
Aku Cucu perempuan pertama dari pihak ayah, kakek ku joko suryo putro sudah memiliki perjanjian dengan teman nya yakni bapak Gunawan aditama untuk menjodohkan cucu perempuan pertama kakek dengan anak laki-laki satu-satunya bapak Gunawan aditama, Aku yang belum menyelesaikan kuliah tentu saja sangat menolak perjodohan ini, setidaknya tunggu aku sampai selesai kuliah terlebih dahulu, Aku begitu menyayangi kakek ku, kakek begitu memanjakanku karna aku cucu perempuan satu-satunya, perjanjian ini memang mereka buat jauh sebelum aku lahir, aku tidak menyalahkan kakek, aku hanya menyesalkan kenapa salah satu kakak ku tidak berjenis kelamin perempuan, Astaghfirullah itu kan takdir tuhan, mana bisa aku menginginkan hal itu.
Setelah penuturan kakek waktu itu, fikiran ku sedikit terbagi, bukan lagi hanya tentang kuliahku yg sebentar lagi menyusun skripsi, dan juga kehidupan pribadiku yang lain, aku memikirkan laki2 seperti apa yg akan kakek jodohkan denganku, aku jadi berfikiran buruk dengan laki2 itu, bagaimana jika laki2 itu punya perilaku buruk hingga di usianya yang setua itu belum kunjung menikah, padahal kakak ku di usia itu sudah memiliki satu anak yang lucu, Aku tidak berani menolak keinginan kakek karena aku lihat papi dan mami menyetujui perjodohan ini dan kedua kakakku mereka memberikan ku kebijakan, jika aku benar2 tidak bisa menerima nya aku boleh menolaknya, namun aku tidak bisa menolak dengan hanya beralasan aku tidak mau di jodohkan, itu akan menyakiti perasaan kakek. "Oh tuhaaannn aku harus bagaimana"
Aku mendekati mami dan bersandar di bahunya, sepertinya mami mengerti dengan kegundahan hatiku, mami menutup majalahnya dan menghadap ke arahku.
"Kamu kenapa sayang?" mami mengelus pipiku. "Mi apakah perjodohan ini harus benar2 terjadi? tanyaku sendu. "Apa kamu benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini sayang?" mami masih mengelus pipiku. "Bukan begitu mi, aku tidak punya alasan untuk menolak apa lagi menerima, aku hanya takut pernikahan ini tidak sesuai dengan apa yang aku impikan." "Memangnya seperti apa pernikahan impian mu?" kini mami menyandarkan kepalaku di pundaknya.
__ADS_1
"Aku ingin menikah dengan laki-laki yg aku cintai, yang mencintaiku, menyayangiku, punya visi dan misi yang sama dalam menjalani rumah tangga, aku takut jika menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal, akan banyak konflik di dalamnya." aku menyandarkan kepalaku di pundak mami dan memeluknya erat.
"Sayang, setiap pernikahan pasti memiliki coba'an, pernikahan itu adalah ibadah, dan tidak ada ibadah yang tanpa godaan dan cobaan, mau yg pacaran dulu, mau yang di jodohkan, semua pasti ada cobaannya, hanya saja cobaannya berbeda-beda, ada yg dari faktor ekonomi, keluarga, ego masing2, cek cok dan masih banyak lagi." mami memberi pengertian. "tapi mi." aku berusaha menyela.
"Sudah, coba jalani saja dulu, ketemu aja belum kok udah uring2an, siapa tau pas nanti ketemu langsung cocok." mami mengusap kepalaku sambil tersenyum.
"Nanti setelah kamu ketemu sama calon suami kamu, apapun penilaian kamu tentang dia, cerita sama mami, oke? mami bangun dari duduknya, mengusap puncak kepalaku dan tersenyum, mami beranjak dari duduknya dan pergi. aku menghembuskan nafas panjang, mami benar aku belum bertemu laki2 itu, bagai mana bisa aku menyimpulkan banyak hal tentang dia, temui dia dulu, baru aku memutuskan pilihanku.
__ADS_1
.
.
.
Selamat membaca teman2 semua, kritik dan saran di curahkan pada kolom komentar saja ya ☺️ jangan lupa like nya juga. 😉
__ADS_1