
Ajeng termenung, karena selama ini,Natan tidak pernah mabok perjalanan, apalagi sampai muntah seperti itu.
("Sepertinya Anna salah mengira,Natan sepertinya mabok minuman,ada masalah apa yah, tidak seperti nya dia seperti itu,aku harus tanya nanti.") batin Ajeng.
"Ya udah kalau gitu, sambil nunggu makanan nya jadi, kamu tunggu di ruang tamu,mama mau bangunin Natan sebentar biar nanti bisa anterin kamu ke kampus." ucap Ajeng.
"Biar Anna aja mah yang bangunin." ucap Anna merasa tak enak.
"Nggak papa sayang,mama bisa kok,sana kamu nyalain televisi nya,katanya tadi mau lihat Andi di tv, biasanya jam segini suka ada tuh gosipnya." ucap Ajeng membujuk Anna supaya Anna tidak curiga kalau dia ingin berbicara dengan Natan.
"Yang benar mah,ya udah Anna nyalain televisi dulu yah,nggak nyangka suami punya teman artis,hehehe" ucap Anna sambil berjalan ke arah ruang tamu.
Ajeng hanya geleng-geleng melihat tingkah menantunya itu, setelah itu ia langsung ke kamar Natan.
Pintu kamar anak menantu nya ternyata tidak tertutup,mungkin Anna lupa menutup nya tadi, Ajeng pun langsung masuk ke dalam kamar.
Saat Ajeng masuk ternyata Natan masih tertidur,Ajeng pun segera menghampiri nya untuk membangun kan nya.
"Natan bangun!" Ajeng menggoyang kan badan putranya itu.
"Apa sih Anna,saya lagi tidur jangan ganggu." Natan menghempaskan tangan Ajeng.
"Ini mama, kurang ajar yah kamu jadi anak." Ajeng menjewer telinga anak nya.
"Aw aw sakit." Natan memegangi kuping nya yang terasa panas. "Mama ngapain sih di sini?" ucap Natan kesal.
"Bangun kamu!,kamu apa apaan sih bau alkohol begini?" Ajeng memencet hidung nya.
"Iyah mah,ini udah bangun tuh." Natan pun bangun dari tidurnya,ia duduk di samping mama nya.
"Jelaskan, Kenapa kamu bisa sampe mabok gini? untung aja yah istri kamu ngira nya kamu mabok perjalanan, tapi mama nggak sepolos Anna,mama bisa cium dengan jelas bau alkohol di badan kamu." ucap Ajeng berbicara dengan sedikit pelan,ia takut ocehan nya akan terdengar oleh Anna.
"Itu bukan urusan mama,Natan gak bisa jelasin." ucap Natan mengelak.
__ADS_1
"Oh jadi kamu berani sama mama,ayo kamu ngomong kalau nggak kamu tau sendiri akibat nya,atau mau mama laporin ke papa biar tau rasa." ucap Ajeng menggertak.
"Iyah Iyah,ya udah Natan cerita." Natan tak mau kalau sampai papa nya tau,bisa habis dia kalau tau anak nya mabok.
"Cepetan!" ucap Ajeng melihat ke arah pintu takut kalau sampai Anna datang.
"Jadi sebenarnya Natan masih pacaran sama Sierra setelah Natan nikah sama Anna,tapi Natan baru tau semalam kalau ternyata dia selingkuh mah,mama tau nggak dia selingkuh sama siapa?" tanya Natan.
"Siapa?" Ajeng penasaran.
"Sama Tio mah,anak om Dodi." ucap Natan.
"Rasain tuh, makanya jangan permainkan pernikahan,jadi gitu tuh akibat nya,itu akibat nya kalau kamu nggak dengerin apa kata orang tua." ucap Ajeng menyalahkan perbuatan anaknya yang memang salah.
"Mama kok gitu sih ngomong nya." ucap Natan.
"Ya Iyah,mama dan papa itu udah nyiapin istri yang memang terbaik buat kamu,kamu nya malah bohongin kita." ucap Ajeng.
