Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Pasar Malam


__ADS_3

Bia dan Nathan mendadak tegang kala Anyer telah berdehem di depan mereka.


Bia menelan kasar ludahnya, sementara Anyer menatap mereka berdua dengan tajam.


"Apa yang kalian lihat," ujar Anyer.


Nathan menunduk kemudian ia memilih mundur kebelakang.


"Kenapa diam?" lanjut Anyer lagi.


Anyer yang merasa terabaikan memilih melihat sendiri apa yang membuat kedua manusia di hadapannya terdiam membisu.


Anyer mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah. Sontak netranya menangkap sebuah pemandangan yang membuat hatinya terasa panas. 


Sosok orang yang dicintai malah jalan berdua dengan lelaki lain. 


Pantas saja akhir akhir ini tak ada kabar darinya.


"Lisa," gumam Anyer.


Dengan dada naik turun dan kuping yang terasa panas Anyer mengepalkan tangannya. