Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 87 : SEKRETARIS PEREMPUAN


__ADS_3

Sudah beberapa hari keluarga Ila tinggal di apartemen. Menurut Ila kondisinya sudah cukup aman, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah saja.


"Ibu hati-hati ya, jaga diri ibu baik-baik. Aku mau ke restoran dulu."


"Adik juga, hati-hati di sekolah. Jika ada orang tak ditinggal jauhilah takutnya itu orang jahat." ucap Ila


Ila sudah memberanikan diri untuk keluar lagi, bagaimanapun ia harus mengecek keadaan restoran selama ia tak kesana lumayan cukup lama.



"Bagaimana keadaan restoran?" tanya Ila ke salah satu pegawai disana


"Aman bu, semua terkendali. Pak Angga selalu datang kesini."


"Apa katamu, Pak Angga?"


"Iya bu Pak Angga, ia sering sekali mengecek keadaan disini. Setelah ibu menelepon saya untuk menanyakan keadaan, Pak Angga yang selalu mengatur kondisi disini sesuai perintah ibu."


Ila sangat berterima kasih dengan Angga yang sudah sangat membantu dirinya selama ini. Sebagai ucapan terima kasih, ia pun akan membawakan Angga bekal makan siang.


Ia akan memasak untuk Angga agar lebih spesial, setelah itu ia akan bersiap-siap untuk pergi ke kantornya.


DI KANTOR.


Ila sedang menuju ruangan Angga. Namun disisi lain Angga dan Alex sedang berdiskusi dengan rekan kerjanya yang bernama Desi. Ia adalah sekretaris dari kliennya.


Ketika Ila membuka pintu ruangannya. Ila sangat tak menyangka jika Angga melakukan itu di depan matanya dengan perempuan lain. Ila pun dengan keadaan tak baik dan menangis meninggalkan kantor Angga.


"Aku tak menyangka ia akan seperti ini." ucap Ila


Ila meninggalkan kantor Angga dan menenangkan diri di suatu taman.



Ila menangis sejadi-jadinya mengingat kejadian yang barusan ia lihat. Lalu disana tampak handphonenya berdering panggilan dari Angga. Namun ia tak menyadarinya


Angga disana ingin menanyakan kabar Ila. Namun tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Mulai dari ibu hingga pegawainya yang ada di restoran.


Angga mencoba sekali lagi menelepon Ila dan akhirnya dia mengangkat.


"Halo." ucap Ila


Angga mendengar suara sesegukan seperti orang yang sedang menangis


"Kamu menangis?"

__ADS_1


"Tidak." ucap Ila berbohong


"Kamu ada dimana sekarang?" tanya Angga


Ila langsung mematikan handphonenya. Angga tak tinggal diam ia mengechat Ila menanyakan perihal keberadaannya saat itu. Alex yang tanpa sengaja melihat kepanikan yang ada di raut wajah Angga terlihat menghampirinya.


"Ada apa denganmu?"


"Aku sangat khawatir dengan Ila. Saat aku tadi menelepon dia, tiba-tiba handphonenya mati saat aku tanya keberadaannya."


"Apa aku katakan ke Angga ya soal tadi." ucap Alex dalam hatinya.


Alex pun mengatakan kepada Angga tentang dirinya yang melihat Ila di pintu ruangan saat itu. Saat Alex yang dari dapur habis membuat kopi, ia memutuskan untuk kembali diskusi bersama Desi dan Angga. Tetapi Alex melihat Ila tak jadi ke ruangan Angga dan lari begitu saja. Alex pun merasa kebingungan.


"Nah ketika aku masuk, kamu dan Bu Desi sudah seperti posisi itu. Mungkin itu yang membuat Ila menghilang." ucap Alex


"Aku tadi cuma berniat membantu Bu Desi yang terjatuh karena sepatunya terselip. Lalu tiba-tiba kita juga sama-sama terjatuh di sofa.


Alex pun menyuruh Angga untuk menjelaskan semua kepada Ila kalau itu hanya salah paham. Alex mendapatkan info dari Jesi kalau Ila sedang ada di taman. Angga langsung menghampirinya.


