Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
S-2 Poli Kandungan


__ADS_3

Nathan tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada Bia. Sudah hampir setengah jam Bia menangis di kamar dengan alasan tidak ingin di tinggal Nathan untuk pergi ke kantor. Kali ini Bia benar benar manja mengalahkan Aura. Bagaimana bisa seorang Bianca merengek kepada Nathan agar Nathan menemani dirinya saja.


Sebenarnya Nathan sudah pusing dengan rengekan Bia dan memutuskan mengiyakan kemauan Bia. Beruntung saja hari ini tidak ada jadwal penting. Nathan menyerahkan semuanya kepada Dila.


"Kamu kenapa sih, Bi?" tanya Nathan heran.


Saat ini Bia tengah terisak di atas ranjangnya dengan tisu berserak di lantai bekas ingusnya seperti sedang menonton sebuah drama korea saja.


Seketika Bia langsung berbinar saat Nathan mengatakan tidak akan pergi ke kantor.


"Nath, sini peluk." Bia merentangkan tangannya untuk segara di peluk oleh Nathan. ( Jadi keinget othor pas waktu itu wkwkwkwk )


Nathan mengernyit, drama apa lagi ini pikir Nathan.


Tak ingin membuat Bia menangis lagi, Nathan segera memeluk tubuh Bia yang terasa sedikit berisi. Apalagi bagian depan dadanya yang semakin membesar. Itu karena Nathan sering memperhatikan Bia selama ini.


"Sudahkan? Terus aku harus menemani apa disini? Sedangkan di bawah sana ada Mbak Lia dan Linda yang bisa menemanimu." celoteh Nathan.


"Aku maunya tuh di temenin kamu, Nath. Gak tau kenapa keringat kami tuh membuat aku nyaman. Buktinya aku gak ada mual dan muntah pagi ini, " adu Bia.


Lagi lagi Nathan mengernyit mendengar penuturan Bia. Mengapa Bia tak pernah bercerita bahwa dia mengalami mual dan muntah. "Kamu sakit?" Nathan terlihat cemas.


Bia menggeleng. "Tidak. Aku tidak sakit. Kalau aku sakit mana selera aku makan."


...____...


Siang ini Bia dan Nathan sengaja makan siang di luar karena permintaan Bia. Aneh aneh saja, padahal di rumah mbak Lia sudah memasak makanan yang di inginkan oleh Bia, namun kata Bia tidak ada rasanya.


"Nath, kayaknya lidahku mulai mati rasa deh. Nih semua makanan hambar," ujar Bia saat sudah menyicipi menu yang ia pesan.


Nathan yang merasa penasaran akhirnya mencicip dan semua makanan itu enak tidak hambar seperti yang Bia ucapkan.


"Enak kok, Bi." ujar Nathan.


"Nath, kalau aku tiba tiba diagnosis sebuah penyakit, lalu aku mati. Kamu enak dong jadi duda kaya raya."

__ADS_1


Ucapan Bia segera mendapatkan tatapan tajam dari Nathan. Semakin kesini sikap aneh dan ngelantur Bia membuat Nathan tidak suka.


"Nath, ayo kita ke rumah sakit! Aku harus tau apa penyakit yang sedang aku derita saat inim Aku gidak mau mati sia sai. Apalagi kita belum bulan madu," ujar Bia.


Kesal ingin marah juga ingin tertawa. Bagaimana bisa Bia berpikir sejauh itu.


Mobil Nathan telah berhenti disalah satu rumah sakit besar dimana dokter Mada bertugas. Nathan segera mencari ruangan dokter Mada kerena memang dokterAda adalah dokter pribadi keluarga Wijaya.


Sebelumnya pun Nathan sudah memberi kabar jika ingin bertemu dengannya. Memang waktu yang sangat tepat karena mengingat jam istirahat , maka Dokter Mada bebas menerima tamu.


Tokk... tokk..


Nathan mengetuk pintu lalu membukanya pelan. Terlihat dokter Nathan sudah menunggu kedatangan Nathan dan Bianca.


"Ada apa kenapa kalian mendadak ingin bertemu dengan saya? Ada hal yang penting?" tanya Dokterada yang masih merasa heran. Pasalnya jika ada apa apa dokter Mada selalu di panggil untuk datang ke rumah.


"Dok, sepertinya saya sedang mengindap sebuah penyakit. Cepat periksa saya! Saya belum siap untuk mati. Dokter tahu kan, saya ini pengantin baru dan belum sempat bulan madu. Kalau saya mati, enak dong Nathan akan jadi duda kaya." Bia segera menyodorkan tangannya untuk segera di periksa.


