Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Es Krim


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor Anyer Bia hanya mampu menopang dagunya saat berita Anyer sudah mulai muncul di televisi. Bahkan hampir semua stasiun televisi menayangkan berita tentang Anyer yang sedang menggandeng wanita misterius untuk menemani pertemuan penting antar perusahaan. 


Apa jadinya jika dalam berita tersebut ada yang mengenali dirinya. Sungguh akan menjadi sebuah masalah besar untuk dirinya.


Sementara itu di ruang kerja, Anyer sedang di tatar langsung oleh oma Risa.


Oma yang saat itu mendengar berita Anyer menggandeng wanita misterius segera naik darah. Ia segera menyuruh sopirnya untuk mengantarnya ke perusahaan. Saat ini oma Risa ingin mendapat kepastian dari Anyer secara langsung mengenai sosok wanita misterius tersebut.


"Oma… Anyer serius itu adalah Bianca."


Anyer benar benar frustasi kala oma Risa mendesak Anyer mengakui siapa sosok wanita tersebut.


"Kamu jangan berbohong, Anyer. Kalau memang itu Bianca mengapa harus kamu sembunyikan seperti itu?" ujar Oma Risa masih tak percaya.


"Oma… Untuk saat ini Anyer terpaksa harus menyembunyikan identitas Bianca sebagai istri Anyer. Oma tahu kan di luar sana banyak yang ingin menjatuhkan Anyer. Bisa saja mereka menggunakan Bia sebagai senjata."


Kali ini oma mulai terdiam. Memang ada benarnya ucapan Anyer. Tapi mau sampai kapan hubungan mereka akan terus disembunyikan.


Oma menatap bola mata Anyer. Mencari suatu kebohongan. "Awas saja kalau kamu berbohong!" ancam oma.


"Baiklah oma percaya. Nanti malam kalian ke rumah. Akan ada yang ingin oma sampaikan kepada kalian berdua."


Setelah itu oma Risa memilih berlalu meninggalkan ruangan Anyer. 


Sementara itu Anyer membuang nafas kasarnya. Untung saja oma percaya.


Ponsel Anyer berdering. Sebuah panggilan dari Lisa. Anyer bimbang untuk menjawab. Ia sudah bisa menebak bahwa Lisa telah melihat berita tentang dirinya.


Anyer memutar otak untuk mencari alasan sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.


"Sayang, kamu harus jelaskan semuanya."


Belum apa apa telinga Anyer sudah ingin peka. Hanya lewat telepon suara sudah melengking apalagi jika bertatap muka.


"Tenang dulu Lisa aku bisa jelaskan."


"Tuh kan… Udah gak panggilan sayang. Kamu bener bener ya Anyer! Aku mau kita ketemu malam ini di cafe tempat biasa!"


Seketika panggilan terputus. Membuat Anyer menganga menahan kata katanya di dalam kerongkongan saja.


Anyer meremas rambutnya frustasi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Lisa benar benar marah dan tak mau mendengarkan penjelasan. 


Anyer menelepon kembali nomor Lisa namun sayang nomor Lisa sudah tidak aktif lagi.


"Arrgh…. Sial." umpat Anyer.


….


Jalan berdua bak seorang sepasang kekasih, Bia dan Nathan terlihat sedang menikmati es krim di sebuah taman sebelum pulang ke rumah.


Rencana awal memang langsung pulang namun, mata Bia melihat seorang penjual es krim keliling di sebuah taman. Merasa kasihan dan memang Bia memang menyukai es krim, Bia menyuruh Nathan berhenti sebentar

__ADS_1


"Bu dir, saya tidak suka es krim," tolak Nathan saat Bia memberikan es krim rasa coklat kepada Nathan.


"Ayolah, Nath. Kamu gak kasihan sama bapak bapak ini?" bisik Bia.


Nathan menatap lelaki setengah baya yang masih setia berkeliling menggunakan sepeda ontel dengan kerutan di wajahnya yang sudah sangat jelas terlihat.


Dengan patuh Nathan menerima es krim yang diberikan oleh Bia.


Setelah membayar, keduanya memilih duduk sebentar di salah satu tempat duduk untuk menikmati es krim yang sebentar lagi akan meleleh jika tidak dimakan.


Nathan hanya memperhatikan Bia yang terlihat sangat semangat melahap es krim hingga tanpa menyadari es krim miliknya sudah meleleh.


"Hai…Nath!" Bia menjentikkan jarinya di hadapan Nathan.


Nathan pun tersadar. "Ah, maaf Bu," ujarnya.