"Dimana dia ya, katanya ada di taman sini." kata Angga.


Ia mencari di sekeliling sana namun masih tak ketemu juga. Setelah beberapa jam ia mengelilingi taman itu, akhirnya dari kejauhan terlihat Ila yang sedang duduk di tepi kolam dekat sana.


"Kamu, ada apa?" tanya Ila


"Aku cari kamu kemana-mana."


"Ada apa memangnya?"


"Kok mukanya cemberut gitu." kata Angga


"Biasa aja." kata Ila dengan tak memandang wajah Angga sama sekali."


"Buang muka terus, aku kan pengen lihat wajah pacarku ini." ucap Angga bercanda sambil berusaha memalingkan Ila ke hadapannya tapi Ila yang terus saja menolaknya.


Ila merasa tak ada yang diobrolkan lagi antara dirinya dengan Angga.


"Kalau tak ada yang diomongin, kamu bisa pergi." kata Ila


Air mata Ila tak berhenti menetes dengan sendirinya, hingga ia tak berhenti mengusapnya.


Ila saat itu tak ingin diganggu oleh siapapun, ia hanya ingin sendiri.


"Kalau kamu tidak mau pergi, biar aku saja yang pergi."

__ADS_1


Ila melangkahkan kakinya pergi, Angga mengejar dirinya dan memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku." ucap Angga


"Buat apa kamu minta maaf, aku hanya ingin sendiri. Aku mohon." kata Ila sambil berusaha melepas pelukan dari Angga


Angga tak ingin melepas pelukan itu sebelum Ila berbicara padanya. Angga terus saja mengulang permintaan maaf dia kepada Ila, namun yang Ila inginkan bukan itu.


"Lepaskan, Angga. Kamu ini susah sekali ya dibilangin." ucap Ila


"Aku akan lepaskan, kalau kamu diam dulu." kata Angga


Setelah Ila diam tak berontak sedikitpun, Angga perlahan mulai melepaskan Ila.


Ketika di rasa Angga sudah melepaskan Ila, dia pun ingin segera pergi dari sana. Namun ketika ia melangkahkan kakinya, seketika Angga memegang tangan Ila dan menyeretnya.


"Lepaskan aku, kita mau kemana?" teriak Ila


"Kamu ikut aku saja." kata Angga


"Aku mohon lepaskan. Aku cuma mau sendiri." kata Ila sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Angga


Tiba di parkiran, Angga membukakan pintu mobilnya dan membawa Ila untuk masuk ke dalam. Namun ketika Angga ingin masuk ke dalam mobil, itu adalah kesempatan Ila untuk pergi.


Ila keluar dan mencari mobil miliknya dengan cepat. Di saat hal itu terjadi, Angga mengetahui Ila kabur darinya. Ila telah berhasil membawa mobilnya dan pergi dari sana.


"Aku harus ikutin dia." kata Angga langsung menuju mobilnya dan segera membuntuti mobil milik Ila.


Di dalam mobil, hati Ila sangatlah sesak dan sakit.


"Sikapnya masih saja seperti itu, maunya sendiri." kata Ila


"Tuhan mengapa masalah demi masalah engkau berikan padaku. Berikan aku kekuatan untuk melewati ini semua." lanjut Ila, masih dengan mengendarai mobilnya.


Setelah masalah yang Ila alami, ia ingin sejenak untuk menyendiri menenangkan dirinya. Ia tahu bahwa sikapnya ini sangat kekanak-kanakan, kabur dari masalah. Namun ia hanya ingin sendiri, sehingga ia bisa berpikir lebih jernih dalam menghadapi masalah yang terjadi ini.


Teleponnya berdering panggilan dari Angga dan Ila mengangkatnya.


"Ila berhentilah." perintah Angga


"Aku kan sudah bilang padamu, tinggalkan aku. Aku mau sendiri." kata Ila dengan menangis


Angga tak tinggal diam, ia menginjak gas mobilnya dan menyalip depan mobil Ila dan tepat di depannya ia bisa memberhentikan mobil milik Ila itu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2