
("Kenapa harus di kasih tau ke mama sih,gue sengaja ngomong nya pelan biar nggak kedengaran,malah ngomong,Anna, Anna") batin Natan.
"Apa? Natan bilang begitu,wah dia memang sweet, benar kan pah yah." ucap Ajeng pura pura terkejut, padahal ia tau tadi Natan mengatakan nya.
"Iyah yah,anak kita benar benar sweet, sepertinya papa nggak salah cariin dia istri, walaupun awalnya dia uring uringan eh ternyata mau juga akhirnya,hehehe." Hartawan terkekeh,ia ingat betul bagaimana waktu itu Natan menolak perjodohan ini.
"Eh jangan ngomong gitu pah,nanti anak kita malu." ucap Ajeng,ia menahan tawanya.
Natan pun terlihat salah tingkah karena di ledek terus oleh orang tua nya,ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di restoran yang sudah merasa pesan untuk acara makan malam ini.
Andin terlihat sangat senang saat keluarga Hartawan datang, mereka pun langsung berdiri untuk menyambut nya.
"Maaf kami terlambat,apa kalian sudah lama menunggu?" ucap pak Hartawan saat berjabat tangan dengan pak Dion.
"Tidak tidak,bukan kalian yang terlambat,tapi kita yang datang terlalu cepat." ucap pak Dion.
"Baiklah, silahkan duduk kembali." ucap Hartawan. "Oh ini Andin yah,ya ampun cantik sekali,sudah besar yah sekarang." Hartawan melihat ke arah Andin.
"Iyah Om." Andin mencium tangan Hartawan.
Semua orang pun langsung duduk, makanan pun baru saja tersaji saat keluarga Hartawan baru datang.
"Sepertinya pas sekali, makanan baru saja datang,jadi masih panas." ucap pak Dion.
"Oh Iyah,ayo silahkan kita mulai acara makan malam nya." ucap Hartawan.
("Aduh,ini teh gimana yah,kok aku jadi deg-degan gini,aku takut Andin akan kecewa kalau dia tau Natan suamiku,apalagi sepertinya Andin menyimpan perasaan padanya.") batin Anna,ia terlihat gelisah sejak tadi.
"Kamu kenapa nggak makan?" tanya Natan,melihat Anna hanya terdiam.
"I-iyah." ucap Anna gugup.
Hartawan pun melihat ke arah Anna. "Oh Iyah saya hampir lupa mengenalkan Anna,tapi kalian sudah kenal kan dengan Anna,tapi sepertinya Andin belum kenal yah." ucap pak Hartawan.
"Sudah om,Anna teman satu kampus Andin." ucap Andin tersenyum ramah.
__ADS_1
"Iyah,saya juga tidak menyangka menantu mu akan satu kampus dengan anak saya,hehehe." pak Dion tertawa kecil.
Deg
Andin terkejut saat pak Dion bilang kalau Anna adalah menantu pak Hartawan,ia benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
("Sebentar,apa? menantu,apa tadi aku nggak salah dengar?") batin Andin.
"Yang benar,kamu satu kampus sama Andin?" tanya Hartawan pada Andin.
"I-iyah pah." jawab Anna gugup.
"Maksud nya,Anna Istrinya kak Natan?" Andin berdiri.
"Iyah sayang,memang nya kenapa,kok kamu kaget gitu,emang kamu belum tau,mama sama papa kan hadir di acara pernikahan mereka." ucap pak Dion.
"A-aku mau ke toilet sebentar." ucap Andin yang langsung pergi dengan sedikit berlari.
"Andin, tunggu sebentar!" ucap Anna. "Semuanya maaf yah,saya permisi sebentar." Ucap Anna yang Langsung mengejar Andin.
"Biasalah anak muda,paling juga salah paham." ucap pak Dion.
("Andin kenapa yah,apa dia nggak tau kalau Anna istri ku,tapi kenapa bisa,dan kenapa juga dia sepertinya sangat marah mendengar aku sudah menikah dengan Anna.") batin Natan.
