
Sudah dua hari Bia tidak pergi ke kantor. Semua pekerjaan ia serahkan kepada Nathan. Bia memilih mengurung diri di apartemen milik Nathan. Saat ini Bia benar benar ingin menyendiri dan belum siap bertemu dengan Anyer. Setiap melihat wajahnya selalu terbayang foto fotonya dengan Mela yang terlihat intim
Selama menggantikan tugas Bia, Nathan sedikit kateter karena harus mengecek beberapa data yang masuk di tambah lagi Dilla sedang mengambil cuti tahunan.
Nathan melenggangkan jari jarinya yang lelah mengetik di sebuah laptop. Jika Sebelumnya Nathan mengira bahwa pekerjaan Bia itu enak hanya tinggal memerintah saja namun nyatanya otaknya harus bermain dengan keras.
Samar samar dari luar Nathan mendengar ada keributan dan tak lama Anyer sudah membuka pintu ruangan. Matanya bertemu dengan mata Nathan.
"Dimana Bianca!" teriak Anyer.
"Maaf Mas Nathan, saya sudah melarang Tuan Anyer tetapi beliau memaksa." Salah seorang security mengadu.
Nathan hanya memberi anggukan lalu mengisyaratkan security untuk keluar.
"Katakan dimana Bianca sekarang!"
Nathan berjalan pelan menghampiri Anyer.
"Maaf Tuan Anyer yang terhormat, Direktur saya saat ini sedang mengambil cuti tahunan. Beliau sedang menenangkan pikirannya yang kacau dan hatinya yang sedang hancur."
Tangan Anyer mengepal. Ia berusaha menahan amarahnya. Tujuannya kesini hanya ingin mencari Bia.
"Jangan bercanda! Kamu hanya bawahan Bianca jangan sok tahu."
Nathan kembali menarik kedua garis simpul bibirnya. Ingin menertawakan keadaan Anyer yang terlihat kusam. Baru saja tiga hari ditinggal Bia sudah berantakan seperti ini. Tetapi sayang, Nathan tidak akan pernah menyerah Bia ke tangan Anyer lagi. Kali ini Nathan sudah bertekad untuk merebut Bia dari Anyer.
"Kalau anda tidak percaya, silahkan cari tahu informasinya sendiri. Saya tahu anda orang yang berkuasa, bisa melakukan apa saja yang anda suka."
Tangan Anyer kembali mengepal. Ingin rasanya ia menghajar Nathan detik ini juga. Tetapi bukan itu yang Anyer harapkan saat ini. Ia hanya ingin bertemu dengan Bia lalu meminta maaf.
.
.
.
.
.
Di dalam ruang kerja, Mela tersenyum puas saat melihat notifikasi ponselnya dari salah satu Bank yang memberi tahu bahwa ada sejumlah uang yang masuk ke rekeningnya. Belum juga puas bermain sudah harus berakhir. Mela sendiri juga tidak tahu siapa dalang di balik semua kejadian ini. Tetapi siapapun orangnya Mela sangat berterima kasih. Mela sudah berhasil menyelesaikan tugasnya untuk menghancurkan hubungan Anyer dan Bia.
"Terimakasih kasih."
Mela segera mengirim pesan kepada seseorang.
Bia sudah menunggu kedatangan Nathan dan berharap Nathan akan membelikan sesuatu untuk dirinya. Seperti seorang anak kecil yang sedang menunggu kedatangan ayahnya.
Pintu apartemen terbuka, terlihat Nathan dengan wajah lelah menenteng tas kerja yang berisi laptop dan map.
"Nathan." Bia segera menghampiri Nathan namun, setelah dilihat tak ada sesuatu yang Nathan bawa selain tas kerja.
"Aku lapar," adu Bia pada Nathan.
__ADS_1
Nathan yang baru saja melepaskan sepatunya menautkan alisnya. Rasa lelahnya saja belum hilang dan kini mendapat aduan bahwa Bia sedang lapar. Apakah tidak makan siang.
"Kamu belum makan siang?" tanya Nathan.
Bia menggeleng pelan. Astaga Bia, sudah pukul berapa ini?
"Kenapa?" tanya Nathan lagi.
"Tidak selera mau makan. Aku menunggumu untuk makan. Aku kira kamu bawa makanan."
Nathan menghembuskan nafas kasarnya sambil mengendorkan dasiny. Sungguh hari ini sangat melelahkan.
.
.
.
.
.
.
.
Berkat bujuk dan rayuan Bia, Nathan menuruti keinginan Bia untuk makan diluar.
