Bukan Benci Tapi Cinta

Bukan Benci Tapi Cinta
BAB 16 : MASIH BERANI DIA KE RUMAH


__ADS_3

Saat Ila keluar dari ruangan bos, tidak sengaja Jesi lewat dan bukan Jesi namanya kalau tidak menyapa dan kepo tentang urusan orang lain.


"Ada apa denganmu?, dari ruang bos kok cemberut." tanya Jesi


"Kamu dapat insentif ya dari bos." lanjut Jesi


"Apa kamu bilang, jangan ngada-ngada kamu." jawab Ila


Karena ucapan Jesi yang sudah tidak karuan tentang dirinya Ila pun menceritakan semuanya kepada Jesi kalau dirinya kena amukan bos karena bersikap tidak sopan dengan bos besar.


Tiba-tiba dengan cepat pintu ruang bosnya itu terbuka, Ila dan Jesi seketika kaget. Ternyata itu adalah Tuan Angga, Ila langsung mengajak Jesi pergi dari sana karena sudah enek dengannya.


Kembali ke ruangannya, Ila mengerjakan semua tugas tugasnya dengan semangat meskipun keadaan tubuhnya yang masih rintih.


Angga yang berada di ruang kerjanya sedang memikirkan keadaan Ila sambil melamun, dia tidak menyangka dengan Ila yang sekarang. Dia sekarang sudah menjadi musuh, yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan sebelumnya.


Jam demi jam telah di lewati, semua karyawan kantor telah selesai dan jamnya untuk pulang.


Ila pun mengemasi barangnya dan seperti biasa Jesi ke ruangan Ila untuk mengajaknya pulang bersama. Ila pun tidak bisa menolak ajakan Jesi itu.


Sesampainya di rumah, ibu langsung memeluk anaknya itu. Ila pun menjelaskan kejadian semalam semuanya kepada ibunya namun dia tidak mengatakan kalau keluarga Angga adalah orang yang membuat ayahnya meninggal dunia.


"Jadi sekarang Angga adalah bos mu, ibu ucapkan terima kasih karena sudah menolongmu." ucap ibu


"Sudah lama ibu tidak bertemu dengannya, sejak kelulusanmu ibu juga tidak melihatnya. Kapan-kapan ajak dia main kesini." lanjut ibu


Ila hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan satu kata pun, di dalam hatinya Ila mengatakan


"Kalau saja ibu tahu Angga yang sebenarnya, pasti ibu tidak akan sesuka ini padanya."

__ADS_1


Selesai itu, Ila bergegas membersihkan badannya setelah itu makan malam dan pergi untuk istirahat di kamarnya. Saat Ila sedang beristirahat di kamarnya, terdengar suara mobil ada di depan rumahnya.


Tak berselang lama ada yang mengetuk pintu rumah Ila. Saat itu adik Ila yang membukanya, dia terkejut dan setelah mengetahui siapa yang datang dia langsung memanggil ibunya itu.


"Oh..nak Angga, silahkan masuk." ucap Ibu


Angga merasa heran dengan sikap keluarga Ila yang begitu manis kepadanya yang mana sikap itu masih sama sejak dulu dia masih berteman baik dengan Ila. Dalam hatinya Angga masih merasa canggung dan berpikir mungkin Ila belum memberitahu mereka tentang keluarga Angga.


Ibu Ila menanyakan kedatangan Angga ke rumahnya malam-malam. Angga pun menjelaskan dia ingin menjenguk Ila apakah keadaan dia baik baik saja sekalian silahturahmi kesana karena sudah lama dia tak berkunjung ke rumah Ila.


Ibu pun menyuruh adik Ila memanggil kakaknya itu untuk menemui Angga. Di sela itu Ibu Ila mengucapkan terima kasih kepada Angga karena sudah menolong anaknya yang sedang pingsan dan mereka pun saling mengobrol satu sama lain.


Adik Ila tiba di ruang tamu mengatakan kalau kakaknya sudah tertidur pulas di kamarnya, lalu ibu mengatakan untuk membangunkannya sebentar karena ada Angga disana. Angga pun melarang ibunya itu untuk membangunkan Ila, karena Angga ingin membiarkan Ila istirahat yang cukup.


Di ruang tamu perbincangan antara Angga dan Ibu terjadi, Ibu pun menceritakan kalau Ayah Ila sudah tiada 1 tahun yang lalu karena kecelakaan dan tanpa ada keraguan sedikit pun Ibu meminta Angga untuk menjaga Ila sebagai pengganti ayahnya karena ibunya sangat percaya kepada Angga kalau dia teman laki-laki Ila yang baik. Angga hanya mengangguk menandakan dia bersedia untuk melakukan itu.


