
"Berani lah, orang tak tau diri kayak gitu mah harus digituin bro! "
Dinda menghela nafas sejenak setelah menceritakan apa yang dewo dan tegar bicarakan waktu itu.
"Itulah san, makanya aku langsung mau waktu tegar mulai mendekatiku, karena aku ga mau nanti rendi jadi bulan-bulanan mereka, apalagi sampai ke ibu dan adiknya, yah jelas lah aku ga mau mereka sengsara san. "
"Tapi kenapa kamu ga bilang sama rendinya, kalau begini kan rendi pasti salah paham din, !"
"Dah biarin dulu aja san, setidak nya sampai kami lulus nanti, biar rendi pokus tidak di ganggu macem-macem, kalau aku terus terang nanti pasti kepikiran, tau ga san aku bahkan niat buat pindah sekolah aja kali yah biar rendi tenang, " keluhku pada santi.
Rasanya plong setelah aku mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal dalam hati
"Jangan lah itu bukan solusi lagian kan sebentar lagi juga kita lulus tinggal 4 bulanan lagi, satu-satunya jalan menurut aku mah ya kamu harus cerita apa adanya sama rendi, jadi nanti cari jalan keluarnya, kalau begini terus kalian tersiska sendiri! "
__ADS_1
Santi pun bangkit dari duduknya lalu menarikku bangun, "ayo bentar lagi masuk, kamu pikirin yang aku bilang tadi jangan kelamaan nanti berlarut-larut. "
Setelah aku curhat sama santi aku merasakan lumayan lega dan aku pun memikirkan ide nya santi.
Sorenya setelah pelajaran tambahan, aku pun keluar kelas, di luar sudah ada yang nunggu yaitu tegar, males banget sebenarnya.
"Ayo sayang kita pulang bareng! "ajaknya sambil tangan nya merangkul bahu ku, ku coba tepis karena aku risih apalagi ku lihat rendi di belakang ku melihat dengan tatapan tak suka, bukan nya kapok tegar malah semakin berani merangkul lagi sambil mau mencium pipiku..baru juga aku mau menghindar tangan tegar ada yang narik dan langsung satu pukulan menghantam wajahnya.
"Jangan berbuat seenaknya dong sama perempuan, hargai mereka jangan asal pegang-pegang! " hardik rendi
"Loe pikir dinda suka dan cinta sama loe? ngaca dong ngaca, tau diri dikit loe, dah pincang miskin lagi mana ada perempua baik-baik yang mau sama loe! " teriak tegar lagi.
Aku sakit banget denger tegar berkata gitu, aku bingung kalau aku membela rendi, aku takut ancaman nya benar-benar terjadi, kalau membela tegar pasti rendi tambah salah paham.
__ADS_1
"Ayo din....ga usah dilayanin si punguk merindukan bulan itu, !" cetus tegar sambil menarik tanganku, aku ga bisa apa-apa selain mengikuti langkah tegar, dan kulihat rendi dimatanya terlihat kepedihan dan luka yang mendalam.
"Maafin aku ren, aku ga bisa apa-apa " rintihku sambil tak terasa air mataku pun berjatuhan.
Sejak kejadian itu rendi sepertinya semakin menjauh dariku, bahkan makanan yang ku kirim buat ibu dan ica juga sering kembali lagi, mereka mulai menolaknya, hati ini tambah perih.
Ini surat yang rendi kirim bersama makanan yang tidak mau mereka terima.
Aku buka surat nya
*Assalamualaikum*
Maaf beribu-ribu maaf saya tidak bisa menerima lagi apapun yang kamu kirimkan buat keluarga kami, bukannya kami menolak rejeki tapi untuk apalagi kamu ngirim makanan atau apa saja pada kami toh kami bukan lagi keluargamu.
__ADS_1
awalnya aku pikir kamu menjauh karenamemng kamu mau kita pokus untuk mendapatkan hasil yang terbaik, walaupun aku kangen banget sama kamu, kangen senyum kamu, kangen manjanya kamu, tapi aku coba bertahan, karena mungkin kamu akan kembali setelah kita selesai ujian.
Tapi kok semakin hari malah kamu semakin dekat dengan tegar, kupikir mungkin karena ga enak aja kalau kamu langsung menjauh, makanya kamu pura-pura dekat, sehingga akhirnya......kejadian itu terjadi......