
"Maafkan aku rendi, aku harus melakukan ini " gumamku dalam hati.
Aku pun pergi ke kantin bersama tegar, dikantin pun sama ketika melihat kami bersama banyak sekali yang bersuit-suit melihat kami bersama.
"Wow akhirnya sang pangeran berhasil juga menggaet tuan putri nih! "
"Ci pincang patah hati dong! "
"Kayaknya tuan putri baru terbangun dari mimpi deh, atau peletnya udah luntur! "
Begitulah cibiran-cibiran dari teman-teman yang julid, sakit aku medengarnya tapi ini harus aku lakukan demi rendi dan keluarga, untungnya waktu itu aku mendengar percakapan tegar dan dewo cs, "maafkan aku rendi untuk sementara waktu aku harus melakukan ini semua! " batinku berkata.
POV Rendi
Udah hampir sebulan ini dinda ga pernah ngabarin aku, biasanya walaupun kami ga pernah tegur sapa, dinda selalu ngirim surat lewat santi, ke rumah pun udah jarang, tapi tetap kiriman makanan dan sembao buat ibu ga petnah absen, yang ngirim pak ujang, ibu pun heran pernah bertanya padaku.
"Kakak....., kamu lagi berantem sama neng dinda? " tanya ibu suatu malam, ketika kami selesai makan malam.
__ADS_1
"Ga kok bu, memangnya kenapa? " tanyaku balik pura-pura ga paham.
"Kayaknya neng dinda udah jarang kesini udah hampir satu bulan ini, kirimannya mah tetap ada, tapi ibu kan juga kangen sama neng dinda, bukan kirimannya."
"Kakak juga ga tau bu, dinda juga jarang kirim pesan lagi, mungkin dia sibuk mau ujian akhir kali bu! " sahutku lagi
"Ya juga ya kak, kan sebentar lagi kalian akan lulus SMA, kakak mau ngambil beasiswa yang dimana? di yogya, bandung atau Jakarta? " tanya ibu lagi.
"Kakak belum tau bu, kayaknya yang dijakarta aja, biar tetap dekat sama ibu sama icha"
"Memang nya masih berlaku pekerjaan itu bu? dinda nya aja menghindari kita, kakak juga ga tau apa salah kakak sampe dinda menjauh, sedih rasanya hati ini " gumam rendi.
"Coba atuh kakak tanya sama neng dinda nya, jangan diem aja nanti malah berlarut-larut nambah panjang masalahnya " ujar ibu lagi.
"Gimana nanya nya bu, di sekolah kan ibu tau sendiri kami ga pernah saling sapa, ketemu di rumah juga susah dinda jarang ke rumah apalagi kalau tau ada kakak pasti dinda akan putar balik. " keluhku.
"Ya udah sabar aja" sambung ibu lagi.
__ADS_1
"Ibu aja kehilangan apalagi aku, " ringisku.
"Apa memang hubungan ini hanya sampai disini saja?? , apa memang aku punguk yang merindukan bulan, selama ini dinda hanya merasa kasihan dan iba sama aku dan keluargaku, aaarrrgggh "erang ku sambil kuacak-acak rambutku.
Perih dan sesak rasanya hati ini, apa mungkin saya bisa kembali melihat senyumnya yang manis yang bisa membuat aku mau berjuang mendapatkan hatinya.
Seperti hari ini, aku pun melihat dinda sedang duduk dan mengerjakan tugas geografinya, baru juga aku mau mendekat eeeh dari luar ramai pada siul-siulan dan ngeledekin dinda, dan ternyata ada tegar si jago basket, yang memang udah dari dulu sering banget deketin dinda.
Biasanya dinda selalu menolak kalau tegar atau teman cowok manapun ngajak main atau ke kantin, tapi hari ini kulihat dinda mau di ajak tegar untuk makan di kantin, rasanya ada seribu jarum yang menusuk jantung hatiku, ketika aku melihat mereka jalan berdua.
Baru lihat begitupun rasanya serasa sakit sampai ulu hati, apalagi kalau benar mereka ada hubungan.
Apalagi setelah mereka pergi seisi kelas menggodanya dan mengatakan mereka pasangan serasi.
"Serasi, mendengar itu hati ini tambah seperti tersayat, sakit perih.... " rintihku dalam hati.
"Hai pincang... loe liat kan dinda sama si tegar sekarang, pelet loe dah luntur yah! "
__ADS_1