Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 35


__ADS_3

Bia sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan Nathan. Ia ingin segera mendengar berita yang Nathan bawa.


Saat Nathan membuka pintu ruangan, Biq segera menghampiri. Berharap Nathan segera bercerita.


"Bagaimana, Nath? Informasi apa yang kamu dapat?" desak Bia.


Nathan masih mengatur nafasnya.


"Bu dir, bisakah saya duduk terlebih dahulu?" tanya Nathan.


Bia yang menyadari ketidak sabarannya hanya menyengir. Ia pun membuntuti Nathan menuju sofa


Nathan mengamati wajah Bia. Sungguh ia ingin tertawa melihat sang direktur dengan wajah penuh harap.


Nathan menyunggingkan senyumnya.


Sudah hampir dua minggu Nathan tak melihat ekspresi wajah imut Bia. Nathan pun tak mengerti akan perasaan yang selalu nyaman jika berada di samping Bia. Namun, dengan cepat Nathan menepis perasaannya jauh jauh. Ia sadar diri dengan posisinya dan status Bia saat ini.


Jika pun Nathan menyayangi Bia, itu adalah rasa sayang kakak terhadap adiknya. Nathan sudah menganggap Bia bak adiknya sendiri. Mustahil jika ia miliki perasaan lebih.


"Jadi begini, Bu dir." Dengan perlahan Nathan menceritakan detail tentang Handoko.


Bia masih melongo tak percaya bahwa Handoko telah mempunyai tiga istri. Bia merutuki kecerobohannya. Sebelum menerima janji, Bia tak mengamati dengan teliti seperti apa calon rekannya itu. Bia pun masih merasa bersyukur karena belum sempat menandatangani kontrak kerja. Jika waktu itu ia mendatangi, pasti perusahaan yang di bangun oleh papanya akan hancur.


"Untung saja Tuan Anyer mengetahui hal ini jika tidak, kita akan hancur Bu," ucap Nathan.


Bia mengangguk setuju. Memang semua ini berkat Anyer yang tidak setuju akan kerja sama dirinya dan Handoko.


"Saya tahu, Tuan Anyer itu peduli dengan anda!" ujar Nathan.


Bia menakutkan alisnya."Apa? Peduli?" kekeh Bia.


Sungguh lucu jika memang Anyer peduli terhadap dirinya. Sementara dengan jelas ia tak peduli terhadap dirinya. Jika ia peduli, harusnya ia simpati terhadapnya. Bisa menjaga status pernikahannya dan berusaha belajar untuk mencintai Bia.


. . .


Saat ini Bia sudah berada di rumah. Ia memang sengaja pulang lebih awal untuk mengistirahatkan badannya yang memang terasa lelah.


Nathan pun segera undur diri setelah Bia masuk ke dalam kamar. Di lantai dapur Lia dan bik Juminten sedang memasak untuk makan malam nanti.


"Eh, ada Mas Nathan," ucap Bik Juminten.


Nathan tersenyum. Sebenarnya ia ke dapur hanya untuk mengambil air minum.

__ADS_1


"Butuh sesuatu, Mas?" tanya Juminten.


"Iya Bik. Mau ambil minum," ujar Nathan.


Lia pun mendongak. "Mas Nathan mau minum apa? Biar saya buatkan?" tawar Lia.


Nathan menggeleng. "Tidak usah, Mbak. Saya minum air putih saja." tolaknya.


"Ya sudah saya ambil kan, ya." Tanpa menunggu persetujuan dari Nathan, Lia segera mengisi air putih kedalam gelas kosong.


"Ini Mas." Lia menyodorkan air minum.


Nathan tak bisa menolak lagi. Ia pun menerima air pemberian dari Lia.


"Terima kasih ya Mbak," ujar Nathan.


Lia hanya mengembangkan senyumnya saat melihat Nathan menandaskan isinya.


"Haus ya Mas?" tanya Lia.


"Iya." 


Setelah itu Nathan permisi untuk pulang, namun lagi lagi Lia mencegahnya dengan alasan ada yang harus ia bicarakan. Dan itu menyangkut tentang sang majikan.


"Tunggu Mas. Ada yang harus saya sampaikan. Ini mengenai pesan terakhir Tuan Wijaya," ucap Lia.


Sudah hampir satu sebulan terakhir ini Nathan memang jarang berkunjung ke rumah ini. Ia hanya sekedarnya saja, menjemput Bia dan mengantarkan pulang kembali. 


Rasanya seperti mimpi, ia masih tak percaya bahwa orang tua angkatnya akan pergi secepat itu. Bahkan yang menjadi penyesalan Nathan, ia sama sekali tidak tahu bahwa Wijaya mengidap penyakit mematikan tersebut.


"Mbak Lia?" Nathan terkejut saat Lia telah berdiri di sampingnya.


Lia hanya terkekeh pelan.


"Mas, langsung aja ya," ujar Lia.


"Jadi begini, sebelum tuan Wijaya meninggal beliau sempat mengatakan kepada saya bahwa setelan kepergiannya beliau meminta agar anda selalu mendampingi Nyonya Bia."


"Tanpa saya diminta, saya pasti akan melakukan hal itu," sela Nathan.


"Baguslah, Mas." 


"Selanjutnya, apapun yang terjadi anda tidak boleh meninggalkan nyonya Bia. Sebab, anda tahu jika tuan telah menganggap anda seperti layaknya anak beliau sendiri. Hanya saja anda yang tidak mau diperlakukan berlebihan."

__ADS_1


"Kamu sok tahu," protes Nathan.


Lia hanya menyunggingkan senyumnya.


"Mas Nathan, saya belum selesai berbicara sudah kamu potong terus. Kapan saya siapnya." Lia pun memprotes juga.


"Baik, silahkan lanjutkan!"


Lia kembali bercerita. Satu persatuan pesan Lia sampaikan kepada Nathan. Itu semua adalah wasiat dari Wijaya. 


Namun, ada satu pesan yang Nathan masih berat untuk menyetujuinya. Yaitu Nathan harus tinggal di rumah untuk tetap bisa menjaga rumah peninggalannya. Meskipun kelak Nathan sudah menikah ia tetap harus tinggal di rumah itu.


"Maaf mbak Lia, untuk yang satu ini saya belum bisa memutuskan. Beri saya waktu."


Bukan tidak mau, tetapi Nathan sangat sadar diri akan statusnya. Ia tidak ingin banyak gosip miring tentang dirinya.


Sebenarnya ia bisa memantau Bia dari kejauhan sebab, saat ini Bia sudah menjadi tanggung jawab suaminya.


"Baiklah Mas. Pikiran baik baik." Lia kemudian berlalu meninggalkan Nathan yang masih terdiam mematung.


Sebuah mobil sudah terparkir di halaman rumah. Rafa segera membuka pintu untuk tuannya.


Sebelum Rafa pergi Anyer mengingatkan pesannya pada Rafa lagi.


"Jangan lupa, segara cari rumah yang layak untuk saya tempati. Saya tidak mau menumpang lagi di keluarga saya maupun keluarga Bianca. Mereka pikir saya tidak bisa membeli rumah." 


Rafa mengangguk patuh. "Baik tuan. Akan segera saya carikan."


Derap langkah Anyer begitu nyaring. Rumah terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Ia pun segera menuju lantai atas dimana kamar Bia berada. Sesampainya di kamar, Anyer terkejut melihat Bia yang tertidur masih dengan pakaian kerja lengkap dengan sepatunya.


"Dasar," gumamnya lalu ia memilih membersihkan tubuhnya yang sudah lengket akibat keringat.


Setelah keluar kamar mandi, Anyer hanya mampu menelan saliva kala melihat posisi tidur Bia yang miring. Sangat jelas terlihat belahan paha yang putih dan mulus sebab, Bia menggunakan rok span pendek.


"Sabar, ini ujian." Anyer mengelus dadanya. Bagaimanapun, ia adalah laki laki normal pada umumnya yang mempunyai nafsu. Namun sekuat tenaga ia menahannya.


Jika dipikirkan, selama ia menjalin cinta dengan Lisa, tak sedikitpun Anyer berpikir untuk merusaknya. Anyer memang sering mencium Lisa, bahkan Lisa sampai ketagihan dan ingin meminta lebih, namun dengan tegas Anyer menolak. Ia hanya akan menjamahnya ketika mereka sudah sah dalam keadaan halal.


Jangan lupa LIKE dan KOMEN !


beri bunga juga boleh. 🌺


Nah ini aku ada rekomen novel untuk kalian.

__ADS_1


Judulnya TENTANG RASA karya Asyifa



__ADS_2