
Beberapa saat kemudian,Andin sampai di tempat tujuannya,tapi dia tidak pulang ke rumah, karena terlalu penasaran ia pun ke kantor papa nya terlebih dahulu untuk menanyakan apa yang menggangu pikiran sejak tadi.
Saat sudah sampai di depan kantor papa nya,Andin pun tak sengaja menabrak seorang pria, karena saking terburu-buru nya untuk segera menemui papa nya.
Andin membulatkan matanya saat ia melihat pria yang ia tabrak.
("Siapa laki-laki ini, sepertinya aku pernah melihat nya tapi di mana yah?") batin Andin.
"Andin yah?" ucap seseorang yang menabraknya.
"Kok tau." ucap Andin ragu.
"Aku Natan,masa kamu nggak ingat sih, bukannya dulu kamu pernah main ke rumah ku, ternyata sekarang kamu makin besar makin cantik yah,aku hampir nggak ngenalin kamu tadi." ucap Natan.
"Kak Natan?" ucap Andin terkejut.
"Iyah,eemm kamu pasti mau ketemu sama papa kamu yah,aku baru aja selesai meeting sama om Dion," ucap Natan.
"Oh Iyah,kalau gitu temenin aku yuk!" ajak Andin.
"Maaf Din,aku ada urusan lain,tapi lain kali aku akan ajak kamu main,nanti aku kenalin kamu sama seseorang." ucap Natan.
("Pasti kak Natan,mau kenalin aku sama adik nya,eemm kayaknya bakalan seru nih,kalau aku minta bantuan Anna buat Deket sama kakak nya.") batin Andin.
"Oh ya udah kalau gitu,hati hati di jalan yah!" ucap Andin,Natan pun membalas dengan senyuman, sepertinya ia sangat buru buru saat akan pergi.
Andin menghembuskan nafasnya, melihat kepergian Natan dengan sendu,namun ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan nya,ia pun teringat akan niatnya ke kantor papa nya,dengan begitu ia pun langsung masuk untuk menemui papa nya itu.
Saat sudah sampai di depan ruangan papa nya (Dion),Andin pun mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok...tok..tok...
"Masuk!" ucap Dion dari dalam,Andin pun langsung masuk.
"Eh, anak papa,tumben sekali ke kantor papa,ada apa nih?" tanya Dion, sambil menghampiri anak nya itu. "Eh sebentar, bukannya kamu mulai masuk kampus yah hari ini, bagaimana tadi di kampus?" tanya Dion penasaran.
"Andin seneng pah,malahan,Andin udah punya temen baru, yang baik, cantik, pokonya Andin senang deh." ucap Andin.
"Syukurlah kalau gitu." ucap Dion sambil tersenyum.
"Pah,Andin mau tanya sesuatu sama papa." ucap Andin sambil tersenyum.
"Tanya apa sayang,kenapa sih anak papa ini." Dion mengusung rambut Andin.
"Om Hartawan itu aslinya dari mana sih pah?" Andin duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Maksud mu,pak Hartawan yang mana?" tanya Din belum paham.
"Oh,pak Hartawan yang itu,barusan papa habis meeting sama Natan,anak nya dia,kamu ingat gak,eemm tapi kenapa kamu nanyain dari mana asal pak Hartawan." ucap Dion heran.
"Iyah pah,aku juga tadi ketemu dia di depan,tapi kayaknya dia lagi buru buru,sampai tadi kita tabrakan waktu Andin mau masuk,Jawab aja kenapa sih pah,Andin cuma pengen tau." ucap Andin dengan gaya manja nya.
"Pak Hartawan itu aslinya dari Bandung,cuma karena Ajeng istrinya orang Jakarta,jadi dia menetap tinggal di sini, karena memang kan perusahaan nya ada di Jakarta, yang papa tau sih gitu sayang,emang nya kenapa sih?" ucap Dion.
("Oh berarti om Hartawan emang aslinya dari Bandung,mungkin Anna tinggal sama neneknya kali yah di Bandung, soalnya Anna kan bilang kalau di sekolah SMA di Bandung,hmm akhirnya ke jawab juga,mulai sekarang,aku akan deketin kak Natan lewat Anna.") batin Andin.
"Ya udah deh pah, makasih yah atas jawabannya,kalau gitu Andin pulang dulu,dah papa?" ucap Andin yang langsung ke luar dengan kegirangan.
"Hmm dasar anak muda." Dion geleng-geleng saat melihat tingkah anaknya itu.
__ADS_1
***
Natan baru saja bisa memegang ponselnya karena ia ada meeting dadakan sehingga ia tidak mengabari Anna terlebih dahulu.
"Ya ampun,apa Anna marah yah,kenapa dia bilang gak usah jemput dia ke kampus,apa karena aku yang kelamaan yah,aduh b*go banget sih loh Tan,kenapa tadi nggak ngabarin Anna dulu,dia pulang sama siapa yah,aku takut nya dia nyasar, soalnya dia kan belum tau benar jalanan Jakarta?' Natan melihat pesan yang di kirimkan Anna.
Natan pun menelepon Anna berkali kali,tapi Anna tak menjawab telpon nya,Natan pun menjadi khawatir,ia takut Anna kenapa Napa.
"Aku harus pulang dulu kayaknya,di kantor juga seperti nya nggak ada kerjaan yang mendesak,aku bisa pulang dulu sebentar untuk memastikan,kalau Anna sudah pulang dengan selamat." gumam Natan, sambil mengendarai mobil nya.
***
Sementara di rumah,Anna baru saja masuk ke dalam rumah nya,saat ia masuk ternyata,Ajeng Sedang menonton televisi di ruang tengah,ia pun langsung menghampiri nya.
"Assalamualaikum mah?" Anna mencium tangan mertuanya.
"Waalaikumsallam." ucap Ajeng,ia melihat kanan kiri dengan sedikit heran, karena Anna tak bersama dengan putra nya. "Kamu pulang sama siapa An,Natan mana?" tanya Ajeng sambil celingukan.
"Anna pulang sama temen baru mah,nggak tau tuh suami, handphone nya nggak di angkat,Anna tadi teh bingung harus pulang sama siapa,tapi untung nya ada temen baru yang mau nganterin." ucap Anna memasang muka sedih.
"Ya ampun,Natan ini keterlaluan yah,mama kan udah bilang suruh antar jemput kamu,mana nggak ngabarin lagi ke kamu,maafin Natan yah sayang,nanti kalau di pulang,mama bakal online dia." ucap Ajeng,sambil memegang Anna.
Anna pun tak membalas ucapan mertuanya,ia pun tak berniat untuk membela suaminya itu,ia terlalu kesal karena Natan tak menjawab telpon nya.
"Ya udah nak, sekarang kamu masuk kamar gih,pasti kamu capek kan yah?" ucap Ajeng, kasihan pada menantu nya karena ia harus pulang dengan seseorang yang baru ia kenal.
"Ya udah mah,Anna mau ganti baju dulu yah, sekalian mau mandi juga." ucap Anna.
"Iyah,don't worry yah sayang,nanti mama sendiri yang akan omelin anak itu." ucap Ajeng.
__ADS_1
("Hahaha,rasain nanti di marahin sama mama,makanya jangan cari masalah sama Anna,pake nggak angkat telepon lagi.") batin Anna.
Anna pun langsung ke kamar untuk membersihkan dirinya, setelah itu ia tidur siang, sepertinya ia cukup lelah hari ini,Anna merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah itu ia memejamkan matanya.