Berada di sebuah restoran bintang lima, Bia memesan berbagai macam jenis makanan. Sudah beberapa hari ia hanya delivery makanan yang tidak sesuai dengan lidahnya.
"Semua berjalan dengan baik, Bu. Tetapi ada yang ganjil lagi dengan dana pengeluaran untuk proyek tersebut. Seperti kasus kita daerah Gunung Kidul kemarin. Bahkan sampai sekarang saya belum bisa melacak orang tersebut."
Bia meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Nathan dengan tajam.
"Kenapa jadi formal seperti ini sih? Apa aku terlalu tua hingga kamu panggil ibu?" gerutu Bia.
Nathan hanya terkekeh melihat ekspresi Bia sudah manyun. Lidah Nathan yang sudah terbiasa membuatnya susah untuk beradaptasi, apalagi jika sedang berada di luar seperti ini.
"Maaf lidahku sudah terbiasa. Kamu belum tua kok. Meskipun tua tidak akan pudar kecantikanmu, bahkan aku akan tetap menyayangimu."
Bia menatap tajam kearah Nathan. "Sudah berani gombal sekarang ya?" sindir Bia.
Setelah merasa kenyang, Bia malah mengajak Nathan untuk singgah ke pasar malam yang di gelar di alun alun kota.
Sudah lama Bia tidak keluar malam dan melihat pasar malam. Terakhir ia pergi bersama Nathan entah berapa bulan yang lalu.
"Nath naik bianglala yuk!" ajak Bia.
Nathan mendongak, melihat wahana tersebut, Nathan hanya meneguk ludahnya. Bayangkan saja ia diajak menaiki wahana yang tingginya sekitar 30 meter. Nathan yang memiliki riwayat Akrofobia atau takut akan ketinggian merasa lemas.
"Jangan bercanda deh." Nathan sudah terlihat gugup. Namun Bia tetap memaksa Nathan untuk mengantri membeli tiketnya.
Nathan berulang kali harus membuang nafas beratnya.
__ADS_1
"Gak usah takut, ada aku disini."
Dengan jantung yang berdegup kencang, keringat jagung bercucuran Nathan terpaksa mengikuti keinginan Bia meskipun dia tahu bahwa Nathan fobia dengan ketinggian.
"Bi, aku gak sanggup." Belum juga naik, Nathan sudah ingin kabur namun, dengan cepat Bia menahan lengan Nathan.
"Mau kemana? Ayo naik!"
Pelan pelan, bianglala itu mulai bergerak naik ke atas. Nathan hanya memejamkan mata sambil memegang erat tangan Bia.
Nathan tidak berani membuka matanya, kepalanya sudah terasa pusing.
Bia yang mengerti akan ketakutan Nathan terus memegang tangannya lebih erat lagi.
"Kamu jadi laki laki payah, Nath. Seperti ini saja kamu takut."
"Lihatlah bawah sana, Nath!"
"Mungkin setelah ini aku akan mati, Bi. Maaf aku tak bisa menepati janjiku."
"Ngomong apa sih, gak jelas."
Perlahan bianglala sudah berada diatas puncak. Bia benar benar merasa bahagia, saat ini dirinya bisa dengan jelas melihat pusat kota di seberang sana dengan kemerlap kemerlip hiasan lampu kota.
"Nath, buka mata!" perintah Bia.
Nathan tetap saja menggeleng. "Tidak mau."
"Ayolah, Nath. Aku cium kalau tidak mau buka mata," celoteh Bia.
"Baiklah. Akun memilih dicium daripada harus membuka mata."
"Ih, Nathan nyebelin."
Merasa kesal, Bia melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi dipegang Nathan.
"Bi," lirih Nathan.
"Sudahlah, Nath. Kamu gak bisa diajak bahagia," gerutu Nathan.
Tak ingin membuat Bia merasa kesal, Nathan akhirnya perlahan membuka matanya. Jantungnya berdegup kencang, badannya juga gemetar hebat. Ia pun segera memeluk tubuh Bia. Bia sangat terkejut melihat Nathan yang memeluk dirinya.
Pandangan Bia dan Nathan saling bertemu. Wajah keduanya hampir tak berjarak lagi. Bibir mungil yang terasa manis terus terngiang ngiang membuat Nathan ingin mencoba dan mencobanya lagi. Akhirnya terjadi tragedi di atas bianglala.
.
.
.
🍃🍃 Bersambung🍃🍃
Jangan lupa tap dan berikn komentar kalian ❤
__ADS_1
Tabur bunga juga tidak apa apa 🌹🌹😆😆