
Sepanjang perjalanan kembali ke kantor Anyer hanya memilih diam. Pikirkan masih berputar tentang kejadian yang baru saja terjadi, dimana Bia lebih memilih Nathan ketimbang dirinya. Apalagi ia semakin jijik dengan kelakuan Mela yang dianggap tidak sopan dan berlebihan kepada dirinya.
Bahkan Mela tidak segan untuk menyentuh tangannya di depan Bia.
"Turun!" titah Anyer.
Mela melotot, bingung tak mengerti. "Apa maksud kamu?" tanya Mela heran.
"Apa kamu tuli? Aku bilang turun ya turun!" bentak Anyer marah.
Mela hanya mengepalkan genggamannya merasa geram. Ia tidak terima atas perbuatan Anyer terhadap dirinya.
"Lihat saja nanti." Mela menghentakkan kakinya setelah mobil Anyer berlalu. Mela tidak akan tinggal dia atas penghinaan ini lalu ia segera merogoh ponselnya.
"Gagal. Tidak sesuai rencana."
Tulis Mela dalam pesan whatsapp-nya. Tak ingin larut, Mela segera mencari taksi untuk segera sampai di kantor lagi. Dasar Anyer keterlaluan, makinya dalam hati
Rafa yang tengah mengerjakan laporan di ruang kerjanya merasa sangat terkejut saat Anyer membanting jas nya di meja kerja Rafa sambil mendumal tidak menentu.
"Dasar wanita ****** sialan," umpat Anyer.
Rafa mendongak, ia tahu jika atasannya sedang tidak baik baik saja.
"Rafa! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya Mela harua keluar dari perusahaan ini."
Sedikit terkejut, Rafa mengernyitkan dahinya. "Bukankah anda yang membawa Mela masuk perusahaan ini, Tuan?"
"Sudah bisa membantah sekarang ya! Kamu cukup ikuti perintahku saja, mengerti?"
Rafa menelan kasar ludahnya. Sungguh ia tidak mengerti atas pikiran atasannya yang dianggap labil bak anak ABG saja. Sekarang A besok B lusa G.
"Baik Tuan. Akan saya usahakan. Ada lagi?"
"Oh iya, untuk acara dinner nanti malam aku tidak mau di temani dengan Mela. Mengerti!"
Rafa mengangguk. "Baik Tuan. Saya akan mengaturnya. Tapi… Mengapa anda tidak mengajak nyonya Bia saja dalam acara tersebut?" Entah hanya sekedar bertanya atau itu memang saran dari Rafa. Tetapi Anyer antusias dengan ucapan Raffa. "Bener juga tuh," sambung Anyer.
.
.
.
Di dalam ruang kerja Nathan terus mengeratkan giginya. Matanya masih fokus pada sebuah foto yang di dapat dari mata matanya. Terlihat seorang Anyer memasuki sebuah apartemen lalu di buka oleh seorang perempuan. Dan tak lain perempuan itu adalah Mela, sekertaris barunya.
Nathan sudah yakin jika Anyer memiliki hubungan dengan Mela. Dari Mela memperlakukan Anyer siang tadi sudah cukup membuatnya semakin yakin.
Beberapa kali Bia memanggil Nathan tetapi tak ada jawaban. Akhirnya dengan rasa penuh penasaran Bia diam diam mengintip sedang melihat apa Nathan hingga tidak mendengarkan dirinya.
"Nath," panggil Bia lagi.
Lagi lagi Nathan tidak menjawabnya.
__ADS_1
Dengan mata terbelalak dengan jelas Bia melihat Anyer sedang masuk ke dalam sebuh kamar apartemen. Dan yang membuatnya lebih shock adalah sosok perempuan yang membukakan pintu kamar tersebut. Bia menutup mulutnya tidak percaya, berharap itu adalah gambar editan.
Bia segera merampas ponsel Nathan untuk memastikan lebih detail.
"Bia. Eh Bu dir." Nathan gelagapan akibat keceplosan memanggil nama Bia namun yang tak kalah membuatnya terkejut adalah saat Bia memastikan foto di ponselnya.
"Katakan ini apa Nathan!!" Bia menahan emosinya. Wajahnya sudah memerah, deru nafasnya naik turun. Apalagi Bia sempat menggeser foto lainnya dimana Anyer dan Mela juga tengah berdua di restoran.
Nathan menelan kasar salivanya.
"Katakan Nathan! Sejak kapan Anyer…." Tubuh Bia melemas. Sungguh ia tidak pernah menyangka jika Anyer akan berbuat seperti ini kepada dirinya. Apalagi Anyer sudah berjanji akan memulai dari awal lagi hubungan mereka.
"Bu dir, maaf bukan maksud saya…"
"Cukup Nathan! Kamu tega menyembunyikan ini semua dari aku!" Bia yang tak bisa membendung lagi emosinya memilih keluar dari ruangan Nathan.
