Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 49 : PULANG TANPA KEPASTIAN


__ADS_3

Hari itu sudah petang, Ila memutuskan untuk pulang. Jesi yang dibawah sudah menunggunya dari tadi.



"Dari mana saja kamu?" tanya Jesi


"Nanti saja, aku ambil tas ku dulu." jawab Ila


Ila jalan dengan cepat kemudian di belakangnya dibuntuti oleh Angga. Jesi kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi.


Saat mengambil tas di ruangannya, Angga memohon kepada Ila untuk memaafkannya. Tanpa melihat wajah Angga sambil ia membersihkan mejanya ia berkata


"Aku sudah memaafkanmu." jawab Ila


"Kalau kamu sudah memaafkanku, mengapa sikapmu masih begini denganku?"


"Lalu aku harus apa, ha..?"


Ila pergi dari sana, dia mengajak Jesi untuk cepat pergi dari sana. Ila menarik tangannya.


"Sebenarnya ada apa antara kau dengan Pak Angga?"


"Nanti aku ceritakan, kita cepat pergi dari sini." ucap Ila.


Ila dan Jesi pergi, kemudian tak lama kemudian Angga datang untuk mencari mereka tapi mereka tidak ada.



...----------------...


PERJALANAN PULANG.


Saat berkendara, Jesi menanyakan kepada Ila apa yang sedang terjadi kepadanya. Ila menyuruh Jesi untuk berhenti di restoran saja untuk dia bisa menceritakan semuanya, ini juga hampir waktunya makan malam juga.


Setelah tiba di restoran, mereka memesan minuman dulu. Untuk makanannya mereka pesan nanti saja.


"Sekarang ceritakan kepadaku, apa yang telah terjadi? matamu bengkak seperti ini, apa kamu menangis?" tanya Jesi


"Iya." (sambil mengangguk)


Ila menceritakan kejadian dari awal, mulai ia diajak Kak Bima untuk presentasi hingga Angga memarahinya .


"Aku bisa mengerti kalau kamu dimarahi karena kamu tidak izin dengannya, tapi aku masih tidak menyangka dia mengatakan itu kepadamu. Dia sahabatmu kuliah kan, tapi mengapa dia tidak mengerti karakter kamu." kata Jesi.


"Aku kecewa sama dia, aku mungkin saja bisa memaafkannya tapi hatiku masih sakit karena itu." ucap Ila


Tak lama kemudian, ada chat masuk di ponsel Jesi. Itu dari Bos Angga.


(Percakapan chat)


"Apa kamu dengan Ila?"


"Iya pak, aku dengan Ila."

__ADS_1


"Apa dia masih menangis."


"Iya pak, dia mengatakan kalau dia kecewa dengan bapak."


"Kalian dimana?" (pesan ini sengaja tidak dibaca oleh Jesi karena dia menghargai Ila yang tidak mau bertemu Angga, ia melihatnya di notifikasi)


Setelah selesai makan, Ila pulang ke rumahnya dengan diantar Jesi. Di luar rumahnya terlihat mobil. Ila tahu kalau itu adalah mobil Angga. Dia pun masuk rumahnya dan benar saja itu adalah Angga yang sedang berbicara dengan Ibu Ila.


"Assalamualaikum, bu."


"Waalaikumsalam, Ila sudah pulang. Ini ada Angga yang dari tadi menunggumu. Kamu duduk dulu nak." kata Ibu



"Kamu sudah makan?" tanya Angga (ini adalah usaha Angga untuk mencairkan suasana)


Tak terlihat senyuman di wajah Ila saat itu.


"Aku sudah makan. Ada apa ya bapak kesini?" tanya Angga.


"Kalau kamu lapar lagi, ini aku bawakan martabak manis dan martabak telor untukmu."


"Iya bapak Angga, terima kasih atas pemberiannya." ucap Ila dengan senyum palsu.


Tiba-tiba adik Ila datang untuk menemui Angga disana. Angga menyuruhnya untuk makan martabaknya.


"Ini enak sekali Kak."


"Kamu makan, kakak mau ke belakang dulu." ucap Ila (sambil mengelus kepala adiknya)


RUANG TAMU.


