Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 15 : KENA MARAH BOS


__ADS_3

Angga menjaga Ila sepanjang malam sampai dia ketiduran di sebelah Ila. Sedangkan di dalam handphone Ila banyak sekali miscall dari Ibunya dan Jesi, mungkin mereka sangat khawatir dengan keadaan Ila.


...----------------...


Burung mulai berkicau dan matahari mulai terbit menyinari kamar Angga. Angga saat itu langsung terbangun sedangkan Ila masih terbaring lemas di tempat tidur dengan wajah yang pucat. Angga pun lekas pergi untuk membersihkan tubuhnya. Saat dia selesai membersihkan tubuhnya, dia kembali melihat keadaan dari Ila. Angga saat itu sudah menghubungi dokter keluarganya untuk memeriksa kondisi dari Ila dan secepatnya dia akan kesana.


Ila mulai siuman dari pingsannya, dia membuka matanya dan merasa kebingungan dia ada dimana sekarang. Ila melihat sekelilingnya namun dia tidak tahu dia ada di kamar siapa, dia melihat bajunya yang sudah ganti jadi dia berpikir yang aneh-aneh.


Angga datang menuju kamar Ila, Ila saat itu sangat shock melihat kedatangan Angga. Ila langsung bangun dari tempat tidur dan berdiri namun tubuhnya itu masih cukup lemah untuk melakukannya. Angga saat itu langsung menolong Ila yang hampir jatuh. Badan Ila saat itu ada di dekapan Angga, dia langsung melepaskan dekapan itu. Tak banyak bicara dia langsung mengambil ponselnya, namun ponselnya itu telah kehabisan daya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Angga


"Sebentar lagi dokter akan memeriksamu." lanjut Angga


Tak lama dokter itu datang, Angga menyuruh Ila untuk berbaring dan dokter pun memeriksa keadaan Ila.


"Dia tidak apa-apa, hanya saja kurang istirahat dan kelelahan." ucap dokter


Dokter telah selesai memeriksa Ila, Angga mengantarkan dokter iku ke depan.


Ila pun diam, dia tak bisa apa-apa tubuhnya saat itu masih lemah dan dia tidak bisa mengabari orang tuanya maupun jesi karena ponselnya mati. Akhirnya dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri, dia membereskan semua barang-barangnya.


Saat dia mengemasi barang-barangnya, dia melihat benda yang tak asing lagi.


"Ini kan punyaku." ucap Ila


Itu adalah sebuah gelang kepunyaan Ila, dia selalu memakainya sejak zaman kuliah dan tiba-tiba dia kehilangan itu entah kemana. Ila akan menanyakan itu kepada Angga. Ila keluar dari kamar sambil membawa tas bawaannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Angga (datang menghampiri langkah Ila yang hendak menunju pintu)


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, kamu masih sangat lemah." lanjut Angga (Angga langsung menggendong Ila untuk kembali ke kamar)


Ila saat itu memukuli Angga, dia terus berkata aku tidak ingin disana, dia hanya ingin pulang saja. Hal itu semakin membuat jengkel Ila kepada Angga. Sampai di kamar Ila terus saja memaksa untuk pulang, hingga akhirnya Angga bisa menenangkan Ila.


"Mengapa, mengapa kamu terus memaksaku?." tanya Ila dengan nada tinggi


"Aku sudah bilang padamu, aku ingin pulang aku tidak ingin disini." lanjut Ila


Angga menjelaskan beberapa kali kepada Ila bahwa tubuhnya saat itu masih sangat lemah. Hal ini membuat hati Ila tersentuh, dia mulai teringat dengan sikap Angga yang sama seperti dulu selalu perhatian kepada Ila.

__ADS_1


Angga meninggalkan Ila, untuk mengambil makanan untuk sarapan agar Ila bisa meminum obatnya segera. Angga menyuapi Ila, hingga ia meminum obatnya.


"Aku mohon padamu, berhenti lakukan ini padaku." ucap Ila (sambil menyatukan kedua tangan memohon kepada Angga)


"Kamu segitu bencinya sama aku?" tanya Angga


"Apakah kamu tidak bisa melihat pertemanan zaman kita masih kuliah dulu?" lanjut Angga


Ila menjelaskan kepada Angga, bahwa hatinya sakit setiap melihat wajahnya sambil meneteskan air mata Ila mengatakan itu. Dirinya masih tidak terima dengan kepergian ayahnya.


