
Nathan mengantar Bia sampai di rumahnya. Ia pun segera menyerahkan belanjaan kepada Lisa sebelum pulang. Bia sendiri sudah berlalu ke kamar untuk membersihkan badanya, mengingat tadi ia sudah makan malam.
"Langsung pulang, Mas?" tanya Lisa.
"Iya, Mbak. Udah malam," jawab Nathan.
Nathan pun segera undur diri. Percuma ia menunggu Anyer yang entah kapan pulangnya.
Tak berselang lama, mobil Anyer telah memasuki sebuah garasi besar. Mobil yang berjejer tidak hanya satu namun jarang di pakai.
"Selamat malam, Tuan." sapa Lia.
Anyer hanya mengangguk. "Istri saya sudah pulang?" tanya Anyer.
"Sudah, Tuan. Baru saja beliau diantar oleh Mas Nathan."
Lagi lagi Anyer mengangguk kemudian ia pun juga berlalu menuju kamar Bia. Di dalam sana ternyata Bia sedang membersihkan wajahnya yang hendak di beri vitamin. Sekilas Bia hanya melirik saat gesekan pintu terbuka.
Diam diam Bia mengamati Anyer yang melangkah menuju kamar mandi. Tak ambil pusing, Bia terus mengerjakan kegiatannya.
Setelah Anyer keluar dari kamar mandi, ia melihat Bia sudah membubungkus tubuhnya dengan selimut. Tak lupa di tengah tempat tidur sudah di pasang guling sebagai pembatas untuk mereka. Diantara kedunya sepakat untuk tidak boleh ada yang melanggar batas tersebut.
🌺 🌺 🌺
Hari semakin larut. Siapa yang menyangka cuaca yang sedari tadi cerah berbintang, kini berubah gelap. Perlahan hujan mulai turun dari frekuensi kecil hingga lebat. Suara petir beradu di angkasa. Seketika listrik pun padam.
Bia yang mendengar suara petir kuat serta mendadak gelap langsung berteriak. Sudah sejak kecil, Bia memang takut akan gelap. Dan kini Bia sangat merasa ketakutan. Hal itu membuat Anyer segera terlonjak kaget.
Dalam remang Anyer meraba keberatan Bia.
"Kamu kenapa?" Anyer terlihat panik.
Namun tak ada jawaban dari Bia. Badannya sudah gemetar dan keringat jagung bercucuran.
Dengan segera, Anyer menyalakan senter ponselnya.
Saat itulah sosol Bia yang tengah ketakutan sangat jelas terlihat.
Anyer pun menyadari bahwa Bia Pobia dengan gelap.
Dengan perasaan tidak tega, Anyer menuntut Bia dalam pelukannya sekedar untuk menenangkan. Bia hanya pasrah. Saat ini yang ia inginkan adalah ketenangan. Dan bersandar di dada Anyer adalah membuat Bia merasa sedikit tenang.
__ADS_1
"Sudah tidak apa apa. Ada saya di sini." Anyer mengelus pucuk rambut Bia.
Aroma stroberi dapat Anyer mikmati. Rambut Bia yang halus, serta wangi tubuh Bia membuat saraf saraf Anyer menegang. Dadanya pun juga ikut bergerumuh.
Anyer masih mendekap tubuh Bia. Begitu juga dengan Bia yang menikmati aroma maskulin. Ia resapi dalam dalam hingga tanpa sadar listrik hidup kembali meski kilatan kilatan masih bertaburan di angkasa.
Bia segera menarik tubuhnya saat ia tersadar dalam dekapan Anyer.
"Kenapa di lepas? Bukankah kamu menaatinya?" sindir Anyer
Bia menelan saliva. Badannya juga menegang. "Siap juga yang menikmati? Kan kamu yang memaksa," ketus Bia.
"Gitu aja gengsi," ejek Anyer yang kemudian kembali tidur.
Bia masih terdiam menahan gemuruh dalam dadanya. Bisa bisanya menikmati aroma tubuh Anyer yang maskulin. Tidak Bia, jangan berharap lebih.
🌺 🌺 🌺
Bia terus menguap meski ia sudah rapi dengan baju kerjanya. Sebenarnya ia malas untuk pergi ke kantor namun, karena tanggung jawab yang ia pikul saat ini, ia tetap harus pergi ke kantor.
Bia melihat Anyer yang sudah rapi dengan jas hitamnya tak lupa juga kaca mata yang ia selipkan di saku bajunya.
