Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Frustasi


__ADS_3

"Anyer," gumam Lisa.


Rico tak kalah terkejut dengan sosok Anyer yang telah berdiri diambang pintu.


Sungguh diluar dugaan jika hal ini akan disaksikan oleh Anyer. Keduanya tak mampu bergerak karena rasa malu.


"Bagus sekali pertunjukan pagi ini," keke Anyer yang dengan paksa menyingkapkan selimut tebal yang menutup keduanya.


Tak mampu berkata, Lisa hanya mampu memejamkan mata sementara Rico bergegas memakai celana kemudian memasangkan selimut kembali kepada Lisa.


"Bro…. Aku…"


"Cukup! Aku sudah melihatnya dengan jelas."


"Dan kamu Lisa! Aku benar benar sangat kecewa!" teriak Anyer.


"Aku pikir kamu perempuan baik baik. Ternyata kamu adalah ******!" Anyer memaki Lisa. Mengeluarkan amarahnya.


Lisa hanya menunduk. Air mata tak berarti lagi, tak ada yang bisa dijelaskan lagi kepada Anyer.


"Maaf." Hanya satu kata yang Lisa ucapkan.


Anyer terkekeh pelan. "Jadi ini balasanmu. Aku berjuang untuk mendapatkan restu dari oma dan kamu malah main gila bersama dia?" bentak Anyer.


"Mulai sekarang tinggalkan tempat ini! Dan satu lagi detik ini juga hubungan kita berakhir."


Anyer membanting pintu dengan keras. Saat ini hatinya sedang hancur. Wanita yang sangat ia cintai mampu melakukan hal yang menjijikkan seperti itu. Bahkan dirinya yang berstatus sebagai kekasihnya tidak berani untuk menyentuhnya lebih. 


"Sudah tak perlu ditangisi. Ada aku disini," ujar Rico.


Lisa pun menghapus jejak air matanya, benar jika Rico bisa memberi lebih untuk dirinya untuk apa Lisa harus menangisi Anyer?


.


.


.


Anyer mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya sangat kacau.


Ia bahkan beberapa kali hampir menabrak mobil dari arah berlawanan karena menyalip mobil dengan ugal ugalan.


Satu tempat yang tak pernah ia kunjungi adalah salah satu tempat yang kini sedang Anyer tuju. Sebuah Club, meski masih siang namun suasana tak pernah padam oleh para pengunjung.


"Dasar ****** sialan," umpat Anyer.


Anyer telah meneguk  beberapa gelas minuman beralkohol tinggi. Sebenarnya tubuhnya tidak terbiasa namun karena amarah yang memuncak, Anyer tak memperdulikannya.

__ADS_1


Di sisi lain seorang wanita cantik yang berpakaian seksi menghampiri Anyer. Sudah hampir setengah jam wanita tersebut memperhatikan Anyer. Wanita itu tahu jika Anyer sedang frustasi.


"Hai," sapa wanita tersebut.


Anyer menoleh. Kepalanya sedikit berdenyut. Mata yang sedikit berkunang, Anyer menangkap wajah Bia dalam wanita tersebut.


"Bia," lirih Anyer sambil memegangi wajah wanita tersebut.


"Haii aku Mela." 


"Oh… Maaf," lirih Anyer.


Mela menyunggingkan senyumnya.


"Sendirian ya, aku temenin ya," tawar Mela.


Tak ada jawaban dari Anyer. Mela semakin tertarik untuk menggoda pria tampan di depannya saat ini.


"Oh iya, cobain deh ini minuman terbaru di klub ini. Rasanya tuh beda dari yang lain. Dan ini adalah minuman terbaik di klub ini." Mela menyodorkan satu gelas minuman yang ia bawa.


Tanpa ragu, Anyer menegak minuman itu hingga tandas membuat Mela tersenyum puas.


Beberapa kali Anyer memegangi kepalanya. Mendadak ia merasakan hawa panas menjalar di tubuhnya.


Apalagi saat melihat Mela dengan pakaian terbuka membuatnya menelan kasar salivanya.


"Bi, aku sayang sama kamu."


"Kamu mabuk. Ayo aku antar pulang." Dengan suka hati wanita itu memapah tubuh Anyer yang mulai oleng.


Siapa yang tidak tergoda dengan lelaki tampan seperti Anyer ini. 


Mela, salah satu wanita penghibur klub merasa mendapatkan durian runtuh. Bagaimana tidak ternyata sosok yang sedang bersama dengan dirinya adalah sosok Adipati Anyer. Siapa yang tidak mengenal sosok Anyer di kota ini?


Mela menyetop taksi. Anyer yang sedari tadi meracau nama Bia membuat Mela sedikit bertanya mungkinkah itu kekasihnya, ah tapi masa bodoh yang terpenting Mela tidak akan menyia nyiakan kesempatan langka ini.


Alkohol tinggi membuat Anyer hilang kesadaran. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah sosok Bia. Bahkan wajah Mela pun ia anggap sebagai Bia.


Setelah sampai di salah satu kamar Mela segera merebahkan tubuh Anyer yang telah hilang kesadaran.


.


.


.


Bia yang telah menyelesaikan meetingnya mendadak terpikirkan oleh Anyer. Apalagi kejadian tadi pagi yang masih terngiang ngiang di kepalanya.

__ADS_1


"Lagi ngapain dia ya?" gumam Bia.


Nathan berdehem membuat Bia segera menetralkan ekspresi wajahnya.


"Kamu ngapain ngikutin aku?" ketus Nathan.


"Saya mau ke meja saya, Bu." 


Bia pun akhirnya hanya menyengir sendiri. 


"Nath," panggil Bia.


Nathan yang sudah duduk di mejanya mendongak ke arah Bia.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Nathan.


Bia ragu tetapi ia tidak tahu harus dengan siapa ia harus berbagi. Selain dengan mbak Lia dan Nathan, Bia tidak mempunyai tempat untuk mencurahkan keluh kesahnya.


"Emm… Kamu sibuk?" tanya Bia.


Nathan menahan rasanya. Ekspresi imut seperti membuat Bia sangat lucu.


"Jika anda tidak sibuk maka saya pun juga tidak sibuk," ujar Nathan.


"Ditanya serius kok."


Bia segera meninggalkan Nathan menuju ruangannya. Dengan spontan Nathan mengikuti langkah atasannya tersebut.


"Bu Dir kenapa? Ada masalah?" tanya Nathan?


Bia menatap malas kearah Nathan. Apakah jika ia menyatakan perasaan yang sebenarnya malah akan menjadi bahan tertawaan bagi Nathan.


"Baiklah, aku akan mengatakan sesuatu, tetapi sebelum itu aku peringatkan dahulu. Jika kamu berani menertawakan gaji dan bonus kamu tahun ini aku potong!" ancam Bia.


.


.


.


Haii mana nih suaranya yang nanyain othor dari kemarin²? Nih othor udah datang sekarang.


Novel aku up seperti biasa 2x sehari.


mana nih bunga sama kopi untuk othor?? 🤔🤔


Masa iya cuma nanyain doang???

__ADS_1


__ADS_2