
"Eh,itu teh menantunya kang Harto yah,ya Allah ganteng banget yah,kaya artis artis di TV." ucap salah satu dari mereka.
"Iyah yah,mana ganteng,kaya,ramah lagi, aduh itu mah idaman pisan,nanti saya teh mau minta cariin ah sama neng Anna laki laki di Jakarta,buat calon suami si Minul." timpal nya.
"Kalau gitu mah,si Minul nya suruh kaya neng Anna dulu,cantik,baik,pinter,baru bisa nikah sama orang kaya." jawab nya.
"Jangan ngeledek anak saya atuh Bu,memang sih si Minul itu nggak secantik neng Anna,tapi dia kan sekolah nya juga bareng sama Anna,jadi pasti juga sama pinter nya." ibu itu tak mau kalah.
"Tapi kan tetep beda atuh ce,apalagi saya teh denger neng Anna teh lanjutin kuliah nya di Jakarta,dia mau jadi dokter,keren deh pokoknya mah."
"Ya sudahlah,ayo kita pulang,nanti kita ketahuan lagi ngerumpi di sini,biar kita kasih tau yang lain,kalau ada orang ganteng ke kampung kita." ucap ibu ibu itu yang langsung berjalan.
"Ayo,ayo!" mereka pun pergi dari tempat tersebut.
Sementara Natan,ia baru saja masuk ke dalam kamar Anna,Natan melihat sekeliling,ia baru pertama kali masuk ke dalam kamar Anna.
"Eemm nyaman juga kamarnya." Natan menutup pintunya kembali.
"Mas mau lihat pemandangan nggak,coba sini!" Anna membuka kaca jendela nya.
Saat jendela nya di buka terlihat pemandangan yang sangat menyejukkan mata,dimana ada persawahan yang sedang hijau hijau nya luas,seluas mata memandang,Natan sangat takjub melihat nya.
"Wah,bagus sekali,eemm bisa betah aku kalau begin." ucap Natan yang memejamkan matanya,sambil menikmati angin yang menyejukkan.
"Ya udah,kita tinggal di sini aja,hehehe." Anna terkekeh.
"Terus gimana kerjaan ku,belum lagi kuliah kamu di Jakarta." ucap Natan.
"Iyah juga sih." ucap Anna,ia menghembuskan nafas nya.
"Sayang?" ucap Natan,ia memeluk Anna dari belakang,saat Anna sedang berdiri di dekat jendela kamarnya.
Tiba-tiba Anna merasakan hal yang berbeda, perasaannya merasa nyaman saat Natan memperlakukannya seperti itu, apalagi Natan menyebut nya dengan sebutan sayang,hal yang baru ia dengar dari mulut suaminya itu.
"Kenapa mas?" Anna terlihat gugup.
"Boleh kan,aku panggil kamu seperti itu?" Natan mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"I-iyah." ucap Anna gugup.
Anna sepertinya baru pertama kali merasakan apa itu cinta,dan cinta pertama nya jatuh pada suaminya,ia merasakan nyaman saat bersama Natan, apalagi saat ia telah menyerahkan dirinya seutuhnya pada suaminya itu.
"Kamu mau nggak punya anak dari mas?" tanya Natan.
"Iyah mas." Anna tersenyum. "Tapi Anna teh nggak tau gimana cara bikinnya." sambung Anna dengan polosnya.
Natan pun langsung menepuk jidatnya,baru saja ia ingin menikmati suasana romantis,Anna malah dengan konyolnya berkata seperti itu.
"Mau mas ajarin?" ucap Natan.
"Boleh." ucap Anna.
"Cara nya sama kayak kemarin." Natan menaikkan satu alisnya sambil tersenyum.
"Maksud nya,kayak malam pertama?" tanya Anna,Natan pun mengangguk.
"Ya udah kalau gitu nggak usah lah,kemarin kan udah,jadi Anna bisa punya anak dong,Iyah kan mas." ucap Anna.