"Lalu apa yang harus aku perbuat, aku sudah mencoba beberapa kali minta maaf kepadamu. Tapi apa? kamu selalu selalu menghindar dariku." ucap Angga


"Intinya aku tidak ingin mengenal orang yang sudah membunuh ayahku apalagi kamu telah menyembunyikan gelang yang sangat berharga ini." (menunjuk gelang di tangannya sambil memalingkan wajahnya)


"Aku akan berusaha untuk membuatmu menerimaku lagi Ila." (ucap Angga di dalam lubuk hatinya)


Semua hanya terdiam, lalu Angga menanyakan kepada Ila apa yang ia butuhkan saat ini. Angga tidak akan memaksa Ila lagi, dia akan menuruti apa yang diinginkan Ila.


"Aku ingin pergi dari sini, ajak aku ke kantor." pinta Ila


"Baiklah, aku akan siap-siap. Sebentar lagi aku kesini untuk membawamu ke bawah.


Tiba nya di kantor semua pada heboh menggosipkan Ila dengan bos besar itu.


Angga yang saat itu sedang memegangi tubuh Ila, dimana dia takut terjadi apa-apa dengannya Ila seketika langsung menjauhkan badannya dari Angga dan mengatakan dengan agak sedikit marah Angga untuk menjauhi dirinya karena tidak enak dilihat orang banyak.


Untung saja dari kejauhan terlihat batang hitung Jesi. Ila langsung memanggil Jesi untuk membantunya masuk ke dalam. Angga habya bisa terdiam melihat itu semua.


"Dari mana saja kamu? semalam ibumu cemas meneleponku." tanya Jesi


"Sudah nanti saja aku ceritakan. Sekarang antar aku ke ruanganku dulu." jawab Ila


Jesi mengantarkan Ila ke ruangannya dan Ila menceritakan semua kejadian malam itu kepada Jesi.


"Astaga, kamu sudah memeriksakan kondisimu?." tanya Jesi


"Sudah, tadi pagi." jawab Ila


"Lalu apa katanya?"

__ADS_1


"Aku hanya kecapekan saja."


"Kemarin kan aku sudah bilang padamu, aku akan membantu dan menemanimu tapi kamu menolak. Kalau gini kan gimana susah jadinya. ucap Jesi


"Iya iya maafkan aku."


Jesi pun menyuruh Ila mengabari ibunya, karena ibu mungkin khawatir kepadanya. Ila meminjam ponsel Jesi untuk menelepon ibu, karena ponsel nya sedang di cas.


"Halo, ibu."


"Ini Ila bu." lanjut Ila


"Iya nak kamu kemana saja, ibu dari semalam khawatir denganmu."


"Ila tidak apa-apa bu, nanti kalau pulang Ila jelaskan ke ibu ya. Ila sekarang ada di kantor untuk bekerja."


"Iya nak, untung saja tidak terjadi apa-apa denganmu." ucap Ibu


Ila pun mengakhiri percakapannya dengan Ibu dan saat itu Ila pergi ke ruang bos, karena bos memanggilnya. Saat tiba di ruang bos, Ila dimarahi oleh bosnya.


"Apa yang kamu lakukan Ila?." (dengan nada tinggi bos mengatakannya)


"Apa yang aku lakukan bos?" (Ila masih merasa bingung dengan pertanyaan bos nya itu)


"Berani sekali kamu memarahi bos besar. Dia adalah pemilik perusahaan ini, seharusnya kamu bersikap ramah kepadanya."


"A..aku minta maaf bos." (hanya itu yang bisa dikatakan Ila karena dia tidak ingin bos tahu kejadian dan hubungannya dengan bos besar itu).


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Angga datang, dia sudah mendengarkan semua percakapan antara Ila dan bosnya.


"Jangan kamu salahkan Ila" ucap Angga (ditujukan kepada bos Ila)


"Ini semua salahku, kalau kamu ingin marah marahi saja aku." lanjut Angga


Bos Ila hanya tertunduk diam karena merasa takut dan dalam hatinya Ila mengatakan


"Cobaan apalagi ini, mengapa dia selalu saja begini."


Angga menatap Ila dan menyuruhnya untuk keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2