Dokter Mada mengangkat bibirnya. Sebenarnya ia menahan diri agar tidak tertawa, begitu juga dengan Nathan yang membuang nafas beratnya.


"Mungkin saja, Dok. Papa... kan."


"Bia," sentak Nathan. Kali ini kekhawatiran Bia berlebihan. Menyimpulkan sesuatu yang belum tahu kebenaran. Bisa jadi saat ini sedang gejala Flu yang menghilangnya indra perasa.


"Dengarkan saya Dok! Setiapa pagi saya selalu merasa mual dan muntah. Bahkan semua makanan yang saya akan kelua semua. Kepala saya juga sangat pusing kalau pagi. Tapi, anehnya kalau sedang bersama Nathan saya tidak merasakan gejala itu lagi, Dok. Tapi saat Nathan pergi, tiba tiba gejala itu datang lagi. Aneh kan, Dok."


Dokter Mada hanya memijit pelipisnya. Bagaimana bisa Bia segera menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah penyakit. "Kapan terakhir kamu datang bulan?"


Pertanyaan Dokter Mada membuat Nathan dan Bia saling bertatap. Memang sudah satu bulan lebih tamu bulanan Bia tidak datang sehinga Bia dan Nathan selalu bercumbu hampir setiap malam.


"Lupa, Dok. Tapi sepertinya sudah sebulan lebih deh, Bia gak datang bulan. Iya kan Bi?" Bukan Bia yang menjawab, melainkan Nathan.


Nathan memang hafal betul, karena jika Bia sedang datang bulan maka Nathan tidak akan mendapatkan jatahnya untung bercocok tanam.


"Aku mana inget, Nath." Bia sendiri bahkan tidak mengingat kapan terakhir dirinya datang bulan membuat dokter Mada semakin memijit pelipisnya karena ulah sepasang suami istri di depannya ini. Padahal dokter Mada tahu jika Bia telah menikah sebelumnya. Masa hal seperti ini Bia tidak paham juga.

__ADS_1


"Baiklah, sepertinya kalian harus ke poli kandungan. Karena dari penjelasan Nona Bia sepertinya Nona Bia sedang hamil. Saya tidak bisa memprediksi karena saya tidak mempunyai alat USG." jelas Dokter Mada.


Seketika Bia dan Nathan masih sama sama membeku mendengar penuturan Dokter Mada yang menyebutkan bahwa Bia tengah hamil. Secepat itu kan?


Bia masih ternganga sambil memegani perut dasarnya.


"Baiklah Dok saya akan membawa Bia ke poli kandungan sekarang jug. Bi, ayo." Dengan penuh semangat Nathan menggandeng tangan Bia untuk segera kelur dari ruangan dokter Mada.


Nathan tidak sabar lagi untuk mendengar kabar baik dari dokter selanjutnya. Saat sampai di poli kandungan mata Nathan terbelalak saat melihat beberapa pasangan sedang menunggu antrian. Ternyata pasien hamil lebih banyak jumlah ketimbang pasien patah tulang.


"Pengantin baru ya, Mas?" ujar salah seorang laki-laki yang sedang mendampingi istrinya.


"Iya, Mas." Nathan menjawab dengan malu malu.


Menurutnya itu adalah pertanyaan yang tidak penting. Jelas saja Nathan pengantin baru karena perut Bia masih datar, coba saja kalau perut Bia sudah membuncit besar pasti Nathan bukanlah pengantin baru lagi.


Bia sebenarnya tidak nyaman berada diantara buibu yang tengah mengantri. Bia di panggil salah seorang wanita muda, bisa di perkiraan seumuran dengan Bia.


Rasa gugup yang Bia rasakan hilang begitu saja, ternyata buibu yang sedang mengantri tidaklah seburuk yang ia pikirkan.


Tak terasa hampir 30 menit Bia dan Nathan bersabar menunggu namanya dipanggil. Nathan tak melepaskan genggaman tangannya pada Bia. Berharap apa yang di katakan oleh Dokter Mada benar adanya. Jika itu benar, Nathan adalah orang pertama yang akan merasa bahagai meskipun Nathan tidak tahu jika Dila lebih dulu mengetahui hal itu. Author tertawa jahat.


"Nath, aku takut jika apa yang di katakan dokter Mada tidak benar," gugup Bia saat giliran nama Bia dipanggil.


"Kenapa harus takut? jika tidak benar maka harus kita coba lagi, lagi dan lagi sampai apa yang di katakan dokter Mada itu benar."


[ 2 BAB menuju hari bahagai ]


......Tidak berharap banyak......


...Cukup LIKE saja...


...sudah membuat...


...Author...

__ADS_1


...bahagia 😂...


__ADS_2