
Suami?" Anna melepaskan pelukannya.
"Kenapa?" tanya Natan.
"Anna lapar,tapi Anna teh malu kalau ke bawah jalannya gini,kayak orang abis lahiran." ucap Anna.
"Ya udah,suami ambilkan yah, nanti kita makan di sini,eemm tadi kamu yang ganti seprai nya?" tanya Natan,Anna pun mengangguk.
"Ya udah,biar nanti aku yang bawa seprai kotornya ke tempat cucian,kamu istirahat aja,di kamar oke." ucap Natan sambil berdiri.
"Iyah." Anna pun mengangguk.
Natan keluar dari kamar dengan membawa keranjang pakaian kotornya,saat ia melewati meja makan ternyata Ajeng, Hartawan,dan juga bi Inah sedang ada di sana.
Mereka begitu heran melihat Natan membawa keranjang pakaian,karena biasanya Anna yang selalu membawanya.
"Eh,den Natan kenapa bawa keranjang,sini biar bibi yang bawa." bi Inah menghampiri Natan lalu mengambil keranjang nya. "Loh,kok ada seprai nya juga den, perasaan baru kemarin deh bibi ganti seprei, biasanya juga ganti nya tiga hari sekali." ucap bi Inah heran.
"Eemm itu." Natan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum.
"Ohh,ya udah ngerti deh bibi." bi Inah pun langsung pergi ke belakang sambil senyum-senyum sendiri.
Bi inah mengerti karena rambut Natan terlihat basah,pasti orang pun akan berpikiran yang sama jika melihat ekspresi wajah Natan yang sepertinya salah tingkah.
"Anna kemana Nat,kenapa nggak turun bareng kamu?" tanya Ajeng.
"Dia di kamar mah,katanya mau makan di kamar aja." ucap Natan terlihat gugup.
"Tumben." ucap Ajeng heran.
"Iyah mah, soalnya dia nggak bisa jalan, sakit kata nya." Natan terlihat bingung harus menjawab apa.
"Papa, kayaknya anak kita baru unboxing,hehehe." ucap Ajeng pada Hartawan.
"Mama,nggak boleh gitu,malu tuh anak kita." ucap Hartawan.
"Iyah Iyah,eemm sebentar yah,mama siapin dulu,kamu mau sekalian juga?" tanya Ajeng.
"Boleh mah," ucap Natan yang langsung duduk.
"Oke." Ajeng pun menyiapkan makanan untuk di bawa ke kamar oleh Natan.
Setelah selesai menyiapkan makan,Ajeng pun memberikan makanan tersebut kepada Natan.
"Ini bawa sana, cukup kan untuk berdua?" tanya Ajeng.
"Cukup mah, makasih yah." Natan pun langsung berdiri,ia mengambil nampan yang di berikan Ajeng.
__ADS_1
"Jadi sekarang dia nggak masuk kuliah?" tanya Ajeng.
"Nggak mah, libur dulu kayaknya." ucap Natan.
"Ya udah,kamu temenin dia, kasian." ucap ajeng.
"Tapi Natan kan harus ke kantor, apalagi besok kan libur,jadi takut kerjaan nya numpuk kalau di tinggal." ucap Natan.
"Udah,biar papa aja yang handle,kamu temenin Anna aja." ucap Hartawan,ia mengerti kan anaknya.
("Itu dia yang aku tunggu, untung papa bilang gitu, soalnya tadi juga kan aku udah bilang ke Anna kalau aku mau nemenin dia.") batin Natan.
"Ya udah,Natan ke kamar dulu yah,makasih mah,pah." ucap Natan yang langsung berjalan.
"Hmmm dasar anak muda." ucap Hartawan ia geleng-geleng melihat tingkah anaknya itu.
"Kayak papa tuh sama aja, hehehe." Ajeng tertawa kecil.
Hartawan pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mendengar perkataan istri nya.
Sementara di kamar,Natan baru saja meletakkan nampan berisi makanan ke atas meja, setelah itu ia duduk di sofa,di sebelah Anna.
"Nah, sekarang sarapan dulu yah." ucap Natan,Anna pun mengangguk.
