
Dengan perasaan bersalah, Lia meminta maaf kepada Nathan. Sungguh ia menyesal telah menyembunyikan semua ini darinya. Sebenarnya Lia tak berniat menyembunyikan pernikahan Bia namun, saat itu memang karena keadaan yang membuatnya lupa.
Nathan menarik dalam nafasnya. Memang bukan sepenuh salah Lia namun, ia sangat merasa kecewa atas ketidak tahuan tentang pernikahan direkturnya.
"Saya benar benar kecewa, mbak!" Nathan berlalu meninggalkan Lia.
"Mas… Mas Nathan!" teriak Lia.
"Maaf…" lirihnya lagi.
Nathan sama sekali tak menghiraukan panggilan Lia. Ia terbawa arus emosi.
Ia juga tak menyangka bahkan Bia juga ikut menyembunyikan pernikahannya.
🌺 🌺 🌺
Sepanjang perjalanan pulang, Bia hanya terdiam. Begitu juga dengan Anyer yang enggan membuka percakapan, hanya sekali kali Anyer melirik Bia yang mengelap ingusnya.
Sebenarnya Anyer merasa iba terhadap wanita yang telah menjadi istrinya itu. Betapa tidak, ia tak mengetahui jika ayahnya sedang sakit keras.
Mobil mendarat ke sebuah bangunan megah milik Bia. Anyer sengaja membawa Bia ke rumahnya karena mungkin akan ada banyak pelayat meski jasad Wijaya telah dikubur.
Kabar meninggalnya Wijaya telah tersebar luas. Dan kabar itu sudah menjadi trending topik dalam waktu kurang lebih dua jam saja. Banyak pihak yang ikut turut berduka.
__ADS_1
Karangan bunga terus membanjiri kediaman Bia saat ini, begitu juga para pelayat juga masih banyak yang datang dan pergi.
"Sudah tak ada gunanya kamu membuang air mata, karena itu tidak akan merubah kenyataan." ketus Anyer.
Jahat! Satu kata yang tepat untuk Anyer.
Sungguh sangat kelewat ucapannya. Sedikitpun tak ada empati terhadap Bia di saat ia tengah berduka kehilangan satu satunya keluarga yang tersisa.
Jika saja Bia dalam keadaan baik baik saja, mungkin dengan cepat Bia akan meremas mulut Anyer. Namun kali ini untuk berdiri saja Bia merasa lemas, apalagi jika untuk berdebat. Ia tak sungguh tak bertenaga.
Kedatangan Bia telah di sambut dengan banyak rekan kerja untuk berbela sungkawa.
Mata Bia terasa bengkak. Tak hentinya ia menagis. Di saat seperti ini dengan siaga Lia dan Nathan tetap berada di samping Bia. Mereka terus menguatkan Bia.
"Tuan jika anda lelah silahkan beristirahat di kamar nyonya. Kamar nyonya ada di atas." ucap Lia yang melihat Anyer kelelahan.
Mengangguk pelan, Anyer mengikuti saran Lia. Ia memang sangat merasa lelah. Ingin sekali ia mengistirahatkan tubuhnya sejanak.
"Oh ya Tuan, saya juga sudah siapkan pakaian anda jika anda ingin membersihkan tubuh anda." Tambah Lia lagi.
Dengan langkah santai, Anyer menapaki anak tangga menuju kamar yang di maksud oleh Lia. Tepat di depan sebuah pintu, Anyer meragukan langkahnya.
Tangannya hanya mengudara saat hendak membuka pintu.
__ADS_1
"Tunggu, apa apaan ini," protes dirinya sendiri.
Anyer pun berbalik ke belakang lagi namun, langkahnya tertahan.
"Tapi… Tidak ada salahnya. Secara agama saya berhak masuk ke kamar Bia," gumamnya.
Dengan masa bodoh, Anyer memutuskan memasuki kamar Bia. Kamar yang belym pernah ia masuki sebelumnya.
Anyer mengedarkan pelan penglihatannya. Semua dinding di variasi dengan warna pink. Sunggu Anyer geli kala ada banyak poster Hello kitty di dinding kamar tersebut.
"Gak menyangka, orang seperti dia suka dengan hello kitty," kekeh Anyer.
Seperti yang di ucapkan Lia, di atas tempat tidur telah tersiapkan pakaian ganti untuk Anyer. Tak ingin membuang waktu lama lagi, Anyer segera memilih membersihkan tubuhnya.
Haii Haii selamat pagiii
yang udah baca tapi kagak mau tekan like uthor doain keseleo lidahnya. Uthor tertawa jahat Hahahaha...
bercanda lho...
Oh ya, pagi ini uthor mau rekomen lagi satu novel dari kakak Emmarisma yang judulnya DIA BUKAN JANDA
di jamin seruu!!
__ADS_1