Bukan Cinta Yang Salah

Bukan Cinta Yang Salah
episode 14


__ADS_3

."Duduklah dulu, saya belum selesai ngomongnya. " rendi berkata sambil degenggamnya tanganku, akupun kembali duduk disebelah nya.


"Aku bukannya ga percaya din, cuma aku takut terlalu berharap, takutnya nanti kecewa, bagiku kamu adalah bagian dari hati dan jiwaku, jika kamu pergi meninggalkan aku apakah aku masih sanggup untuk berdiri dan menjalani hidup ini, pasti separuh jiwaku akan kosong din...hampa pastinya! " sahutnya lagi sambil pandangan nya menerawang entah kemana.


"Kita jalani aja hubungan ini, aku, ibu sama ayah ga pernah membeda-bedakan fisikbdan juga status sosialnya, kalau kamu masih ragu sekali sekali mainlah ke rumahku, biar kamu bisa tahu yang sebenarnya sifat dari ayah dan ibuku, " sahutku panjang lebar.


"Aku percaya, buktinya setiap kamu kesini pasti ibu kamu mengirimkan makanan atau apapun buat kami, dan tentang ayahmu, pasti beliau juga seorang yang baik dan bijaksana, sampai meu menerimaku menjadi pegawainya. "


"Trus..... apalagi yang masih kamu takutkan, sekarang ini mah kita jalani aja, niat kita baik pasti akan selalu diberikan jalan yang terbaik juga, aamiin " aku dan rendi pun mengucapkan kompak.


"Ya udah aku pamit pulang udah sore, kamu besok sekolah kan? sampai ketemu besok, kamu jaga diri dan jangan terpancing emosi sama dewo cs, aku pamit ibu dulu yah! "


Setelah kejadian itu aku dan rendi pisah tempat duduk, aku yang pindah ke tempat santi, dea yang semeja dengan santi pun mengalah pindah ke meja yang kosong di pojok belakang.


Lumayan sulit karena aku sudah terbiasa duduk dengan rendi, tapi demi kebaikan rendi juga.

__ADS_1


Sebentar lagi kami pun naik ke kelas XI, aku dan rendipun sepakat mengambil kelas IPS, ya setidaknya kami masih bisa satu kelas walaupun tidak duduk bareng.


Hubungan kami pun tidak terendus oleh dewo cs, karena kami ga pernah bertegur sapa, aku pun tetap sering main ke rumah rendi tapi jarang ketemu karena rendi pulang sekolah langsung kerja.


Yah tidak terasa hubungan kami pun berjalan hampir mau dua tahun, tapi tetep rendi masih belum mau di ajak main ke rumah untuk di kenalin sama ibu dan ayah, katanya masih sungkan.


Di kelas pun prestasi rendi tetap teratas, aku salut dan kagum padanya, walaupun waktu belajarnya sedikit tapi tetap dia bisa mempertahankan nilai-nilainya, aku mah bisa 10 besar pun harus kerja keras, itu pun rendi selalu memotivasi ku.


Tak terasa sekarang kami sudah kelas 3 dan sebentar lagi kami pun mau ujian akhir, aku pun jarang komunikasi dan jarang ke rumah rendi karena kesibukan mau ujian akhir.


Selama di kelas 3 ini, ada anak kelas IPA yang semakin gencar mendekati ku, hampir setiap hari dia ke kelasku namanya tegar, dia pemain basket sekolah, di idolai banyak cewek, cakep sih putih, tinggi dan berlesung pipi, tapi tetap hatiku tidak tergetar sedikitpun, jadi aku yah biasa aja.


Seperti siang ini, dia ke kelasku, semua di kelaspun selalu mengolok-olok kami kalau tegar datang ke kelas


"Dinda, pacarmu dateng nih! " dea yang paling seneng banget Deket-deketin aku sama tegar, kayak mak comblang gitu

__ADS_1


Aku pun melirik sekilas kearah rendi, dan sepertinya rendi gak terlalu suka, bahkan dia langsung memalingkan mukanya.


"Mau ke kantin ga din? " tanya tegar ketika sudah dekat denganku


"Ehm....males gar, tapi laper sih sebenarnya, "


jawabku


"Ayo lah kita makan di kantin, aku juga laper nih, kan kemarin kamu udah janji mau aku traktir makan kalau di kantin !"


Akhirnya aku pun ke kantin sama tegar di ikuti suitan dari teman-teman sekelas, sebelum keluar aku sempat melirik ke arah rendi, rendi sepertinya pura-pura menundukkan kepala sambil terlihat menghela nafas berat.


"Maafkan aku rendi,aku harus melakukan ini! "


gumamku dalam hati

__ADS_1


__ADS_2