
1 tahun telah berlalu, kehidupan Mira semakin membaik. Ia mulai bisa menerima kenyataan yang ada, menerima segala konsekuensi dan putusan pengadilan. Ia divonis 5 tahun penjara dan menerima denda.
Kehidupan Mira semakin berubah drastis, dia yang dulunya bergelimang harta kini harus merasakan asam garam di jeruji besi. Namun hal ini membuat Mira tersadar betapa berharganya kehidupannya yang dulu.
Perasaan menyesal mulai ia rasakan setelah 1 tahun ini, ia sadar kalau cinta tak dapat dipaksakan. Mira sangat menyesal karena membenci orang sebaik Ila. Tak dapat ia ucapkan kepadanya hanya kata minta maaf lah yang perlu terlontar dari mulutnya tetapi entah kapan ia harus bertemu dengan Ila kembali.
"Seandainya aku bisa bertemu dengan kamu La, aku akan bersujud memohon maaf kepadamu atas semua yang telah aku lakukan." ucap Mira dengan perasaan menyesal
Tiba-tiba datang polisi yang memanggil dirinya. Polisi itu memberitahu Mira bahwa ada orang yang ingin bertemu dengannya.
Mira menatap tajam dengan kedatangan Kak Bima disana. Ia telah mengetahui semua apa yang telah ia lakukan selama ini. Pengacara Mira lah yang menceritakan bagaimana polisi bisa menangkap Mira di kediamannya saat itu. Pengacaranya menyampaikan jika Kak Bima yang membantu polisi itu untuk menangkapnya saat ada di rumah.
"Ada apa laki-laki ini datang kesini." ucap Mira dalam hatinya
Kak Bima tanpa rasa bersalah sedikitpun, dengan senyumnya menyapa Mira seakan-akan tak pernah terjadi apapun di saat itu. Kak Bima memang tak mengetahui kalau Mira sudah tahu semuanya sehingga dengan sikap seperti biasa ia pun menyambangi Mira di kantor polisi
"Bagaimana keadaanmu?" maaf aku baru bisa datang kali ini." kata Kak Bima
"Iya aku baik-baik saja, ada apa kamu datang kesini?" ucap Mira dengan ketus
"Ada apa denganmu? apa baik-baik saja disini." tanya Kak Bima karena merasa heran dengan sikap Mira seperti sinis kepadanya.
Tanpa banyak basa basi Mira pun mengatakan semuanya apa yang ia ketahui tentang Kak Bima. Seketika Kak Bima shock, tetapi ia masih bisa memasang wajah sok tenang.
"Oh ternyata kamu sudah tahu, oke baiklah aku tidak perlu berpura-pura lagi sekarang." kata Kak Bima
"Aku baru tahu ya, ternyata kamu bukan cuma jahat tapi kamu sangat licik. Dasar munafik." kata Mira
Kak Bima memukul meja dan Mira kaget dengan mata terbelalak
__ADS_1
"Kamu jangan sekali-kali berkata seperti itu padaku, karena nasibmu ada di tanganku." kata Kak Bima sambil menatap mata Mira, lalu ia bergegas pergi dari sana.
Mira pun menangis meratapi nasibnya di meja tamu hingga polisi pun menyuruh Mira untuk segera kembali ke sel tahanan.
"Ibu Mira mari, silahkan."
Mira mengangguk dan menuju ke sel tahanan dengan wajah yang sembab. Tak sampai disitu saja, ia pun menangis sejadi-jadinya di sel tahanan. Hanya kata maaf yang terus menerus ia lontarkan kala itu.
RUMAH ILA..
"Nak hari ini kamu tidak ke resto?" tanya Ibu kepada Ila.
"Ila sepertinya tidak enak badan bu. Ila masuk agak siangan saja hari ini." kata Ila
Ila pun pagi ini akan beristirahat dulu di rumah. Ia akan berangkat agak siang menuju ke resto. Kebetulan hari itu ia ada janji bertemu dengan client.
"Ila Ila bangun, ada panggilan telepon." ucap Ibu dengan cepat
Ketika Ila ingin mengangkat telepon itu dengan kondisi setengah sadar, namun panggilan itu telah diakhiri terlebih dahulu.
Matanya mulai terbelalak ia teringat kalau ia siang ini ada pertemuan dengan client yang ingin bekerja sama dengan restonya. Seketika Ila langsung bersiap-siap, ia pun mengabari karyawannya kalau ia akan segera datang ke resto.
Dengan cepat Ila pergi ke resto dengan kondisi yang agak kurang sehat. Ia pun tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengembangkan usahanya.
Tibanya di resto, Ila disambut oleh pelayan yang berlari menuju ke dia. Dia berlari panik
"Bu bu itu clientnya sudah menunggu di meja no.2."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih." kata Ila sambil mempercepat langkah kakinya.
TIBA DI MEJA NO.2
"Permisi Pak." ucap Ila masih membenarkan kursinya
Kedua mata saling menatap, betapa kagetnya ketika yang dia lihat adalah Angga. Ila merasa canggung dengan pertemuan yang bisa dikatakan setelah sekian lama tak bertemu. Namun Ila tetap akan bersikap profesional dengan pekerjaannya kali ini.
"Mohon maaf bapak atas keterlambatan yang saya buat hari ini. Kalau boleh tahu ada yang bisa saya bantu pak?" kata Ila dengan sopan layaknya melayani seorang client.
Angga sempat melamun, karena dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan Ila. Angga pun mulai mengingat kembali, kalau ia relakan cintanya untuk Kak Bima karena kondisi ia yang sangat menyedihkan kala itu.
"Kamu tambah cantik Ila, tak berubah sama sekali dengan dirimu." ucap Angga dalam hatinya.
"Halo pak, bagaimana? apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Ila
Angga pun menjelaskan kedatangannya kesana untuk bekerja sama dengan resto milik Ila. Jadi setiap harinya resto milik Ila akan mengirim makan siang bagi karyawan di perusahaan milik Angga karena Angga mendengar dari banyak orang kalau resto ini memiliki masakan yang sangat enak hingga banyak yang merekomendasikannya.
Setelah mereka mengobrol mengenai negoisasi harga maupun menu yang akan diberikan setiap harinya sampai timbul kesepakatan mereka berdua menjadi partner. Jadi kini Angga akan lebih sering bertemu dengan Ila untuk membahasnya.
"Baiklah pak, semoga kerja sama kita dapat terjalin dengan baik juga." ucap Ila
Ila pun izin berpamitan dengan Angga, karena dia harus mengecek restoran yang ada di bagian dalam. Namun ketika ia ingin pergi dari sana, tiba-tiba tangan Ila dipegang oleh Angga.
"Tunggu." kata Angga
Ila pun menoleh dan langsun melepaskan pegangan itu.
"Iya pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" kata Ila mencoba untuk sopan kepadanya
Angga pun menjelaskan, Ila tak perlu canggung kepadanya. Anggap saja kita seperti dahulu panggil nama satu sama lain, jadi Angga menyuruh Ila untul memanggil namanya tanpa pak. Saat itu, Ila mencoba menolak permintaannya karena ia akan menjujung profesionalitas. Ila tak akan memandang bulu, ia akan menyamaratakan semuanya. Namun ketika Angga mengancam akan memutuskan kerja sama, Ila pun langsung menuruti permintaan Angga yang menurut dia aneh itu.
__ADS_1
"Dasar, maunya orang ini apa sebenarnya. Untung saja aku masih mau bisa menerimanya." kata Ila dengan sedikit kesal.