Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Isi Hati Nathan


__ADS_3

Bia mengendurkan tangannya. Tubuhnya mendadak lemas. Satu kata keramat baginya. Kata yang tidak pernah ada dalam kamu hidupnya.


Bia menggeleng pelan kemudian meninggalkan tempat dansa. Nathan segera mengikuti langkah Bia.


"Bi, tunggu." Kini Nathan samakin lancang memanggil nama atasannya. 


Bia berhenti karena lengannya telah di berhasil Nathan raih.


"Maaf aku sudah lancang. Tapi kali ini aku serius, Bi," ujar Nathan penuh harap.


Bia menatap langit langit menahan agar kristalan itu tidak lolos begitu saja.


"Kamu sudah keterlaluan Nathan!" 


Lorong yang sunyi hanya ada Bia dan Nathan. Bak seperti seorang kekasih yang sedang bertengkar.


"Kamu gila Nath," lanjut Bia lagi.


Tak ingin menjadi bahan tontonan bagi yang melewati, Nathan sengaja menarik lembut tangan Bia menuju roof poof. Disana dengan jelas langit luas serta bintang yang bertaburan serta kemerlip lampu kota di bawah sana.


Katakan saja Nathan malam ini sudah gila. Bahkan ia tidak takut jika akan di pecat oleh Bia. Sudah cukup Nathan selama ini berdiam dan selalu menerima kenyataan bahwa Bia telah bersuami namun, dengan adanya bukti di tangan Nathan semakin yakin untuk merebut Bia dari tangan Anyer.


"Mau kamu apa Nath? Kamu mau aku bercerai dengan Anyer? Kamu pikir dengan statusku yang baru akan ada orang yang mau menerimaku apa adanya? Aku sudah cacat di mata mereka, Nath." Kini Bia dengan bebas berteriak menyalurkan amarahnya.


"Satu lagi, kamu menganggap aku sebagai adikmu, lalu kamu ingin menghancurkan kebahagiaan adik mu ini?" 


Nathan masih menahan diri dari amukan Bia. Ia membiarkan wanita itu mengeluarkan segala amarahnya untuk dirinya.


"Kakak macam apa kamu ini Nath?" Bia berjalan kedepan lalu menatap bintang yang bertaburan luas di angkasa dan mencari satu titik bintang paling terang. Berharap itu adalah bintang sang ibunya.


"Maaf Bi, aku memang sudah lancang dan sudah gila. Tapi semua ini aku lakukan untukmu. Aku hanya ingin kamu bahagia," ujar Nathan.


Bia terdiam. Ia juga menyadari bahwa pernikahannya dengan Anyer tidak membuat dirinya bahagia. Tetapi apakah harus dengan bercerai? Bukankah semuanya bisa ditata ulang kembali. Dimulai dari awal lagi.


"Tapi bukan berarti harus bercerai kan Nath?"


Nathan mendekat, ia bisa melihat jejak air mata yang sengaja disembunyikan oleh Bia. Nathan sudah pernah berjanji tidak akan membiarkan Bia menangis dan malam ini meskipun ditutupi Nathan masih bisa melihatnya.


"Apa kamu bisa memastikan Anyer bisa membahagiakanmu? Jika tidak yakin maka berpisahlah sebelum kamu semakin menghancurkan dirimu sendiri. Kamu ingat bahwa seorang Bianca Wijaya itu adalah wanita kuat?"


Bia terdiam. Ingatannya kembali pada foto foto yang ia lihat tadi. Seakan rasa jijik itu muncul, rasa yang tak bisa ia uraikan dengan kata kata. Bahkan dirinya yang sudah berstatus sah sebagai istrinya sama sekali belum pernah disentuh oleh Anyer.

__ADS_1


Miris bukan seorang istri belum terjamah oleh suaminya sendiri dan ternyata suaminya telah menjamah wanita lain.


"Sejak kapan kamu mengetahui hal itu?"


"Sejak kita keluar kota. Awalnya aku mengutus anak buahku untuk mengawasi Anyer apakah dia masih berhubungan dengan Lisa atau tidak. Dan ternyata fakta baru bahwa Anyer telah memiliki wanita lain. Lebih parahnya lagi pagi itu…." Nathan tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Bia pun sudah tahunarah ucapn Nathan karena ia sudah melihat di ponsel Nathan.


Bia malah meloloskan air matanya. Kini ia  benar benar terlihat sangat rapuh.


"Bi, bercerai lah dengan Anyer! Aku akan siap menikahimu."


💐 💐 💐


Dengan langkah lesu, Bia melangkahkan kaki menuju kamar. Mata yang sudah mengantuk serta tubuhnya yang sudah lelah ingin sekali ia segera beristirahat.


Saat Bia baru saja membuka pintu kamar, tiba tiba saja lampu kamar menyala. Sosok Anyer yang telah menunggu Kedatangan Bia selama satu jam yang lalu.


