
"Cukup! " kataku sambil berdiri dan menggebrak meja, membuat semuanya pun heran apalagi dewo.
"Kenapa sih kamu tuh kepo banget sama rendi, dan semua urusannya, dan kenapa juga kamu ga pernah mau menyebut namanya, dia punya nama seperti kamu juga, lagian siapa yang mau terlahir dalam kekurangan ga ada! " lirihku sambil tak terasa air mataku bercucuran, aku pun berlari keluar setelah mengungkapkan unek-unek di hati.
"Nah loh dewo kamu mah keterlaluan banget sih, nangis loh anak orang! " ujar santi sewot, lalu dia segera mengejar dinda ke luar kelas. 9
Santi pun segera mencari keberadaan sahabatnya dinda, santi pun segera mencari dinda di taman belakang sekolah.
"Din...... udah jangan nangis, jangan dimasukin ke hati kata-kata nya si dewo mah, dia kan memang lidahnya tajem banget! "
Santi pun merengkuh pundak dinda sambil menepuk nepuk bahunya.
"Kamu suka yah sama rendi? atau jangan-jangan kalian punya hubungan tanpa kami ketahui yah? "
"Ayolah ga usah takut ga enak gitu, kamu curang ga mau bilang-bilang sama aku, bener nih kalian punya hubungan spesial? "
"Memang nya martabak pake spesial segala, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa loh! "
"Kamu tuh ya kayak baru kenal aja sama aku din, aku seneng banget kalau memang kalian punya hubungan, tapi awas jangan ada yang tau di kelas, nanti yang akan jadi bulan-bulanan rendinya din, "
__ADS_1
"Maka dari itu san, aku tuh takut mereka tau, aku ga takut mereka menjauhi aku, yang aku takutkan adalah mereka melakukan sesuatu sama rendi, itu yang aku ga mau san! " keluhku pada santi
"Ya udah kamu harus pura-pura lagi aja sama rendi, yah jangan terlalu dekat lagi kayak dulu, jangan kamu perlihatkan kedekatan mu sama rendi di depan teman-teman dan kalau ada yang ngebully nya kamu jangan terpengaruh, tapi kayaknya ga bakalan bisa deh din kamu udah bucin! "ledek santi lagi.
"Hayooo kita ke kelas lagi, sebelumnya cuci muka dulu tuh biar ga terlalu kelihatan abis nangisnya, sebentar lagi kan pelajaran matematika loh! " ajak santi sambil menarikku yang masih anteng duduk.
Kami pun kembali ke kelas tapi sebelum nya aku ke toilet buat cuci muka.
Di kelas aku langsung duduk dan kulihat sebentar rendi dan kulihat luka dimatanya, "aku pulang sekolah harus ketemu rendi ", gumamku dalam hati.
Bel tanda berakhirnya pelajaranpun berbunyi, kami pun semuanya berhamburan keluar kelas, aku pun keluar tanpa menghiraukan dewo yang manggil-manggil mungkin mau minta maaf atas kejadian tadi.
Setelah masuk mobil aku pun bilang sama pak ujang "Pak mampir ke rumah rendi ya pa, tapi nanti beli makan siang di masakan padang aja dulu! " kataku pada pa ujang
"Assalamualaikum, ko sepi pintunya juga tertutup! "
"Waalaikum salam! " suara rendi ternyata sudah sampe duluan, karena ya seperti biasa aku bukan hanya mampir beli makan siang aja, tapi juga beli cemilan buat ibu dan ica.
"Kok sepi, ibu sama icanya kemana? " tanyaku heran
__ADS_1
"Oh ibu sama ica lagi nganterin baju-baju ke tetangga !" jawab rendi.
Aku pun segera ke dapur untuk membawa piring dan sendok, aku sodorkan setelah menyimpan satu bungkus naspad isi kikil ke hadapan rendi,
"Ini, pasti kamu belum makan kan? " pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban sebenarnya.
Aku dan rendi pun mulai makan
"Din...kenapa kamu tadi harus marah waktu dewo ngatain aku, nanti kan teman-teman tambah curiga sama hubungan kita, " ungkap rendi sambil di elusnya punggung tanganku.
"Aku replek ren, aku kan ga mau kamu dihina terus-terusan sakit rasanya hati ini," ucapku lirih dan tak terasa menetes lah airmataku.
Rendipun memutar badannya untuk menghadapku, dihapusnya air mataku, lalu di rengkuhnya tubuhku dalam dekapannya, bukannya mereda tapi air mataku semakin deras membasahi kaos nya rendi, dengan sabar di elusnya punggungku.
"Aku tau kamu pasti sakit mendengarnya, apalagi aku din, yah tapi memang kenyataannya gitu itu kan faktanya aku memang cacat, tapi aku yakin Allah punya rencana yang indah untukku, jadi aku mohon agar mereka tidak curiga kamu tutup kuping aja kalau ada yang mengataiku. "
"Ya tapi aku kan dengernya sakit banget ren, "
rajukku,
__ADS_1
"Iya aku paham tapi biarin aja toh mereka cuma mengataiku aja ga sampe mukul aku, udah ah jangan nangis terus bentar lagi ibu sama ica pulang disangkanya aku yang bikin kamu nangis, "
Baru juga rendi berkata begitu...... eeeeh