
Pagi harinya disaat Ila hendak pergi bekerja menuju restoran, di luar sudah nampak mobil Angga dari kejauhan.
"Ayo aku antar kamu." kata Angga
Ila tak mengucapkan satu kata pun.
"Sebenarnya aku masih penasaran dengan lipstick yang kemarin." ucap Ila dalam hatinya.
Saat di dalam mobil, Ila tak berbicara sama sekali. Angga saat itu sangat kebingungan. Dia tahu sebenarnya Ila masih marah kepadanya, lalu ia pun memberanikan diri untuk mulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Angga
"Sudah." ucap Ila dengan sedikit ketus
"Ka..kamu masih marah ya?"
"Menurut kamu bagaimana." kata Ila
Selama perjalanan mereka berdua tak saling mengobrol.
Ketika sampai di restoran, betapa kagetnya Ila karena ada insiden yang tak terduga. Semua terlihat ramai disana, para karyawan sedang berbondong-bondong membawa ember berisi air.
"Ada apa ini?" tanya Ila kepada salah satu karyawan
Terlihat semuanya panik, tak terkecuali Ila sebagai pemilik restoran. Ia langsung menuju dapur untuk mengeceknya.
"Syukurlah, kalian baik-baik saja semua?"
"Iya bu kami baik-baik saja, tapi ini bagaimana?"
"Maafkan saya bu, karena saya kurang berhati-hati jadi kebakaran seperti ini. Tolong jangan pecat saya." celetuk karyawan penyebab kebakaran di restoran Ila.
"Kalian tenang saja, ini masih bisa diperbaiki. Lagipula ini tidak terlalu parah dan yang terpenting semua karyawan saya selamat. Lain kali hati-hati kalau bekerja ya, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali." ucap Ila panjang lebar menasehati karyawannya.
Semua karyawan menghela nafas setelah insiden kebakaran itu terjadi
"Bu Ila memang baik ya."
"Iya dia berhati seperti malaikat."
"Aku doakan semoga pernikahannya dengan Pak Angga berjalan lancar kali ini.
Itulah celetuk beberapa karyawan Ila karena kagum dengan sikap Ila yang sangat bijaksana.
Ila pun sedang duduk di meja restorannya sambil ditemani Angga.
"Apa kamu baik-baik saja? kenapa wajahmu sangat cemas seperti itu?" tanya Angga
"Aku cuma sangat shock melihat kejadian tadi, untung saja tak banyak yang terbakar. Apa jadinya kalau restoran yang pertama kali aku rintis harus hangus terbakar." kata Ila
Angga memegang tangan Ila dan mencoba memberinya dukungan.
"Kamu tenang ya, kan ini sudah aman. Tak akan terjadi apa-apa selama aku disini." kata Angga
__ADS_1
Ila hanya mengangguk dan tanpa sadar dirinya hanyut dalam perkataan Angga sampai-sampai ia lupa kalau dirinya sedang marah kepadanya. Tangan Ila langsung bergeser melepas genggaman tangan dari Angga.
"Baru sebentar kamu lembut kepadaku, sekarang mukanya berubah lagi." kata Angga
Angga membujuknya kembali dan mendekatkan duduknya di hadapan Ila.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak marah lagi?" tanya Angga
"Aku tidak mau apa-apa, aku mau kamu jujur kepadaku."
Angga memegang wajah Ila dan kedua mata saling memandang.
"Sini aku beritahu kepadamu, aku sudah berkata jujur kalau aku tidak tahu perihal lipstick itu. Jika tiba-tiba benda itu ada di mobilku, aku tidak tahu mengapa itu bisa ada disana." kata Angga sambil meyakinkan Ila.
"Apa kamu yakin?" ucap Ila sambil terus menatap mata Angga
"Iya aku yakin, tolonglah jangan marah lagi." kata Angga dengan memegang tangan Ila sambil memohon.
Ila merasa kalau Angga kali ini tak berbohong kepadanya. Angga bisa sampai memohon kepada dirinya seperti itu maka sudah cukup membuktikan kalau dirinya telah berkata jujur dan tulus mengatakan itu semua.