Sementara,Anna mengejar Andin ke toilet,ia ingin menjelaskan semua kesalahpahaman ini,Anna melihat Andin seperti sedang menangis di depan cermin toilet,ia pun menghampiri nya.
"Din..." panggil Anna lirih.
"Dasar pembohong,kenapa kamu nggak bilang kalau kamu istri nya kak Natan." Andin melihat Anna lewat cermin yang berada di depan nya.
"Aku beberapa kali udah mau bilang,tapi setiap aku mau bilang kamu teh selalu potong ucapan ku, apalagi pas tadi saat kita di kampus." ucap Anna menjelaskan.
"Kamu sudah buat aku kecewa An." ucap Andin.
"Aku teh ngaku salah,tapi mau bagaimana lagi,ini kenyataan nya." ucap Anna.
"Sekarang kamu puas kan,udah buat drama ini,kamu hebat An." ucap Andin.
__ADS_1
"Aku nggak bermaksud seperti itu Din,ini teh cuma salah paham." ucap Anna.
"Terserah lah, yang jelas aku kecewa karena kau sudah membuat aku berharap lebih kepada suamimu." Andin langsung keluar dari toilet.
("Aduh,gimana ini teh,kenapa Andin jadi marah,aku harus bagaimana.") batin Anna.
Anna kembali lagi,ke tempat tadi,namun ia tak menemukan Andin di sana,ia pun merasa bersalah pada Andin karena tidak jujur walaupun ia sudah berusaha untuk jujur padanya.
"Andin mana sayang?" tanya Ajeng,saat Anna kembali sendirian.
"Dia kirim pesan nih, katanya dia pulang duluan,enggak enak badan katanya,maafin putri saya yah,dia pulang nggak pamit dulu sama kalian." ucap pak Dion merasa tidak enak.
("Andin sampai pulang duluan, kayaknya dia teh sangat marah sama aku,duh,kok jadi gini yah.") batin Anna.
"Kamu nggak papa kan?" tanya Natan saat melihat Anna seperti memikirkan sesuatu.
"Nggak kok,nanti aku jelasin di rumah." ucap Anna sedikit berbisik.
"Ya udah ayo,kita lanjutkan makan malam nya." ucap Hartawan.
Beberapa saat kemudian,mereka pun selesai makan, mereka pulang masing masing ke rumah nya,saat Dion dan Lia di dalam mobil mereka pun saling berbincang.
"Pah,papa ngerasa ada yang aneh gak sih sama putri kita dan menantunya pak Hartawan?" tanya Lia.
"Iyah mah, kayaknya sih mereka ada kesalahpahaman,tapi papa nggak tau itu apa,namun sepertinya ada kaitannya sama Andin yang waktu itu tiba-tiba ke kantor papa." ucap Dion.
"Maksud nya?" Lia masih belum paham.
"Andin waktu itu tiba-tiba ke kantor papa, cuma buat nanyain pak Hartawan asalnya dari mana,papa kira sepertinya Andin menyukai Natan tapi ia tidak tau kalau Anna adalah istri nya,mungkin saja Andin menganggap kalau Anna itu adiknya,jadilah mereka salah paham seperti ini." ucap pak Dion.
"Oalah kok bisa gitu yah pah?" ucap Lia.
"Iyah mah,namanya juga anak muda,biarlah mereka selesaikan masalah mereka sendiri,nanti juga bakal baikan lagi,ini kan cuma salah paham aja." ucap Dion.
"Tapi pah, bagaimana kalau putri kita ternyata tidak terima kalau Natan sama Anna sudah menikah,mama takut Andin akan berbuat nekat." ucap Lia merasa khawatir.
"Nggak akan mah,papa tau banget bagaimana sifat anak kita,nanti papa akan bantu berbicara sama dia, supaya dia bisa mengerti dan menerima kenyataan." ucap Dion.
__ADS_1