Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 35 : MALAM MINGGU


__ADS_3

Hari ini adalah hari sabtu dan nanti adalah malam minggu. Ila mendapat chat dari Kak Bima kalau nanti malam dia diajak untuk dinner bersamanya. Ila menolak ajakan dari Kak Bima itu, karena dia ada janji untuk keluar dengan Jesi saat itu. Ila meminta maaf kepada Kak Bima karena dia tidak bisa.


MALAM HARI..


Jesi dengan sepeda motornya menyusul Ila di rumahnya. Setelah itu Ila dan Jesi pun berangkat menuju cafe yang biasanya menjadi tempat mereka nongkrong bersama.


Sesampainya disana, mereka duduk sambil memesan makanan dan minuman. Sambil mendengarkan live musik. Mereka sangat menikmati suasana disana dengan saling mengobrol satu sama lain.



"La, kamu belum menceritakan kepadaku ya. Bagaimana kamu bisa terkunci di toilet kemarin?" tanya Jesi


Ila menceritakan kejadian saat itu dimana yang melakukan itu semuanya adalah Mira. Jesi terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka kalau dia benar-benar sudah keterlaluan dengan Ila.


"Apakah kamu hanya diam saja, Mira memperlakukanmu seperti itu? Kamu jangan diam saja La, orang seperti itu tidak bisa untuk kita bersabar." (dengan nada sedikit marah kepada sikap Mira)


"Aku harus apa Jes? Dia sebenarnya baik, ia juga dulu adalah temanku, aku masih berharap dia bisa menerimaku lagi sebagai temannya." jawab Ila


"Tapi, jangan suruh aku untuk bersabar lagi La jika dia berbuat buruk lagi kepadamu. Kamu harus berjanji kepadaku, kalau dia sampai macam-macam lagi kepadamu, kamu harus melawannya agar di jerah." ucap Ila dengan sedikit tegas kepada Ila.


Ila hanya mengangguk saat Jesi berkata hal seperti itu kepadanya.


Tiba-tiba ponsel Ila berdering, itu dari Kak Bima. Ila menjawab telepon dari Kak Bima.


"Kamu ada dimana?" tanya Kak Bima


"Aku ada di cafe bistar Kak dengan Jesi."


"Ok.."


"Ada apa kak?"


tutt..tutt..tutt.. (Belum sempat menanyakan alasan Kak Bima bertanya, dia mematikan teleponnya)


Jesi bertanya siapa yang menelepon Ila, dia mengatakan kalau itu Kak Bima. Wajah Ila merasa kebingungan tetapi dia tidak terlalu memikirkannya saat itu. Ila dan Jesi melanjutkan menikmati live musik di cafe tersebut sambil mengobrol santai. Mereka menghilangkan stress, karena terlalu banyak bekerja.


Tiba-tiba dari arah yang berbeda, Ila melihat Angga dan Mira di cafe bistar juga, yang sepertinya mereka baru datang. Jesi pun melihat juga kedatangan mereka berdua. Ila mencoba menyembunyikan wajahnya dari mereka begitu juga Jesi. Mereka tidak ingin Angga dan Mira melihat mereka disana.

__ADS_1



Angga dan Mira pun duduk di meja tepat berhadapan dengan meja Ila dan Jesi. Kira-kira jarak satu meja dengan posisi meja mereka berdua.


Angga yang melihat sekeliling, tanpa sengaja melihat keberadaan Jesi disana. Angga melihat Jesi, jadi Angga berpikir kalau ada Jesi disana pasti ada Ila di sampingnya. Saat Angga melihat arah yang lain, tepat sekali ada Ila disana. Ila saat itu terlihat seperti sedang menutupi wajahnya.


Mira yang melihat calon suaminya itu melihat ke arah belakangnya hingga tidak mengedipkan matanya, Mira pun melihat ke arah sana juga. Lalu apa yang dilihat Mira itu adalah Ila. Tanpa banyak berpikir, Mira menghampiri meja Ila.


"Kamu, membuntuti kita ya?" (dengan kasar Mira menanyakan hal tersebut kepada Ila)


"Kamu PD sekali, Ila kesini itu sama aku ya." ucap Jesi yang tak mau kalah.


