
"Jadi kamu beneran mau mengakhiri hubungan ini?" tanya rendi berat
"Bukan begitu, maksudnya disekolah kita semakin menjaga jarak, biar mereka pikir kita sudah tidak ada hubungan, aku akan pindah tempat duduk nya juga biar semakin meyakinkan, dan kamu jangan membela aku atau marah apabila ada yang meggodaku! "
"Oooooh...... kirain kamu memang berniat untuk pisah karena mungkin kamu lelah berhubungan sama aku, " lirih rendi berucap
"Kamu jangan bilang seperti itu, aku melakukan ini pun berat, tapi harus biar tidak sampai kejadian seperti ini lagi! " sungutku sambil cemberut.
"Iya iya aku paham, aku percaya kok sama kamu, tapi nanti susah dong buat liat kamu aja apalagi buat ngobrol walaupun selama ini biar bisa ngobrol kan kita pura-pura ngobrolin pelajaran, padahal modus! " ujarnya lagi.
"Oh iya ren, nanti kalau lulus sekolah kamu kerja di kantor ayahku aja yah..., biar bisa sambil kuliah juga! " aku tawarin rendi buat kerja di kantor ayahku aja, karena ayah juga sudah setuju buat rendi bisa kerja di kantor.
"Kamu itu ngaco din, mau jadi apa nanti aku di kantor ayah mu dengan hanya lulusan sma? paling hanya OB!"
__ADS_1
"Kata siapa hanya OB, ada kali admin yang masih bisa di isi sama lulusan SMA? " jawabku sewot
"Ya tapi paling karena koneksi din..... apalagi kalau aku masuk pasti liat nya karena dekat sama kamu "
"Kamu kan pinter ren, kenapa jadi pesimis begitu? "
"Bukan pesimis din, tapi faktanya memang begitu, orang-orang kecil seperti aku gini mah boro-boro lulusan SMA, sarjana pun sulit untuk mendapatkan posisi di tempat kerja yang bonafit, dapat kerja an begini aja aku mah udah bersyukur banget."
"Ya, aku mah cuma ngasih saran aja, lagian buat nanti setelah lulus kalau sekarang mah ya terserah kamu aja. "
"Itulah yang sekarang ayah terkadang bigung karena aku tuh dari dulu ga berminat jadi seorang pengusaha atau wanita karir, aku tuh ingin seperti ibu aja jadi ibu rumah tangga, bahkan buat kuliah pun aku tuh ga minat, aku paling kursus2 deh buat ngisi waktu."
"Trus.....nanti siapa yang akan menggantikan ayah kamu din, kamu harus kuliah dan belajar bisnis, karena pasti suatu hari nanti kamu akan jadi penerus bisnis yang sudah ayah kamu rintis, apalagi kamu anak tunggal"
__ADS_1
"Ya maka dari itu, kamu kan nanti kerja di kantor ayah?!! ", biar belajar siapa tau nanti kita berjodoh kan, " sahutku lirih
Rendi hanya tersenyum mendengar kata-kataku barusan.
"Emangnya kamu yakin sama hubungan ini?, kamu ga malu gitu punya suami cacat seperti aku din..... kamu cantik, pinter, dan yang pasti kamu orang berada, kita bagaikan langit dan bumi, pasti akan banyak sekali rintangan yang akan kita hadapi. " keluhnya lagi
"Kenapa sih kamu selalu bilang begitu? kamu ga yakin sama hati aku? kamu ga yakin sama hubungan kita? " ketusku karena selalu dan selalu rendi akan mengatakan tentang kekuranga fisik nya dan status sosial kami, padahal aku, bahkan ayah dan ibuku juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Bukan gitu din, tapi aku rasanya gamang melihat masa depan kita, bukan dari kamu, tapi dari lingkungan, orang pasti akan mencemooh hubungan kitq, mungkin saja akan jadi viral seperti kisah beauty and the beast! " katanya lagi sambil menghela nafas seperti mengeluarkan beban yang sangat berat.
"Kalau kamu ga yakin ya udah kita sudahi aja hubungan ini!, buat apa kita lanjutkan! " sewot aku mendengar begitu fesimisnya dia akan hubungan kami ini.
Aku pun beranjak berdiri dan hendak keluar pergi, namun tanganku dicekal oleh rendi
__ADS_1
"Kebiasaan deh ngambek! " ledek rendi sambil senyum.
"Duduklah dulu, saya belum selesai ngomongnya! " sahutnya lagi, sambil tanganku masih digenggam oleh tangannya rendi.