
Sekitar pukul 01.00 dini hari,mereka baru saja sampai di rumah sakit,Andi langsung ke bagian resepsionis untuk mendapatkan informasi di kamar mana mama nya di rawat, setelah mendapatkan informasi nya,Andi,Abah dan juga Ambu langsung berjalan ke arah kamar VVIP tersebut.
Abah dan ambu menunggu di depan ruangan,karena kata resepsionis tadi,mereka bisa masuk asalkan secara bergantian,Andi pun langsung masuk ke dalam,Kebetulan,saat Andi masuk, dokter sedang mengecek keadaan nya, terlihat Anya sedang berbaring masih memejamkan matanya dengan kepalanya yang di perban.
"Bagaimana keadaan mama saya Dok?" tanya Andi panik.
"Pasien belum sadarkan diri,keadaan nya masih kritis,kita hanya bisa berharap,semoga pasien bisa segera sadar,kalau begitu saya permisi dulu,jangan terlalu banyak orang yang melihatnya,." ucap Dokter tersebut,ia pun langsung keluar dari ruangan tersebut.
Andi duduk di samping ranjang pasien,ia melihat wajah Anya yang tidak berdaya. "Siapa yang melakukan ini mah,kenapa sampai ada orang yang berbuat ini sama mama." ucap Andi,ia meneteskan air matanya.
Seketika ia pun teringat papa nya,ia pun segera menelpon nya. "Halo pah." ucap Andi.
"Iyah,kenapa nak?" tanya Arif.
"Apa papa tau kalau mama masuk rumah sakit?" tanya Andi.
"Kenapa,apa yang terjadi?" Arif sepertinya terkejut.
"Ada yang coba mau mem*unuh mama pah,Andi juga belum tau siapa, sekarang Andi sedang di rumah sakit,tapi Andi akan ke kantor polisi untuk menanyakan kelanjutan kasus ini." ucap Andi.
"Terus bagaimana keadaan mama kamu sekarang?" tanya Arif.
"Mama masih kritis pah,mama belum sadarkan diri." ucap Andi.
"Kalau begitu,papa sekarang ke kantor polisi,nanti kita ketemuan di sana yah." ucap Arif.
"Iyah pah." ucap Andi yang langsung mematikan telponnya.
("Sepertinya belum ada media yang meliput kejadian ini,berarti polisi pun masih berada di tempat kejadian,tapi sepertinya aku ke kantor polisi saja dulu untuk memastikan, karena aku juga tak tau di mana kejadian nya.") batin Andi.
Andi pun langsung keluar dari ruangan tersebut. "Ambu,Abah,Andi nitip mama dulu yah,Andi mau ke kantor polisi dulu,Andi harus mengurus sendiri kasus ini." ucap Andi.
__ADS_1
"Iyah nak,tapi sekarang bagaimana keadaan mama nya?" tanya Abah.
"Mama masih belum sadar bah, keadaan nya kritis." Andi terlihat sedih.
"Ya sudah,kamu hati hati atuh yah,kami akan menjaga mama kamu di sini." ucap Ambu.
"Terimakasih yah Abah,Ambu, sekarang Andi berangkat dulu." ucap Andi, mereka pun mengangguk.
Andi langsung Berangkat ke kantor polisi,di sana ia bertemu papa nya yang sudah menunggu nya. "Papa." Andi langsung menghampiri Arif.
"Ayo,kita masuk!" Arif langsung masuk bersama Andi.
Mereka menghampiri polisi yang sedang bertugas, mereka menanyakan kronologis kejadian nya,dan ternyata di sana masih ada saksi yang melihat kejadian saat Anya sudah tergeletak di lantai,yaitu dua orang yang sedang berjaga di kompleks nya,Andi pun baru tau ternyata kejadian nya di rumah nya sendiri.
"Jadi bagaimana sekarang, apakah sudah ada petunjuk?" tanya Andi.
"Belum,eemm apakah di rumah anda ada CCTV?" tanya polisi.