Ila saat itu hanya diam saja, dia tidak ingin terpancing oleh kata-kata Mira saat itu. Dia terus saja menghina Ila. Semua mata pun tertuju pada sikap Mira saat itu.


Saat itu di tempat umum, Ila berusaha menahannya tapi lama kelamaan Mira sudah keterlaluan kepadanya, dia menghina ibunya. Mira menyebut kalau Ila tidak di didik dengan baik oleh kedua orang tuanya sampai dia bisa merebut calon suami orang. Ila saat itu tidak bisa menahan akhirnya Ila menampar wajah Mira dengan kencang. Kalau menyangkut orang tua Ila memang sangat sensitif.


Plak...(suara tamparan Ila kepada Mira)



"Jangan sekali-kali kamu menghina kedua orang tua ku, seharusnya kamu ngaca sama dirimu sendiri bagaimana sikapmu di tempat umum sangat memalukan sekali." ucap Ila


Tangan Mira yang hendak membalas Ila dengan menamparnya balik, tiba-tiba ada yang menghentikannya. Dia yang menghentikannya adalah Kak Bima. Mira saat itu sangat kesal dan Angga pun menghampiri mereka dan menyeret Mira dari sana.


"Ayo ikut aku." ucap Angga


Angga dan Mira pun kembali ke tempat meja tadi. Angga pun kecewa dengan perbuatan yang Mira lakukan. Itu sangat memalukan dan Mira tidak sepantasnya melakukan itu. Angga mencoba menjelaskan kepada Mira kalau dia jangan pernah mangganggu Ila.


"Aku tahu, kamu cinta kan sama dia." ucap Mira


Angga hanya diam saja, namun di dalam hatinya dia berkata kalau dia sangat mencintai Ila.


"Kamu diam saja, berarti sudah jelas kan." kata Mira


Mira melanjutkan ucapannya


"Kalau kamu ingin aku tidak mengganggu Ila maka kamu harus berhenti mencintai dia. Jangan sampai aku melakukan yang lebih parah dari mengunci dia di toilet." ucap Mira dengan nada mengancam Angga

__ADS_1


"Ja..jadi kamu yang melakukan itu, kamu keterlaluan sekali Mir." ucap Angga


"Simpan perasaanmu itu dan cobalah kamu membuka hatimu untukku." lanjut Mira


Angga disana hanya diam saja, tidak ada respon yang ia berikan. Dia masih bingung dengan dirinya sendiri di satu sisi dia sangat mencintai Ila, tapi disisi lain dia tidak ingin Ila terus diganggu atau disakiti oleh Mira.


DI MEJA MAKAN ILA.


Saat itu ada Ila dan Jesi serta Kak Bima yang baru datang.


"Terima kasih ya Kak Bima, karena sudah membantu Ila melawan nenek sihir itu." ucap Jesi sambil tersenyum.


Ila sedikit melamun dan tak lupa mengucapkan terima kasih juga kepada Kak Bima dengan nada yang lesu. Ila pun pamit untuk pergi ke toilet.


DI TOILET.


Saat disana, Ila membasuh wajahnya. Dia mengaca dan menghela nafas.


"Kamu bisa, kamu pasti bisa." ucap Ila sebagai motivasi pada dirinya


Selesainya Ila pun keluar dari toilet, tetapi tiba-tiba ada yang meraih tangannya.


Ila pun berada dalam pelukan Angga. Saat Ila mencoba melepas pelukan itu, Angga semakin erat memeluknya. Angga tidak ingin melepaskan pelukan itu.


"Apa kamu tidak apa-apa?" ucap Angga di dekat telinga Ila.


"Aku tidak apa-apa, aku mohon tolong lepaskan aku." ucap Ila


"Aku minta maaf, sudah banyak menyakitimu. Tapi yang kamu harus tahu, perasaanku kepadamu akan tetap sama. Aku akan selalu menunggumu sampai kamu menjadi milikku." ucap Angga


Seketika itu dia mencium kepala Ila dengan cepat dan pergi dari sana. Ila tidak tahu apa yang harus ia perbuat saat itu, dia memikirkan perkataan Angga dan terdiam melihat Angga yang pergi dari sana.


BERSAMBUNG.


Bagaimana kelanjutannya, stay tune terus ya :)


Mohon dukungannya ❤️❤️, supaya author lebih bersemangat untuk update ceritanya. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2