"Dari mana kama?" tanya Anyer.


"Bukankah kamu tahu aku berada dimana?"


Anyer menatap Bia semakin dalam. Ia tersenyum sinis melihat gaun yang dikenakan oleh Bia sungguh sangat menggoda.


"Sudah berapa kali kamu melakukannya dengan Nathan?" teriak Anyer lagi.


Bia benar benar merasa takut. Seumur dirinya, ia sama sekali belum pernah dibentak seperti ini oleh siapapun.


"Kamu terlalu banyak minum." Bia mengalihkan pembicaraan. Meski ia tahu maksud Anyer yang sesungguhnya. 


Bia hanya menahan rasa sakit di dada saat tuduhan itu dilayangkan kepada dirinya tanpa ada sebuah bukti nyata.


"Aku masih sadar Bi, karena aku tidak minum."


"Baguslah."


Bia segera menghindar lalu memilih menuju kamar mandi. 


Didalam sana ia menangis mengeluarkan rasa nyeri di dadanya. Sungguh sangat kejam ucapan Anyer. Rasanya ingin sekali Bia menjawab segala tuduhan itu namun percuma, Anyer tidak akan percaya.


Sudah hampir setengah jam Bia berada di dalam kamar mandi. Anyer pun juga sudah mulai berisi memanggil namanya.

__ADS_1


"Oh, jadi benar kamu dan Nathan baru saja melakukan One Night Stand bukan?"


Bia yang merasa sangat geram segera melayangkan sebuah tamparan keras kepada Anyer. "Jaga ucapan kamu ya!"


Anyer tersenyum sinis. "Jadi benar ucapanku?" Anyer terus memancing emosi Bia.


"Cukup Anyer!" kini giliran Bia yang membentak Anyer. Bibir Anyer terangkat ia segera mendorong tubuh Bia ke tempat tidur. Bia semakin gelagapan melihat mata Anyer seolah ingin memangsanya.


"Kenapa? Kamu takut? Berapa kali Nathan menikmati tubuhmu hah?" bentak Anyer.


Saat wajah Anyer lebih mendekat Bia sudah yakin jika Anyer sedang dalam pengaruh alkohol. Menghirup hembusan nafas dari Anyer saja Bia ingin muntah.


.


.


Kali ini Anyer masih terbaring di tempat tidur. Saat ia mengedarkan ke sudut ruangan sudah terlihat sangat terang. Kepalanya masih terasa pusing. Anyer mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam namun, semakin ia mencoba kepala semakin sakit.


Terlihat Bia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia milir Anyer, "Sudah bangun? Mimpi apa semalam?" sindir Bia.


Anyer yang tidak mengingat hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak ingat apa apa  yang aku ingat hanya sedang menunggumu pulang. Kenapa tadi malam pulang larut?" tanya Anyer.


Bia menghela nafasnya. "Segera bersihkan tubuhmu lalu minum suplemen penambah daya ingat. Di bawah aku sudah menyiapkan susu untukmu. Nanti siang kita bertemu di cafe indah." Bia kemudian berlalu


Sementara itu Anyer berusaha mengingat apa yang sudah terjadi malam tadi mengapa pagi ini Bia terlihat berbeda dan lebih dingin.


Sesampainya di kantor Bia merasa canggung untuk bertemu dengan Nathan. Bagaimana mungkin orang yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri ternyata menyimpan hati untuknya.


Berbeda dengan Nathan yang tetap bersikap biasa saja. Bia memilih menghindari Nathan untuk hari ini. Bahkan ia menyuruh Dila untuk mengambil dokumen penting dari ruangan Nathan.


Bahkan Bia juga tidak mengizinkan Nathan untuk masuk ke dalam ruangannya. Sebenarnya bukan karena marah namun, Bia takut akan perasaannya sendiri yang akan tergoyahkan.


Menyadari bahwa Direkturnya sedang menghindar, Nathan berusaha untuk cukup tahu diri. Bisa berada disisi Bia sampai saat ini saja ia sudah bersyukur. Namun karena dorongan hati, semalam Nathan lepas untuk mengendalikan dirinya sendiri. Namun, setidaknya Natha merasa sangat lega sudah memberitahu isi hatinya kepada Bia. Apapun keputusan Bia ia akan tetap menghargainya.


🌸 🌸 🌸


Halo... aku datang lagi, maaf tidak bisa up pagi. Lagi kumat malesnya hihihi canda ya.


Oh iya aku mau rekomendasi satu Novel baru daru MAMA MUDA yang judulnya JODOH DUDA AROGAN.


MAMA MUDA ini adalah salah satu reader setiaku dari jaman novel pertama dan ternyata bulan ini beliau rilis Novel pertamanya. Bantu dukung beliau ya 🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


Ceritanya seru kok. Ramaikan ya 🙏🏻🙏🏻



__ADS_2