Mereka menikmati sarapan nya dengan lahap, karena sepertinya mereka kehabisan tenaga setelah berolahraga malam tadi.
"Tadi mama nanyain aku nggak?" tanya Anna saat menyimpan gelas yang baru saja ia minum.
"Terus suami bilang apa?" tanya Anna.
"Aku bilang kamu nggak masuk kuliah dulu." ucap Anna.
"Suami,belum bilang kalau besok kita mau ke Bandung dulu?" tanya Anna.
"Belum,nanti aja gampang,ya udah aku simpan dulu piring kotornya ke dapur yah sebentar." Natan berdiri sambil memegang nampan.
"Biar aku aja suami,aku nggak enak suami terus yang layani aku." Anna merasa tak enak.
"Nggak papa,udah kamu diem di sini yah jangan ke mana mana!" Natan memperingatkan.
"Ya udah Iyah." Anna akhirnya menurut.
Anna sepertinya bosan berada di kamar nya,mungkin karena biasanya jam segini ia sudah berada di kampus,ia pun membuka balkon kamar,lalu duduk di kursi yang ada di sana.
("Andin lagi apa yah, walaupun kemarin dia memang keterlaluan berkata seperti itu,tapi aku yakin sebenarnya dia baik,dia hanya kecewa,dan salah paham saja.") batin Anna.
Tiba-tiba Anna teringat tentang kejadian semalam,ia belum mengerti sebenarnya apa yang terjadi sehingga suaminya bisa seperti itu.
__ADS_1
("Semalam suami kenapa panas banget yah badannya, wajahnya merah banget lagi.") batin Anna.
Saat Anna sedang membayangkan kejadian semalam,Natan datang menghampiri nya.
"Sedang apa di sini?" tanya Natan.
"Cari udara seger,eemm aku boleh nanya gak?" tanya Anna tiba-tiba.
"Iyah kenapa?" Natan penasaran.
"Sebenarnya suami kenapa semalam,kenapa badannya panas sekali?" tanya Anna.
("Duh,aku harus bilang apa yah,kenapa Anna pake nanya segala sih.") batin Natan.
"Semalam sebenarnya aku menemui Sierra,mantan pacar aku,tapi sepertinya aku sudah di bohongin sama dia." ucap Natan.
"Maksud nya.?" Anna masih belum paham.
"Awalnya Sierra meminta ku untuk bertemu hanya ingin minta maaf atas apa yang sudah ia lakukan,tapi ternyata dia malah memasukan obat perangsang di minuman yang aku minum semalam." ucap Natan menjelaskan.
"Jadi, pacar suami itu,mau tidur bareng sama suami gitu,kayak di film film?" tanya Anna.
"Mantan Anna,bukan pacar." ucap Natan,yang tak terima dengan ucapan Anna yang bilang kalau Sierra pacar nya.
"Iyah mantan,jadi gimana?" Anna sudah penasaran.
"Yah kurang lebih seperti itu lah,eh sebentar sebentar,itu kamu ngerti bahasa tidur bareng,kenapa semalam kamu kayak nggak ngerti gitu." Natan merasa heran.
"Bukan gitu,jadi,semalem tuh Anna nggak bisa tidur, Terus Anna nonton film deh, cerita nya sama kayak yang suami ceritain barusan." ucap Anna.
"jadi,kamu sekarang udah ngerti?" tanya Natan,Anna pun mengangguk.
("Wah kesempatan nih, sepertinya Anna sudah mengerti.") batin Natan.
"Eemm sekarang,masih sakit nggak?" tanya Natan.
"Sedikit,memang nya kenapa?" tanya Anna.
"Mau coba lagi nggak?" Natan menaikkan satu alisnya sambil tersenyum.
"Kayak semalam?" tanya Anna dengan polosnya.
"Iyah,ayo!." ucap Natan.
"Ya udah ayo,katanya sih kalau beberapa kali nggak akan sakit lagi." Anna malah tak ada takut takut nya.
"Beneran kamu mau?" padahal Natan hanya menggoda nya saja.
__ADS_1
"Iyah ayo!, tutup dulu pintu nya." ucap Anna yang langsung masuk ke dalam kamar.
("Wah rezeki nih,punya istri polos gini.") batin Natan.