
Anna langsung membalikkan tubuhnya,ia semakin mendekatkan wajahnya,namun ternyata kali ini Natan yang menjadi gugup,Natan semakin mundur saat Anna semakin mendekati nya.
"Ka-kamu mau apa?" ucap Natan gugup sambil mundur.
"Katanya tadi nggak mau keluar." ucap Anna sambil terus mendekati Natan.
Namun saat ini ternyata langkah Natan sudah mentok, karena ada tempat tidur di belakang nya,ia pun duduk di pinggir tempat tidur sambil menelan Saliva nya melihat penampilan Anna saat ini.
Kini Anna semakin mendekatkan wajahnya,namun saat Natan memejamkan matanya, tiba-tiba tangan Anna mengambil baju ganti yang sudah ia siapkan tadi di atas tempat tidur, setelah mengambil nya ia pun langsung berlari masuk lagi ke kamar mandi dan menutup pintunya.
"Anna!" panggil Natan ketika melihat Anna kabur ke kamar mandi.
"Makanya jangan jail jadi orang,kena sendiri kan,hehehe." Anna tertawa di kamar mandi.
"Sialan,gue yang di kerjain balik ternyata." ucap Natan.
Beberapa saat kemudian,Anna keluar dari kamar mandi sudah menggunakan baju ganti nya,ia tertawa saat melihat wajah Natan yang masih memerah.
"Mandi tuh,aku sudah selesai,hehehe." Anna tertawa kecil.
"Awas yah kamu!" ucap Natan menunjuk satu jarinya.
"Suami sendiri, yang ngerjain aku,eh di kerjain balik nggak mau,rasain wleee." Anna menjulurkan lidahnya.
Natan langsung mengambil handuk nya lalu ia masuk ke dalam kamar mandi,Natan berdiri di balik pintu kamar mandi.
("Kenapa aku yang jadi deg degan gini,argh kenapa Anna tadi seperti itu sih,mana si Joni udah berharap lebih tadi,tapi kenapa aku yang jadi gugup tadi.") batin Natan,ia memegang dadanya.
Setelah Anna menyisir rambutnya,ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa,ia mengecek handphone nya, ternyata ada sebuah panggilan tak terjawab dari Andin,ia pun segera menelpon balik, karena takut penting.
Tut..Tut...Tut..
Namun telponnya ternyata tidak di angkat, setelah itu Anna biarkan saja,kalaupun penting,pasti nanti ia menelpon lagi.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
"Den Natan,non Anna,ibu sama bapak sudah menunggu di meja makan,kalau sudah selesai,nanti ke bawah yah." ucap bi Inah.
"Iyah Bi,nanti kita ke bawah." ucap Anna dari dalam kamar nya.
Anna pun keluar terlebih dahulu,ia takut Natan akan balik mengerjainya, padahal Natan tak akan berani, karena tadi dia sendiri yang kena mental.
Anna menuruni tangga,ia melihat Hartawan dan Ajeng sudah ada di meja makan,ia pun menghampiri keduanya.
"Natan mana nak?" tanya Hartawan.
"Masih di kamar mandi pah,paling sebentar lagi nyusul." jawab Anna.
"Oh Iyah nak,papa mau nanya,kenapa kalian belum pergi bulan madu?" tanya Hartawan.
"Kayaknya nanti aja deh pah, soalnya kan Anna juga baru masuk kuliah,masa harus libur dulu sih, kayaknya nanti aja kalau ada waktu yang pas." ucap Anna.
"Ya udah,papa sih terserah kalian saja." ucap Hartawan sambil tersenyum.
Hartawan melihat ke arah Ajeng. "Oh Iyah mah,mama inget sama pak Dion nggak?" tanya Hartawan.
"Itu loh temen bisnis papa, yang dulu pernah bawa anak perempuan nya kesini." ucap Hartawan.
"Oh yang itu,Iyah mama inget,kenapa pah?" tanya Ajeng.