"Kebiasaan bengong! Tuh lihat udah meleleh." Tunjuk Bia.


Nathan yang menyadari segera melahap es krim yang hampir mengenai tangannya.


Bia terkekeh kecil saat melihat bibir Nathan belepotan akibat es krimnya.


Mata Nathan terbelalak saat tangan Bia dengan lembut mengusap bibir Nathan menggunakan sebuah tissue. Ia masih terpaku, meski sudah sekian lama mendampingi Bia namun, baru kali ini Nathan bisa merasakan detak jantungnya yang tidak normal. 


Mengapa seolah Nathan terhipnotis oleh kecantikan Bia. Mengapa baru sekarang Nathan menyadari bahwa Bia sangat cantik.


Setelah selesai membersihkan bibir Nathan, Bia malah mencubit pipinya.


Nathan pun segera sadar dan membuang jauh pikiran tentang Bia. Mungkin saja jantung Nathan hanya kaget saja, karena selama ini tak ada perempuan yang menyentuh dirinya selain Bia.


"Maaf Bu dir," 


Bia kembali menikmati es krim. Matanya berkeliaran melihat lihat keramaian sekitar. Namun, pandangan mata Bia terhenti pada salah satu objek yang membuatnya merasa sangat penasaran. Dengan jelas Bia memperhatikan sosok tersebut sambil mengingatnya.


"Lisa," guman Bia.


Nathan yang mendengar ucapan Bia pun segera melihat kemana Bia memandang.


Dan ternyata benar Bia sedang melihat Lisa, kekasih suaminya. Namun kali ini lelaki di samping Lisa bukanlah Anyer.


Bahkan Nathan sendiri tidak mengenali sebelumnya.


"Bu dir, mari kita pulang," ajak Nathan tiba tiba.


Bia menggeleng. "Tidak Nath, aku ingin bermain sebentar. Ayo!"


Nathan mendongak saat Bia berjalan mengarah ke tempat Lisa berada.


Dirinya pun semakin penasaran apa yang sebenarnya ingin Bia mainkan.


"Hai… Lisa kan?" sapa Bia pura pura.

__ADS_1


Lisa mendongak. "Ah, ibu Bianca." terkejut.


Keduanya saling melempar senyuman.


Lisa segera berdiri lalu menyalam tangan Bia. Begitu juga dengan sosok di samping Lisa yang turut menyalam tangan Bia membuat Bia menautkan alisnya.


"Siapa ini?" tanya Bia.


"Oh iya Bu, perkenalkan ini Rico teman saya." ucap Lisa.


"Senang bertemu dengan anda Bu…"


"Bianca," ucap Bia segera.


Rico menatap Bia tanpa kedip. Sungguh sosok Bia mampu menghipnotis Rico. Ia terlihat sangat bengong.


Menyadari akan hal itu, Bia memilih untuk mengakhiri permainannya. Ternyata hanya teman saja, pikir Bia. 


Bia menganggap lelaki itu adalah selingkuhnya Lisa. Dengan begitu Bia akan mengadu kepada Anyer.


Ah, untuk apa juga Bia peduli akan hal itu. Toh tidak ada untungnya. 


"Oh… Kalau begitu duluan ya." ucap Bia.


"Lho sudah mau pulang Bu? Padahal rencananya kita masih ingin ke cafe sebelum pulang lho," ujar Lisa.


"Kalian saja. Saya masih banyak pekerjaan. Hanya kebetulan lewat saja tadi." Bia pun segera berlalu.


Bia dan Rico sama sama mengangguk seolah menyetujui keputusan Bia.


Setelah kepergian Bia dan Nathan, Rico segera memberondong berbagai pertanyaan kepada Lisa tentang siapa sosok Bianca.


"Lis, elu harus cerita siapa wanita itu!"


Lisa membuang nafas kasarnya.


"Dasar buaya darat."


"Lis, gue serius!"


"Rico apa di dalam pikiran kamu itu hanya wanita dan wanita? Lihat wanita bening sedikit sudah ijo matanya?" sindir Lisa.


"Eh, kamu kenapa? Kok ngambek?" 


Lisa hanya terdiam. Tak seharusnya Lisa berharap lebih terhadap Rico karena Rico itu tidak menyukainya. Dia hanya menyukai tubuhnya saja untuk memuaskan nafsunya.


 Haii haii mana nih like dan komennya?


Tolong dong biasakan setelah membaca tap like 👍🏻 biar otor kentang ini makin semangat.


Saweran otor tunggu ya wkwkwkwk

__ADS_1


 


__ADS_2