"Apa kamu sudah tidak marah lagi?"
Ila hanya mengangguk yang menandakan kalau dirinya sudah tidak marah lagi kepada Angga.
"Baiklah, aku senang sekali kamu sudah tak marah lagi." kata Angga dengan reflek memeluk Ila.
"Dengan satu syarat." ucap Ila
"Aku mau makan rujak, apa kamu bisa belikan aku itu."
"Kamu seperti orang ngidam saja." ucap Angga sambil tertawa
"Ih..apa ada yang salah ya."
Muka Ila langsung berubah cemberut lagi dan Angga panik.
"Iya iya aku belikan kamu sekarang, tapi kamu harus ikut." ucap Angga
"Baiklah aku ikut denganmu." kata Ila
Di dalam mobil mereka sedang sibuk mencari di sekeliling orang yang berjualan rujak.
"Memangnya kamu sengidam itu ya pada rujak." kata Angga
"Aku bukan ngidam tapi aku lagi ingin makan itu saja."
"Tapi permintaan kali ini sangat aneh seperti orang hamil saja."
"Kamu ini ikhlas ga sih cariin aku rujak." ucap Ila
Angga pun terdiam dan fokus kembali untuk mencari bapak-bapak yang jual rujak.
Setelah beberapa lama menoleh kanan kiri, akhirnya bapak penjual rujak itu telah terlihat di seberang jalan.
__ADS_1
"Nah, akhirnya ketemu juga. Aku turun dulu ya, kamu diam disini." kata Angga
"Siap bos." kata Ila dengan kegirangan
Ila menunggu sangat lama sekali karena saat itu pedagang rujaknya sedang dikerumuni banyak pembeli sehingga Angga membutuhkan sedikit usaha untuk mendapatkannya.
Hampir setengah jam menunggu, pintu mobil terbuka.
"Akhirnya datang juga rujak aku." ucap Ila
"Maaf ya, kamu nunggu lama ya." kata Angga
Ila tersenyum terenyuh dengan pengorbanan Angga. Menatap Angga yang sepertinya sangat kelelahan, Ila pun memberikan air minum kepadanya.
"Ini minum dulu." ucap Ila
"Terima kasih, kamu tahu saja aku haus."
"Aku yang seharusnya terima kasih padamu, sampai keringatan seperti ini." kata Ila sambil mengusap keringat Angga di dahinya menggunakan tisu.
"Aku kan sudah bilang padamu kalau aku akan melakukan apapun itu demi kamu." ucap Angga
"Bagaimana kalau kita makan rujak ini di taman dekat kantormu saja." kata Ila
"Iya boleh, ide bagus itu. Sekalian ada yang mau aku urus juga di kantor."
Mereka berdua pun pergi dari sana dan segera menuju ke taman yang dimaksud Ila tadi.
Sesampainya disana, Angga dan Ila duduk di sebuah gazebo.
"Aku sudah tak sabar." kata Ila
"Sini aku buka rujaknya." kata Angga
Setelah dibuka, Ila pun langsung menyantapnya dengan lahap. Ila dari kemarin memang sudah sangat ingin makan rujak.
"Pelan-pelan makannya." ucap Angga
"Ini aku sudah pelan kok."
Berbanding terbalik dengan perkataannya, Ila justru sangat cepat sekali makan rujak itu. Angga sampai tersenyum dengan tingkah laku kekasihnya.
"Ada apa kamu tersenyum?" tanya Ila
"Kamu ya, kalau makan selalu belepotan." ucap Angga
Terdapat bumbu di mulut Ila dan Angga pun mengusapnya.
"Terima kasih."
"Kamu tidak mau ya rujaknya?" lanjut tanya Ila
"Kata siapa, ini aku makan." kata Angga sambil melahapnya
Ila tak sadar kalau Angga sedang memperhatikannya makan. Angga sangat senang sekali melihat Ila begitu gembiranya menyantap rujak itu.
__ADS_1
"Tak sia-sia aku mengantri." ucap Angga dalam hatinya.