Mereka sangat asyik bermain berdua, tetapi Angga masih menunggu Ila menemuinya. Ibu datang dan bertanya kepada Angga kemana Ila.


"Kakakmu kemana?" tanya Ibu kepada adik


"Kakak bilang tadi mau ke belakang, tapi sampai sekarang kakak tidak kembali lagi."


Ibu melihat ke belakang menuju dapur, Ila tidak ada. Ibu mengecek di beberapa ruangan ia tidak ada juga. Kamar tidur belum ibu cek.


Tampak terlihat disana Ila sedang berbaring. Ila sepertinya ketiduran dengan ponsel yang masih menyala ada di sebelahnya.


"Kamu pasti capek sekali ya nak." ucap Ibu Ila sambil mengelus kepalanya.


"Maafkan aku ibu, aku hanya pura-pura tidur untuk menghindari Angga." kata Ila dalam hatinya.



Ibu meninggalkannya dan menutup kamar Ila. Ibu menuju ruang tamu.


"Nak Angga, maaf sekali. Ternyata Ila nya ketiduran, dia terlihat lelah sekali jadi ibu tidak tega membangunkannya." kata Ibu kepada Angga


"Iya bu tidak apa-apa, jangan di bangunkan. Kasihan."

__ADS_1


Karena tidak ada urusan lagi Angga disana, orang yang ingin ia temui sedang tertidur pulas. Dia pun berpamitan untuk pulang.


"Aku sebenarnya ingin kamu benar-benar memaafkanku Ila." kata Angga


"Melihat sikapmu dingin seperti tadi, membuat hatiku sakit. Aku tidak mau kamu membeciku seperti dulu." lanjut Angga.


Dia menyetir sambil memikirkan Ila. Ketika sampai di rumah, dia masih tetap memikirkannya. Ayah Angga melihat anaknya tampak sangat lesu.


"Ada apa kamu nak?" tanya Ayah


"Aku tidak apa-apa yah, ini karena aku sangat lelah hari ini. Pekerjaanku sangat banyak."


Angga menuju kamarnya, ia berbaring di tempat tidur sambil melihat atas mengingat kejadian tadi. Kejadian saat ia memarahi Ila.


"Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Angga bodoh bodoh bodoh." (sambil memukuli kepalanya).


Angga pun mengirim pesan yang menyentuh kepada Ila, permintaan maaf untuk yang kesekian kalinya. Dia ingin Ila membaca pesannya itu besok pagi.


Usaha Angga tidak sampai disitu, Ila mencoba menghubungi Jesi lewat telepon. Terlihat di status whatsapp nya dia sedang online. Dia coba menghubungkan dengan Jesi, tetapi dia tidak menjawabnya. Kemudian Angga mencoba chat dirinya.


(percakapan chat)


"Belum tidur, Jes?"


"Belum, ada apa pak?"


"Telepon saya tidak kamu angkat."


"Mohon maaf pak saya tidak bisa angkat telepon."


Dalam pikiran Angga, Jesi terlihat aneh sekali tidak bisa mengangkat telepon darinya. Biasanya jam segini dia bisa.


"Apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa pak? selama saya bisa jawab, akan saya jawab pak."


"Ila hari ini curhat kepadamu?"


"Tidak pak, memang ada apa?" (Jesi sengaja berbohong kepada Bosnya itu)


"Oh begitu ya, jadi dia tidak cerita apa-apa kepadamu."


"Tidak pak."


Disana Jesi terpaksa berbohong karena dia tidak ingin semuanya yang Ila curhat ke dirinya harus ia katakan semuanya kepada bosnya itu. Akhirnya Jesi memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Jesi tidak mau, kepercayaan Ila kepada dirinya hilang karena Jesi sering menceritakan Ila kepada bosnya Angga.


Di kamar tidur, Angga masih merenungkan tentang Ila. Dia sangat berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapatkan kepercayaan Ila kembali. Saat itu tidak ada yang bisa memberinya saran. Saat bertanya kepada Jesi, ia pun tidak mengetahui permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Ila.


"Oh tuhan, berikan aku kepastian akan dirinya. Aku mengaku bersalah. Oleh sebab itu, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)

__ADS_1


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏


__ADS_2