baik itu video." ucap ibu


Angga menanyakan apakah ibu itu mengetahui letak videonya dimana dan untung saja ibu itu masih ingat nama filenya, jadi memudahkan Angga untuk mencarinya.


Saat rekaman itu telah ditemukan, Angga pun melihat rekaman videonya. Di rekaman cctv hanya terlihat dari sudut pandang mobil yang menabrak pohon. Namun anehnya ada satu mobil hitam dan juga mobil kakak Angga, tiba-tiba terlihat Ayah Ila sudah tergeletak. Rekaman itu tidak memperlihatkan secara jelas karena kedua mobil itu saling berpapasan.


Memang benar yang menabrak pohon itu adalah mobil milik kakak Angga. Dia sangat yakin sekali, kalau kakanya tidak bersalah. Dia masih mencari-cari apa yang bisa ia telusuri lebih jauh. Hingga suatu ketika dia melihat ada kakek yang ada di rekaman saat waktu kejadian.


"Ibu tahu kakek ini siapa?" tanya Angga


"Sebentar, mukanya tidak begitu jelas. Coba aku lihat lebih dekat lagi."

__ADS_1


Di layar tampak blur tetapi ibu ini bisa mengenali dari bentuk tubuhnya maupun baju yang ia pakai. Itu adalah penyewa rumahnya yang ada samping rumah yang kini dia sudah tidak tinggal disini lagi.


Angga pun ingin mencari tahu keberadaan kakek itu, Angga sangat meyakini pasti kakek itu tahu sesuatu. Angga meminta alamat kakek itu dan Ibunya pun memberi Angga alamat tempat tinggalnya di kampung.



Angga pergi dari sana dan mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut, lalu dia berpamitan dari sana.


Dia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Angga saat itu menuju ke kantornya.


SAMPAI DI KANTOR.


Dengan wajah yang serius dan dengan langkah yang sangat cepat Angga menuju ruangannya. Di ruangan tersebut ada Ila, lalu Angga meraih tangan Ila dan menariknya keluar. Ila saat itu kebingungan dengan sikap Angga.


"Ada apa ini, mengapa kamu menarikku seperti ini?" ucap Ila


"Kamu diam saja, ayo ikut denganku." kata Angga sambil tetap menarik tangan Ila.


Semua mata tertuju pada mereka berdua tak terkecuali Jesi. Jesi pun menghampiri Angga dan Ila


"Mau kemana kalian?" tanya Jesi


Jesi hanya menganggukkan kepala dan Angga melanjutkan langkahnya bersama Ila menuju mobil.



"Aku tidak mau." ucap Ila dengan wajah yang seperti ingin marah


Angga menyuruh Ila untuk masuk mobil saja dan menyuruhnya jangan banyak bicara. Angga berniat untuk mengajak Ila ke kampung halaman kakek yang berada di tempat kecelakaan ayahnya itu.


"Kenapa kamu terus memaksaku ini itu." lanjut Ila


Angga tidak memperdulikan omongan Ila, dia memaksa Ila untuk masuk mobilnya hingga dia sudah berada di dalam mobil Angga.


PERJALANAN MENUJU KAMPUNG KAKEK.


Angga pun mengajak Ila karena dia wajib bertemu dengan kakek itu supaya dia tahu bahwa bukanlah kakak Angga yang bersalah. Meskipun cara Angga salah yang memaksa Ila untuk pergi dengannya saat itu.


"Mengapa kamu diam saja? kamu tidak ingin tahu kita mau pergi kemana." ucap Angga

__ADS_1


Ila tetap saja tak mau menjawab pertanyaan Angga. Angga terus saja mengajak omong Ila tetapi Ila tidak meresponnya. Angga pun kesal, dia pun menghentikan mobilnya.


"Kamu sebenarnya ada apa Ila?" tanya Angga


Ila tetap tidak mau merespon Angga.


"Ila..kamu mau apa sih?" lanjut tanya Angga


Ila yang memalingkan wajahnya ke hadapan kaca mobil, dia tidak mau melihat wajah Angga. Ila tetapi diam saja.


Angga sudah tidak sanggup dengan sikap Ila, dia mencoba membujuknya dengan mengelus kepala Ila dengan perlahan-lahan.


"Ah..jangan sentuh aku." (sambil menyingkirkan kepalanya dari tangan Angga)


"Kamu bisa bicara ternyata, jawab aku Ila kalau aku ajak ngomong." kata Angga


"Tidak mau ngomong, aku ini masih atasanmu. Aku bisa saja memecatmu karena bos bicara bawahannya tidak memperhatikan." lanjut Angga dengan menyindir Ila.


Ila yang mendengar itu semuanya langsung merespon Angga. Dia teringat kalau dia masih membutuhkan pekerjaan ini.


"Kamu tadi yang menyuruhkan jangan banyak bicara, lalu aku harus apa. Aku banyak bicara salah, aku tidak bicara salah. Memang aku yang salah disini, kamu selalu benar. Kalau kamu mau aku...." kata Ila (saat Ila bicara, Angga menghentikan dengan tangannya yang ia letakkan tepat di mulutnya hingga dia berhenti bicara)



Ila pun langsung terdiam ketika Angga melakukan itu. Dia kembali pada posisi duduknya dengan wajah yang masih kesal.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Ila


"Kamu ikut saja, nanti kamu akan tahu." jawab Angga


"Percuma saja aku bertanya begini, tetapi kamu tidak menjawab pertanyaanku."


Angga saat itu hanya tersenyum melihat tingkah Ila yang masih sama seperti dulu, masih suka ngambek. Tetapi meskipun begitu, dia orangnya berhati malaikat walaupun terkadang sangat keras kepala.


"Kita lanjut jalannya ya tuan putri." kata Angga sambil meledek.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)

__ADS_1


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2