"Ya udah deh,Iyah,Natan yang salah." ucap Natan menerima kalau memang dia salah.
"Natan patah hati mah, walau bagaimanapun juga kan Natan cinta sama Sierra." ucap Natan.
"Makan tuh cinta,kamu itu seharusnya bisa lebih menghargai istri kamu,apa Anna tau kalau kamu masih berhubungan dengan wanita itu setelah menikah?" tanya Ajeng.
"Tau mah,Natan cuma nggak mau ada yang Natan sembunyikan." ucap Natan ragu.
"Aduh Natan,kamu tuh yah, keterlaluan sekali, bagaimana perasaan Anna saat tau suaminya punya pacar." Ajeng bisa membayangkan apa yang Anna rasakan.
"Waktu itu dia biasa aja, karena mungkin dia juga nggak menginginkan perjodohan ini mah." ucap Natan.
"Tetap aja kamu salah, tidak seharusnya kamu seperti itu." Ajeng tak membenarkan perbuatan Natan.
Ajeng kembali mengingat perkataan Natan Sebelumnya, kalau Sierra selingkuh dengan Tio, sepupunya nya sendiri,anak dari adik nya Hartawan.
__ADS_1
"Tapi sebentar dulu, bukannya kamu berteman baik sama Tio." ucap Ajeng tak mengerti.
Natan berdiri,ia melihat ke arah luar lewat jendela. "itu dia yang membuat Natan sakit hati mah,mungkin ini bentuk teguran dari Allah buat Natan,supaya jangan terlalu percaya sama orang,Bahkan sekali pun orang yang sangat dekat dengan kita." Natan menghembuskan nafasnya.
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba Anna datang dari arah pintu.
"Mama?" Panggil Anna,Ajeng pun terkejut.
"Iyah sayang." Ajeng pura pura tersenyum.
"Oh,suami udah bangun,Anna kirain suami susah bangun soalnya mama lama juga, makanya Anna kesini bawa gayung nih,buat nyiram muka suami,hehehe." Anna terkekeh sendiri melihat gayung berisi air di tangan nya.
"Iyah,Natan udah bangun kok,tapi kalau kamu mau nyiram muka nya siram aja nak,mama malah seneng,biar dia sadar" ucap Ajeng karena kesal dengan perbuatan anak nya ini.
"Mama kok ngomong gitu sih?" Natan tak terima dengan ucapan mama nya.
"Emang suami masih belum sadar juga yah mah,ya ampun mabok nya lama banget yah." Anna heran dengan suaminya.
"Ya udah kamu urusin dulu tuh suami mu,mau di guyur atau gimana, terserah kamu aja,mama mau keluar dulu,mau nyiapin buat sarapan." ucap Ajeng sambil berjalan keluar.
"Mama?" panggil Natan kesal dengan perkataan mama nya.
"Nah,ayo kita ke kamar mandi,biar suami cepet sadar." Anna menghampiri Natan.
"Mah tolong Natan mah." Natan tak bisa berkutik saat ini.
Anna membawa Natan ke dalam kamar mandi,namun saat Natan mencoba untuk berontak,kaki nya terpeleset sehingga ia terjatuh bersamaan dengan Anna, karena Natan memegangi Anna tadi saat akan terjatuh.
Mata keduanya saling bertatapan,Natan tak berkedip,ia sedang memandangi Anna dari jarak dekat, wajah nya masih terlihat imut itu sungguh membuat Natan terpaku.
Saat bukit kembar Anna menempel di dadanya, senjata milik nya tiba-tiba berdiri, sehingga membuat wajahnya memerah menahan hasratnya.
Natan ******* bibir Anna,ia menekan tengkuk Anna sehingga ciuman nya semakin dalam,Anna terkejut dengan apa yang di lakukan suaminya.
__ADS_1
("Kenapa tubuhku merasa kesetrum yah,tapi kenapa aku nggak bisa nafas,aduh kenapa ini.") batin Anna.
Anna dengan sangat kuat melepaskan ciuman Natan karena ia tak bisa nafas kali ini,namun Natan sepertinya tak mau kehilangan kesempatan ini.