
Seiring jantung berdebar, Bia membuka matanya. Pipinya sudah seperti kepiting rebus. Bia tidak berani mengangkat kepalanya karena dirinya sangat malu dengan Nathan.
Entah mengapa Bia tidak bisa menolaknya bahkan Bia seperti terdorong untuk mengulanginya lagi.
"Kamu marah, Bi?" tanya Nathan.
Bia mendongak lalu menggeleng.
"Lalu mengapa hanya diam saja?" lanjut Nathan lagi.
Bia yang tidak mengerti hanya menakutkan alisnya. "Maksud kamu?"
Nathan terbelalak dengan pertanyaan Bia.
Pura pura polos atau menang tidak tahu cara berciuman. Nathan mendengus pelan.
"Kamu sudah pernah…" Nathan menggantung ucapnya. Ia sendiri juga merasa ambigu. "Ciuman," lirih Nathan.
Dengan cepat Bia menggeleng pelan.
"Apa?" Nathan sungguh sangat terkejut. Jadi selama ini apa yang dilakukan Anyer hingga istrinya saja tidak pernah diajak ciuman.
"Kamu biasa aja napa? Asal kamu tahu, ciuman pertamaku itu kamu yang ambil sewaktu kita di Jogja. Dan ini…" Bia menggantung ucapannya.
"Jadi ini adalah pengalaman pertama?" Selidik Natha. Lagi lagi Bia mengangguk saja.
Astaga Anyer! Kamu itu bodoh atau apa sih? Jelas jelas didepan mata sudah tersaji barang halal malah memilih barang haram. Jangan jangan Bia juga masih tersegel?
"Anyer memang bodoh! Jangan jangan kamu juga masih perawan," celetuk Nathan.
"Emang iya." Dengan spontan Bia menjawab.
Hal itu membuat Nathan semakin terkejut. Selama kurang lebih enam bulan mereka ngapain aja. Apakah tidak ada sengatan arus listrik yang menjalar seperti dirinya saat ini.
Bia yang tersadar akan ucapannya segera munutup mulutnya. Dasar lidah tak bertulang.
Namun semua sudah terlambat, Nathan sudah mengetahui fakta yang sebenarnya bahwa dirinya masih utuh belum pernah di unboxing oleh Anyer.
Berarti tak sia sia Nathan menikahi Bia setelah bercerai kelak, karena Bia masih utuh. Nathan menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Bi."
Nathan mendekatkan wajahnya lalu menangkup bibir Bia. "Ikuti gerakanku!"
Nathan mengecup pelan bibir Bia lalu. Nathan segera menghisap bibir bawah milik Bia. Begitu juga dengan Bia yang juga ternyata mengikuti perintahnya.
Decakan menggema di kamar tersebut. Nathan semakin terbawa suasana. Kini entah siapa yang memulai lidah mereka saling bermain di rongga mulut. Seseki Nathan menghisap lidah Bia.
******* kecil mampu Nathan dengar. Bia terbuai akan cumbuan dari Nathan. Begitu juga dengan Nathan yang semakin memperdalam ciumannya.
Di bawah sana juga sudah mulai terbuai. Namun Nathan masih sadar dan waras. Ia akan meluncurkan roketnya saat waktu itu telah tiba. Ia tidak akan menghancurkan Bia dengan cara seperti ini meskipun Nathan sangat tersiksa akan hal ini.
Bia memukul pundak Nathan agar menghentikan ciuman mereka.
"Sesak," keluh Bia saat keduanya sama sama mengambil pasokan udara.
"Gimana enak gak?" Pertanyaan bodoh yang membuat Bia semakin malu.
Bia terdiam enggan untuk menjawabnya.
Dasar Nathan.
"Kelaman kalau pesan. Cari aja bajuku di lemari."
.
.
.
.
.
.
Kini Bia telah mengenakan kemeja putih milik Nathan yang terlihat sedikit kedodoran.
Nathan melihat Bia tanpa berkedip. Pasalnya kemeja putih itu menampilkan sebuah gambar pegunungan tanpa cangkang. Ya, Bia memang sedang tidak mengenakan Bra karena memang tidak ada. Namun Bia masih memakai ****** *****, itupun juga milik Nathan.
__ADS_1
Sadar akan pandangan utama Nathan, Bia segera menutup dadanya.
"Kamu apaan sih, Nath," gerutu Bia.
Nathan hanya terkekeh. "Kenapa tidak ada cangkangnya?"
Bia malah melotot. Bibirnya semakin manyun. "Memangnya kamu punya cangkangnya?"
"Tidak." Nathan menggeleng.
"Ya sudah. Aku hanya memakai apa yang ada saja," ketus Bia.
"Jadi kamu juga tidak pakai pembungkus gerbang dong?"
Bia segera menutup area bawah perutnya. "Enak saja tidak memakai pembungkus. Aku pakai kok. Kan aku pakai punya kamu."
Nathan tertawa keras hingga Bia merasa kesal lalu memukul tubuh Nathan dengan guling.
Nathan yang meringis kesakitan membuat Bia menghentikan pukulannya. Ia baru teringat bahwa Nathan sedang sakit.
"Maaf," lirih Bia.
Malam semakin sunyi. Bia dan Nathan berbagi ranjang untuk tidur. Namun nyatanya sampai larut malam mata Bia belum bisa terpejam. Pikiran melayang, apakah Bia harus segera berpisah dari Anyer lalu menikah dengan Nathan?
Bia sudah merasa sangat nyaman bersama dengan Nathan karena mereka sudah saling berbagi suka dan duka. Nathan yang lebih mengerti akan dirinya membuat Bia semakin yakin akan ketulusan Nathan. Tetapi, apakah dirinya tidak terlalu kejam bahagia diatas penderitaan Anyer.
Impian pernikahan yang sekali seumur hidup harus Bia patahkan dengan sebuah perceraian. Bia tahu itu bukan pilihan yang baik namun, Bia harus segera berpisah dari Anyer.
"Kenapa?" Nathan yang terbangun melihat masih belum memejamkan mata.
"Kamu bau gak mandi." kilah Bia.
Nathan segera mencium aroma tubuhnya yang dibilang Bia bau. Meskipun Nathan memang tidak mandi namun dirinya tidak bau. Atau memang hidungnya sedang bermasalah.
"Gak bau kok."
Bia terkekeh, ia berhasil mengerjai Nathan.
"Udah gak usah seperti itu. Meskipun kamu gak mandi masih wangi kok. Karena parfum kamu itu emang parfum yang bagus. Aku suka aromanya."
__ADS_1
Apa? jadi Bia sudah berani mengerjai dirinya.