"Ada pak." ucap Andi.
"Baik pak ayo kita ke rumah saya." ucap Andi.
"Ayo,di sana juga sudah ada yang bertugas, untuk mencari bukti lain." ucap polisi.
"Ayo pah!" ucap Andi mengajak Arif untuk ikut.
Mereka pun langsung pergi ke rumah Andi, polisi pun mengikuti mobil Andi dari belakang, beberapa saat kemudian mereka sampai di depan rumah Andi,dan memang benar masih ada beberapa polisi yang masih bertugas di sana, terlihat rumah Andi yang sudah terdapat garis polisi di sekitar nya.
Andi pun langsung membawa polisi yang bertugas untuk menyelidiki ke sebuah ruangan,di sana Andi membuka sebuah laptop nya yang langsung mengarah ke CCTV yang ada di rumah nya.
"Elsa." Andi terkejut saat mengetahui kalau pelaku nya adalah Elsa.
__ADS_1
"Bukankah wanita ini tunangan anda?" tanya polisi.
"Iyah pak." Andi membulatkan matanya,tak percaya ternyata Elsa sangat kejam.
"Kalau begitu,kita minta alamatnya,biar kami yang menindaklanjuti kasus ini." ucap polisi.
"Baik pak, terimakasih,saya mau Elsa di hukum seadil-adilnya." ucap Andi,ia sangat marah dengan perbuatan Elsa.
Arif melihat ekspresi Andi yang seperti menahan amarah. "Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit,kita menjaga mama mu di sana." ucap Arif.
"Tidak pah,aku mau mencari Elsa,jika papa mau ke rumah sakit silahkan,di sana sudah ada Ambu dan Abah yang menjaganya,aku yang meminta mereka untuk menjaga mama." ucap Andi.
"Ambu,Abah?" Arif terlihat kebingungan, mendengar nama itu.
"Dia mertuanya Natan,mereka sudah banyak membantu Andi pah." ucap Andi.
"Maksudnya,Natan anak nya Hartawan?" tanya Arif meyakinkan.
"Iyah pah, cerita nya panjang,tapi yang pasti mereka sangat berjasa untuk hidup Natan, apalagi keluarga nya." Andi menunduk.
"Maafkan papa yah nak,mungkin selama ini papa tidak memberikan kasih sayang sama kamu, sehingga kamu mencari kasih sayang dari orang lain." Arif merasa bersalah.
"Andi tidak mencari nya pah,tapi mereka sendiri yang memberikan kasih sayang itu, mereka sangat baik,mereka sudah menganggap Andi sebagai anak kandung nya sendiri." ucap Andi.
"Papa merasa tertampar mendengar perkataan mu nak,papa benar benar merasa gagal menjadi orang tua,papa sangat iri terhadap mereka yang bisa begitu baik menyayangimu,maafkan papa." Arif sangat merasa bersalah.
"Tidak ada yang perlu di maafkan dan memaafkan pah,semua yang sudah terjadi biarlah terjadi,Andi pun berpikir,apa yang terjadi pada mama ini adalah sebuah teguran untuk nya, semoga saja dengan kejadian ini,mama bisa menyadari kesalahannya selama itu,karena dia telah menghianati papa dan juga menelantarkan aku sebagai anak nya." ucap Andi.
"Papa bangga sama kamu nak, ternyata kamu sudah dewasa, bahkan pikiran mu jauh lebih dewasa di bandingkan papa." Arif merasa malu sebagai orang tua.
"Tidak pah,papa adalah pria terbaik yang pernah Andi kenal." Andi menatap papanya.
__ADS_1
"Terimakasih nak, sekarang papa ke rumah sakit,kalau kamu mau mencari Elsa silahkan,tapi kamu juga harus menjaga kesehatan mu,jangan sampai kamu kecapean." ucap Arif.
"Iyah pah." Andi pun langsung pergi, kemudian ia mencari keberadaan Elsa.