("Aduh,gagal deh,salah ngomong nih kayaknya,tau gitu tadi langsung gas aja.") batin Natan.
"Emang boleh?" tanya Anna dengan polosnya.
"Boleh sayang,boleh banget,jadi gimana,ayo?" Natan tersenyum manis.
"Eemm,nanti aja deh sekarang masih siang, malu,hehehe." Anna tertawa kecil.
Natan pun langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur,ia pusing dengan tingkah istri nya itu,yang tidak peka ia menginginkan nya.
"Kenapa mas?" Anna mendekati Natan.
"Nggak mas ngantuk aja pengen tidur dulu." ucap Natan yang menenggelamkan wajahnya di atas bantal.
Anna pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sampai mereka pun tertidur bersama,mungkin karena kelelahan setelah perjalanan tadi.
***
__ADS_1
Sore Harinya
Suharto baru saja pulang dari perkebunan,saat Suharto keluar dari mobilnya,ia terkejut ketika melihat ada sebuah mobil baru di garasi rumah nya.
Dengan penasaran,ia pun segera masuk ke dalam untuk memastikan mobil siapa kah itu. "Ambu?" Suharto memanggil istrinya.
Ternyata,Ambu sedang berada di dapur, sepertinya ia sedang memasak. "Iyah bah,Ambu di dapur." Ambu berteriak takut Abah tak mendengar.
Ketika Abah mendengar suara istri nya,ia pun segera menghentikan nya ke dapur. "Ambu,itu teh di depan mobil siapa,kita kedatangan tamu dari mana?" tanya Abah penasaran.
"Si neng pulang bah,sama suaminya." ucap Ambu sambil mengaduk aduk masakan nya di atas wajan.
"Hah,kenapa Ambu nggak telpon Abah,tau gitu Abah pulang dari tadi." ucap Abah.
"Tadi Ambu nelpon Abah berkali kali,eh ternyata hape Abah teh lagi di cas di kamar." ucap Ambu menjelaskan.
"Iyah,Abah lupa tadi nggak bawa hape,terus sekarang mereka di mana?" tanya Abah.
"Kayaknya teh mereka masih tidur,kasian mungkin cape bah,ini Ambu teh lagi masak buat mereka,supaya nanti kalau bangun bisa langsung makan." ucap Ambu.
"Oh ya udah,eemm Ambu,gimana keadaan anak kita,si neng bahagia nggak yah di Jakarta?" tanya Abah penasaran.
"Alhamdulillah Abah,si neng tambah berisi badan nya, kayaknya dia betah tinggal di Jakarta,Ambu seneng lihat nya,dia tambah cantik kayak orang kota." ucap Ambu menceritakan.
"Syukur atuh kalau gitu, sekarang Abah mau mandi dulu,Abah nggak sabar pengen ketemu si neng sama suaminya." ucap Abah yang langsung pergi dari dapur.
Sementara di kamar,Natan baru saja membuka matanya,ia baru tersadar kalau ternyata ia ketiduran,Natan pun melihat jam dinding,ia terkejut, ketika melihat jam menunjukkan pukul tujuh,ia pun langsung bangkit membangun kan Anna yang masih tertidur di samping nya.
"Anna,sayang bangun." Natan terlihat panik.
"Kenapa mas." Anna mengucek Matanya.
"Kita ketiduran,lihat,ini sudah jam tujuh malam." ucap Natan,Anna pun bangkit dari tidurnya,ia melihat jam dinding. "Coba mas lihat jam nya di handphone, kayaknya jam nya mati deh,belum di benerin." ucap Anna.
Natan pun segera mengecek handphone nya,ia pun bisa bernafas lega, Setelah mengetahui kalau ternyata masih jam tiga sore.
"Gimana?" tanya Anna.
__ADS_1
"Ternyata jam tiga sore sayang,mas udah panik tadi hmmm." Natan menghembuskan nafasnya.
"Ya udah ayo kita mandi,Abah pasti sudah pulang,nggak enak kalau lama lama di kamar." ucap Anna turun dari tempat tidur.