"Dia ngajakin kita makan malam bersama, kayaknya kita udah lama banget kan,nggak makan makan sama mereka." ucap Hartawan.
.
"Boleh pah,atur aja jadwal nya,mama mah ngikut aja,nanti Anna sama Natan kita ajak juga,kamu mau kan nak?" tanya Ajeng.
"Boleh mah." jawab Anna saat mendengar percakapan mereka.
"Anak perempuan nya itu siapa yah namanya,mama lupa lagi, pasti sekarang dia udah gede banget, sepantaran sama Anna deh kayaknya." ucap Ajeng.
"Andin mah namanya,Iyah mah." ucap Hartawan.
__ADS_1
"Oh Andin,Iyah mama lupa, soalnya udah lama banget juga kan." ucap Ajeng.
("Andin,masa Andin temen satu kampus aku sih,ah mungkin aku yang salah,nama Andin kan banyak di Jakarta, tapi, tunggu sebentar,tapi tadi Andin juga bilang kalau dia pernah ke rumah ini,apa benar yah,Andin yang di bicarakan sama papa adalah Andin yang sama,tapi sepertinya aku lihat saja nanti pas ketemu,kalau bilang sekarang,takutnya aku yang salah,bisa malu kan,kalau sok tau begitu.") batin Anna.
Tak lama kemudian Natan pun turun dari tangga,ia pun langsung bergabung di meja makan, duduk bersebelahan dengan Anna.
"Yang di tunggu sudah datang,ayo kita mulai makan malam nya." ucap Hartawan.
"Iyah pah." sahut Natan.
"Eh Iyah Nat,tadi kata pak Dion, katanya kamu sempat berpapasan yah sama Andin,di depan kantor nya?" tanya Hartawan.
"Iyah pah,dia kayak buru buru gitu jadi kita tabrakan tadi." ucap Natan.
"Nanti pak Dion ngajakin kita makan malam bersama,gimana kamu mau?" tanya Hartawan.
"Boleh pah,papa aja yang atur jadwal nya,Natan ikut aja." ucap Natan.
("Sebentar siapa Andin itu,atau jangan-jangan Andin itu pacar nya suami lagi,suami kan pernah bilang waktu itu kalau dia udah punya pacar, walaupun sejauh ini,aku belum pernah ketemu sama pacarnya suami,tapi nggak papa lah, walaupun begitu aku tau kok kalau pernikahan ini tidak di inginkan oleh kita berdua,jadi sebaiknya aku tak usah mempermasalahkan nya.") batin Anna.
"Kamu ikut yah,biar sekalian aku kenalin?" ucap Natan sambil tersenyum.
"I-iyah boleh." jawab Anna.
("Pasti dia cuma akting aja bersikap manis begini sama aku, padahal dia pengen ketemu pacar nya,bukan mau ngenalin aku.") batin Anna.
***
Sementara di tempat lain, seorang pria sedang berada di balkon kamar nya,ia sedang menikmati indahnya malam yang di hiasi bintang.
"Kenapa aku jadi mikirin dia sih, wajah nya bikin kangen,hmmm sayang sekali tadi aku nggak sempat minta nomor nya,kalau aku punya,pasti sekarang aku langsung telpon dia." gumam Reza, berbicara sendiri sambil melihat ke langit.
Dia seperti bintang, yang indah bila di pandang walaupun terlihat dari kejauhan,namun aku tak tau apakah dia bisa aku raih atau tidak, karena sepertinya sangat sulit untuk meraihnya.
Namun tak ada yang bisa menebak takdir,siapapun berhak untuk jatuh cinta,namun semua orang tak bisa memaksa untuk di cintai.
__ADS_1
Cinta adalah sebuah kata yang menggambarkan perasaan hati,namun kadangkala kita bisa menjadi seseorang yang egois hanya karena ingin mendapatkan seseorang yang kita cintai, semoga kita termasuk salah satu dari orang yang mencintai dan di cintai.