
"kalau berbicara ikhlas, insya Allah aku ikhlas, kalau bicara terpaksa mungkin awalnya Iya aku sedikit terpaksa, Tapi itu tidak akan mengurangi baktiku sebagai seorang istri untuk kamu, kalau untuk perasaan aku sama kamu, jujur aku belum ada perasaan apapun sama kamu, namun semoga kedepannya nya seiring berjalannya waktu perasaan itu ada di hati kita masing-masing, karena aku tahu sebenarnya kamu juga belum ada perasaan apa-apa kan sama aku?" adila memandang bagas.
Bagas tersenyum kemudian menjawab
"syukurlah kalau kamu tahu, aku takut jika aku jujur terlebih dahulu akan menyakiti perasaan kamu, apakah kamu keberatan jika seandainya kita mengadakan sebuah perjanjian?"tanya Bagas
"bukankah kata kamu pernikahan harus dilandasi dengan kejujuran? seandainya kamu jujur terlebih dahulu pun Aku tidak akan kecewa ataupun sakit hati, justru aku bersyukur kamu bicara terbuka seperti ini, hmmmm perjanjian seperti apa yang harus kita lakukan?" ucap adila.
"apakah kamu setuju jika kita tidur terpisah selama kita belum memiliki perasaan satu sama lain?" tanya bagas.
"aku sangat setuju, sangat sangat setuju, deal." Reflek adila menjabat tangan bagas.
Saat Adila sadar, Adila buru-buru melepaskan jabatan tangannya dari tangan Bagas.
"maaf, aku terlalu senang." adila tertunduk malu.
Bagas hanya tersenyum tipis.
"No problem." jawab bagas singkat.
"Dan ya, aku akan tetap melakukan kewajibanku sebagai seorang suami, menafkahi mu dan memenuhi kebutuhanmu." ucap bagas.
"Akupun sama, akan tetap mengurusi kebutuhanmu, dari mulai menyiapkan pakaian mu, memasak makanan untuk mu dan lain sebagainya." ucap adila yakin.
"Memangnya kamu bisa masak?" tanya bagas sedikit ragu.
"Jangan sembarangan, gini2 juga aku jago masak loh." ucap adila penuh percaya diri.
"Oke kalau gitu kita buktikan nanti." bagas tersenyum tipis.
__ADS_1
"Siapa takut." adila tak mau kalah.
"Tidurlah, besok kita langsung pindah ke rumahku, nanti kita bicarakan lagi." bagas berbaring dan menarik selimutnya.
Adila pun mengangguk, adila akhirnya berbaring di samping bagas, ada rasa tidak nyaman, tapi lega saat tau bagas juga belum memiliki perasaan apapun terhadapnya, jadi tidak takut di apa2in di malam pertama mereka, tapi tetap saja adila susah tidur, rasanya tidak nyaman tidur dengan orang asing, apa lagi seorang laki-laki.
Keesokan harinya adila dan bagas akhirnya pulang di antarkan oleh orangtuanya beserta mertuanya ke rumah adila dan bagas, Mami dengan berat hati melepas adila, kini adila bukan tanggung jawab nya lagi, ada suaminya yang bertanggung jawab dunia akhirat untuk adila.
"Jadi bagaimana, setuju kita tidur terpisah." tanya bagas ketika hanya tinggal mereka berdua di rumah itu.
"Ya, tentu saja, boleh tunjukkan di mana kamarku?" adila melirik ke kanan dan ke kiri.
"ini kamar kamu dan ini kamarku, Kamar kita bersebelahan, jadi kalau ada apa2 mudah untuk memanggil." bagas menunjuk kamar di sebelah kamaranya.
"Ohhh oke, aku masuk kamar dulu mau beres2." adila membawa koper menuju kamarnya.
"Kalau ada apa2 kasih tau saja." bagas pun pergi dari sana.
"dil, kamu di dalam?" tiba2 bagas manggil.
"Ya ada apa?" teriak adila dari dalam kamar.
"Siang ini mau makan apa?" tanya bagas.
"di rumah belum ada bahan makanan, delivery order aja, menu makanan nya terserah mas bagas." jawab adila tanpa membuka pintu.
"Oke." ucap bagas singkat.
Malam ini pun mereka tetap memesan makanan secara online,
__ADS_1
"Mas makan dulu." adila memanggil bagas dari balik pintu.
"Iya sebentar." jawab bagas singkat.
"Mau di bikinin kopi, teh, atau susu?" tanya adila.
"Kopi hitam, gulanya sedikit." jawab bagas lagi.
Adila pun beranjak ke dapur, memanaskan air kemudian menyeduh kopi untuk bagas.
Tidak lama bagas pun keluar dari kamar kemudian duduk.
"Ini kopinya, terlalu manis atau kurang manis?" adila meminta penilaian.
Bagas menyeruput kopinya.
"Terlalu manis sedikit, tapi tidak masalah." jawab bagas.
"Ohh oke maaf, besok aku kurangi gulanya." jawab adila sedikit tersenyum.
Bagas hanya membalas dengan anggukan.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai teman-teman jangan lupa like dan komentarnya ya. ☺️