"Bu dir tunggu! Saya bisa jelaskan semua ini kepada anda!" Nathan segera mengejar direkturnya.
.
.
.
Perasaan Bia hancur, kepercayaan yang baru saja tumbuh seakan sudah hilang tak berjejak lagi. Selama ini Bia menutup hatinya karena ia tidak mau hatinya dihancurkan oleh lelaki brengsek.
Ternyata Bia salah menilai Anyer. Bia menganggap Anyer berbeda dari lelaki lainnya karena Anyer tidak pernah memiliki berita skandal masalah perempuan.
Bia tersenyum sinis. Harusnya ia sadar, saat baru saja menikah dengannya ia telah memiliki Lisa. Dan lebih memilih Lisa. Bodohnya Bia yang telah percaya kepada Anyer.
Nathan yang sudah menunggu Bia selama 1 jam merasa sangat khawatir akan keadaan Bia.
"Bu dir." Nathan memberanikan diri menghampiri Bia yang duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang sembab.
"Saya bisa jelaskan semuanya kepada anda. Beri saya kesempatan," ujar Nathan.
Bia berdiri lalu menghampiri Nathan.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?"
Bia memberi isyarat agar Nathan duduk di sofa. Tidak ada salahnya Bia mendengarkan penjelasan dari Nathan.
.
.
.
Perasaan Bia sudah semakin tenang meski di mengetahui tentang kebrengsekkan Anyer yang sesungguhnya.
Bahkan Nathan juga memperlihatkan bukti bukti lainnya dan sebuah video yang baru saja ia terima dari nomor tidak dikenal.
Bia semakin jijik. Beruntung selama menikah dengan Anyer dirinya belum menyerahkan aset yang berharga miliknya.
__ADS_1
Ingin marah, ingin memaki namun percuma. Anyer pasti akan mengelak dengan segala cara.
Bia menghapus jejak air matanya. Percuma, untuk apa menangisi lelaki brengsek seperti Anyer.
"Nath! Kamu satu satunya orang yang mengerti akan perasaanku selama ini."
Nathan hanya menunduk. Sebenarnya Nathan tidak ingin Bia mengetahui hal ini secepatnya. Nathan masih ingin bermain dengan Anyer namun ternyata Bia sudah mengetahuinya.
"Apa kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" tanya Bia.
Nathan mengernyit lalu menggeleng.
"Kamu bodoh!"
"Kamu pasti tahu bagaimana sifat dari seorang Bianca Wijaya bukan?" Bia memastikan.
Nathan melotot menatap Bia. Berharap apa yang ia pikirkan adalah salah.
"Bu dir, jangan katakan kalau anda akan…?" Nathan menggantung ucapan.
"Ya… Kamu benar Nathan. Apa yang kamu pikiran itu benar." Lagi lagi Bia menghapus jejak air matanya.
Dalam sejarah hidupnya Bia tidak ingin harga dirinya diinjak injak oleh lelaki brengsek seperti Anyer.
.
.
Mata bengkak Bia sudah berhasil ditutup make up tebal. Tidak mungkin Bia menghadiri acara penting dengan mata sembab. Apa kata orang diluar sana.
Bia duduk di depan meja rias sambil mengamati bayangan Nathan yang sibuk memilih gaun untuk dirinya. Bibir Bia tiba tiba menyunggingkan senyumnya.
"Bu dir, coba yang ini!" Nathan memberikan gaun berwarna coklat susu. Dengan patuh Bia mencoba gaun tersebut.
Beberapa kali Nathan tidak merasa puas atas penampilan Bia membuat Bia merasa geram kepada Nathan.
"Nath, aku bukan model kamu. Ingat aku atasan kamu. Detik ini juga aku bisa memecat mu!"
Bia sudah merasa lelah. Gaun yang ia coba tak satupun sesuai dengan Nathan. Padahal yang memakainya adalah Bia.
"Iya saya sadar. Saya hanya ingin anda terlihat berbeda." pungkas Nathan.
Dan akhirnya Nathan memberikan gaun tanpa lengan berwarna hitam dengan belahan panjang hingga ke bagian pahanya.
"Nath! Jangan bercanda!" bentak Bia.
🍃🍃 Bersambung 🍃🍃
Halo sebelumnya Author ingin mengucapkan selamat tahun baru 2022 semoga tahun ini kita semua diberikan kesehatan, berkah yang melimpah serta di murah kan pintu rejekinya. Amin 🤲🏻
Oh ya, seperti biasa aku mau memperkenalkan satu Novel karya sahabat aku Warnyi yang berjudul ANTARA KITA Novel ini ikut lomba Berbagi Cinta lho, jadi pasti seru. Cuz mampir ya!
__ADS_1