Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Tingkat Kepercayaan Nathan


__ADS_3

Beberapa kali Bia mencoba menghubungi ponsel Anyer namun tetap saja tak ada jawaban. Harusnya di waktu jam istirahat seperti ini Anyer tidak sibuk. Lalu mengapa ia mengabaikan panggilan teleponnya. Bia menghentakan kakinya lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Di dalam kamar sendiri membuat Bia merasa bosan sebab, Nathan sudah pergi untuk mencarikan pakaian ganti untuk dirinya. Ia pun memilih keluar kamar untuk menikmati suasana yang terlihat masih asri serta deburan ombak di bawah sana.


.


.


.


.


Sementara di sisi lain Anyer sedang berada di sebuah restoran sedang makan siang. Namun, kali ini bukan dengan Rafa. Melainkan dengan Mela.


Ya, Mela menghubungi Anyer untuk bertemu. Awalnya Anyer tidak tertarik dengan permintaan Mela namun, Mela segera mengancam akan menyebarkan video panas mereka. Dengan terpaksa Anyer menyetujuinya.


"Sekarang katakan apa mau kamu?" ketus Anyer.


Mela tersenyum sinis. "Galak amat sih," goda Mela.


"Baiklah jika kamu ingin to the point."


"Setelah aku keluar dari Club itu sekarang aku menjadi pengangguran," ujar Mela.


"Oh, aku tahu kamu kesini akan memeras aku lagi kan? Cepat katakan berapa yang kamu minta!"


Mela mendongak menatap aura kemarahan dalam wajah Anyer. 


"Kamu salah! Aku ke sini bukan ingin memeras tetapi, aku ingin kamu memberikan sebuah pekerjaan di kantor. Aku dengar sekertaris kamu sedang cuti melahirkan. Apakah aku bisa menjadi cadangannya?" pinta Mela.


Anyer tersenyum mengejek. "Tahu apa kamu tentang perusahaan?" ejek Anyer.


Mela terkekeh pelan. "Apa yang tidak bisa aku kerjakan? Bahkan aku bisa mencuri tubuhmu."


"Cukup!" bentak Anyer membuat sebagian pengunjung tertuju kepada keduanya.


Merasa menjadi bahan tontonan Anyer pun segera memelototi mereka.

__ADS_1


"Apa kalian lihat lihat" teriak Anyer. 


🐊🐊🐊


.


.


.


Bia duduk di depan kamarnya sambil memandang laut yang luas. Ia masih memikirkan mengapa Anyer tidak mengangkat teleponnya. 


Rafa.


Iya kali ini ia akan menghubungi Rafa. Pasti Rafa tahu keadaan Anyer. Semoga saja Anyer baik baik saja.


Setelah mengirim pesan, Rafa dengan cepat membalasnya. Tetapi Bia malah mengernyitkan keningnya saat mengatakan bahwa Anyer hari ini belum masuk kantor dan semua pekerjaan kantor Rafa yang menghandle pekerjaan.


Hati Bia semakin gelisah. Ia pun segera menelpon rumah dan menanyakan keadaan Anyer. Namun, saat Bia menanyakan kepada mbak Lia, mbak Lia pun mengatakan bahwa Anyer sudah pergi semenjak pagi tadi.


Lalu kemana Anyer pergi.


Dasar laki laki tidak bisa menjaga janji. Jangankan janji, istri sendiri saja tidak bisa dijagain, umpat Bia dalam hati.


Meski belum mendapat kepastian kemana suaminya berada hati Bia sangat kecewa. Lagi lagi harapannya patah.


Bia menyeka jejak air matanya. Inilah yang Bia takutkan jika ia jatuh cinta. Meskipun dirinya mempunyai julukan wanita tangguh namun ia sangat lemah dalam urusan percintaan.


Nathan yang baru saja datang segera menghampiri Bia dengan penuh rasa khawatir sebab Bia terlihat sesenggukan.


"Bu dir anda kenapa? Ada apa?" Nathan benar benar khawatir.


Tak ada jawaban dari Bia. Wanita itu memilih mengelap ingusnya dengan kaos yang ia kenakan.


"Bu dir jorok," ledek Nathan.


"Biarin," ketus Bia.

__ADS_1


Nathan datang membawa kantong plastik berwarna putih dengan logo nama sebuah toko fashion.


"Sudah jangan menangis. Saya tidak meninggalkan anda. Saya lama karena harus muter muter mencari pakaian ganti untuk anda. Ini!" Nathan menyodorkan plastik putih tersebut. 


Lagi lagi Bia menyeka air matanya. "Sejak kapan tingkat kepercayaan tinggi?" sindir Bia. Nathan pun terkekeh.


Tanpa mereka sadari ada wanita paruh baya dengan baju berlogo nama penginapan mereka mengantarkan makan siang untuk keduanya. Wanita itu pun langsung berdehem.


"Maaf mengganggu, Mas, Mbak" ujarnya.


"Ini makanannya di letakan dimana ya?" 


Wanita itu bingung sebab penghuni kamar ada di luar.


"Ah, di dalam saja Bu," ujar Nathan.


Wanita itu mengangguk. 


Setelah meletakkan makanan di meja kamar, wanita itu tersenyum kepada Nathan dan Bia.


"Kalian romantis sekali sih? Memang pilihan yang tepat kalian memilih tempat ini untuk berbulan madu. Kalau malam cuacanya memang dingin." Wanita itu menahan tawanya. Sementara Nathan dan Bia saling menatap. Keduanya tak mengerti dengan ucapan wanita tersebut.


"Sudah tidak usah malu. Dulu waktu saya bulan madu saya juga memilih tempat yang sepi dan berhawa dingin," celotehnya lagi.


Nathan sengaja menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Buk maaf kami bukan…"


"Oalah Mas, kok masih malu malu kucing. Ya sudah lanjutkan lagi maaf sudah mengganggu." Wanita itu berlalu.


Bia menatap punggung wanita itu sambil menggeleng. Ada ada saja, batinnya.


.


.


.


Terimakasih atas Like dan komen yang kalian berikan. Semoga kalian tetap stay di disini hingga novel ini tamat 🙏🏻

__ADS_1


Oh iya sebelum Othor mau ngucapin terimakasih buat kalian yang telah melindungi novel othor ❤



__ADS_2