"Kenapa?" tanya Anyer saat menyadari Bia tengah memperhatikannya.
"Tapi... ada yang harus kita bicarakan." lanjut Bia lagi.
Anyer mengernyit. "Apa? kita?" Anyer membeo.
Bia mengangguk pelan. "Ia jika kamu ada waktu, hari ini aku ingin membuat jadwal denganmu!"
Anyer terdiam sesaat. "Boleh. Tapi hanya sebentar mengingat jadwal pekerjaan saya padat. Kamu tahu 'kan?" tekan Anyer.
Lagi lagi Bia mengangguk. "Ia aku paham. Nanti setelah pulang kantor kita bertemu di Cafe Indah."
Sebuah kesepakatan pun terjadi, kemudian keduanya turun bersama saling beriringan membuat siapa saja yang melihat pasti akan mengira bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia.
Sarapan telah tersaji. Anyer dan Bia menyantap tanpa banyak percakapan. Keduanya sama sama memilih diam, hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.
"Kamu mau saya antar atau di antar oleh Pak Dadang?" tanya Anyer.
Bia mendongak. Sejak kapan Anyer memperhatikan dirinya. Biasany masa bodoh.
__ADS_1
"Tidak. Nathan yang akan menjemput aku."
Langkah Anyer terhenti seketika mendengar Bia menyebut nama Nathan. Begitu berartikah Nathan dalam hidup Bia sehingga ia menolak tawarannya.
"Ada apa?" Bia heran dengan tatapan tajam yang mengarah padanya.
"Apakah Nathan lebih berarti di bandingkan saya, suami kamu?" tekan Anyer.
Bia tersenyum sinis seolah ingin mengejek ucapan Anyer. Sejak kapan Anyer menganggap pernikahan ini. Bukankah selama ini ia hanya acuh dan sama sekali tidak peduli terhadap dirinya. Kenapa baru sekarang ia merasa tersaingi oleh Nathan?
"Suami? apa aku salah dengar? Anyer, status kita memang suami istri, tapi itu tidak akan merubah hubunganku dengan Nathan. Nathan adalah segalanya bagiku, tanpa dia aku tidak akan bisa melewati semua ini. Aku mohon, jangan pernah bandingkan kamu dengan Nathan, karena itu hanya akan membuat mu malu." Tanpa di rencanakan, ucapan itu lolos begitu saja.
Jika sudah berhubungan dengan Nathan, Bia lah orang terdepan yang akan membelanya.
Anyer tak bisa berkata lagi. Tanpa sepatah kata ia meninggalkan Bia. Memang ucapan Bia 100% benar semua. Hubungan mereka hanya sebuah status belaka.
Jika di bandingkan dengan Nathan Anyer tidak ada apa apanya. Mulai sekarang Anyer berjanji tidak akan membandingkan dirinya dan Nathan.
Setelah kepergian Anyer, Bia masih menunggu kedatangan Nathan yang sedikit terlambat karena Nathan harus ke bengkel dahulu untuk mengecek kondisi mobilnya sebelum ia berangkat ke luar kota besok pagi.
"Maaf Bu Dir, saya terlambat," ucap Nathan.
Bia mengngguk, sebab Nathan sudah mengabari Bia terlebih dahulu melalui pesan singkat.
"Ya sudah, ayo berangkat!" perintah Bia.
Nathan pun segera membukakan pintu mobil untuk sang direkturnya. Sebenernya bukan tugas Nathan untuk mengantar jemput Bia karena ada Pak Dadang sopir Bia namun, entah mengapa Bia selalu menyuruh Nathan untuk mengantarnya.
Namun, itu semua tak membuat Nathan kesal. Sebab, dengan begitu Nathan bisa menjaga Bia dengan Baik seperti janjinya kepada mendiang sewaktu ia masih hidup.
"Bu dir, kita sudah sampai." Nathan mematikan mesin mobilnya.
Untuk turun, Bia menunggu Nathan membukakan pintu untuknya. Memang itu yang Bia harapkan. Selalu di perhatiankan, meski oleh seorang asisten pribadinya.
...To Be continue...
Jan lupa tinggali jejak kalian dengan cara Like dan Komen! Syukur2 kalian sawer pake bunga 🌺
Oh iya nih aku bawa satu novel karya dari
Ntaamelia wajib kalian baca ya!
__ADS_1