Karena sudah larut malam, Angga memutuskan untuk pulang.


"Iya bu, tidak apa-apa. Saya kesini juga ingin bertemu Ibu sama adik." jawab Angga


"Senang sekali bisa mengobrol banyak dengan ibu hari ini." lanjut Angga


"Hati-hati ya nak dijalan, nanti ibu bilang kalau kamu kesini." kata ibu Ila


Angga pamit dan menuju mobilnya, dia segera menancapkan gas mobil sedangkan ibu sudah mulai menutupi pintu dan tirai rumah karena sudah sangat malam sekali.


...****************...


Keesokan harinya, matahari sudah terbit dengan cerahnya. Ila bangun kesiangan hari ini, dia pun terburu-buru untuk berangkat ke kantor. Dia belum sempat sarapan, hingga ibu harus membawakan dia bekal untuk sarapan nanti di kantor. Jesi seperti biasa sudah ada di depan rumah Ila untuk mengajak Ila berangkat bersama. Mereka berdua berangkatlah ke kantor bersama

__ADS_1


Sesampainya di kantor. Mereka berdua berjalan menuju ruangannya masing-masing. Ila pun sangat terburu-buru karena sudah sangat telat saat itu. Ila melangkahkan kakinya dengan cepat, dia kebingungan karena ada yang menelepon jadi dia harus mengambil ponsel di tas. Kotak bekal makanan itu masih ada tangan Ila sebelahnya jadi dia kesusahan menggapai ponselnya itu. Karena hal itu semua Ila tidak sengaja menabrak seseorang yang membuat makanannya itu terjatuh ke bawah dan tidak sengaja sedikit mengenai baju orang itu.


Tanpa banyak bicara Ila langsung mengucapkan minta maaf, tanpa melihat siapa itu orangnya yang ia tabrak dia malah sibuk untuk membersihkan makanan di lantai yang terjatuh tadi.


Semua karyawan melihat kejadian itu dan merasa kaget karena Ila itu sedang berhadapan dengan orang penting disana.


Siapakah orang yang ditabrak Ila, tak bukan lagi dia adalah Tuan Angga. Saat Ila sibuk membersihkan makanan di lantai, Angga memegang tangan Ila untuk menghentikan Ila membersihkan itu semua. Ila pun tahu orang yang dia tabrak itu adalah Angga, dia tidak berani untuk mengelak karena banyak karyawan yang sedang menontonnya saat itu. Ila hanya diam saja dengan perlakuan Angga kepadanya.


"Ayo kamu ikut aku." perintah Angga (sambil menarik tangan Ila)


Ila hanya menurutinya karena dia tidak ingin dipecat dari perusahaan itu. Tibanya di ruangan Angga, Ila hanya diam seribu bahasa.


"Bajuku kotor karenamu." ucap Angga


"Apa yang kamu pikirkan, kalau jalan itu harus fokus." (Angga berusaha profesional antara atasan dan bawahan, mungkin Ila akan lebih suka kalau Angga bersikap begitu jadi akan lebih mudah dia masuk di kehidupan Ila lagi)


Dalam hati Ila merasa heran dengan sikap Angga yang lebih tegas ini. Ila pun meminta maaf kepada Angga. Ila mengalah saja dan dia berpikir kalau ini dia anggap sebagai ucapan terima kasih karena telah merawatnya selama pingsan. Ila tidak akan marah hari itu kepadanya.


"Maaf tuan, Aku tidak sengaja." ucap Ila agak sedikit takut


"Sekarang kamu ambil lap disana." suruh Angga (dalam hatinya Angga bingung dengan sikap Ila yang mau ia suruh-suruh begitu)


Ila pun mengambil lapnya dan Angga menyuruh Ila membersihkan noda di kemeja nya itu, awalnya Ila heran tapi karena ini memang kesalahannya Ila menurutinya saja.


Angga merasa senang bisa memandangi Ila dengan jarak dekat seperti itu, Angga pun mengerjai Ila dengan melakukan hal ini itu karena kesalahan dia. Angga teringat kalau bekal Ila terjatuh, dia pikir pasti Ila belum makan. Angga mengajak Ila untuk makan.


"Ayo ikut aku." (menarik tangan Ila)


"Mau kemana tuan?" (bersikap profesional padahal dalam hatinya dia sudah mulai emosi)

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2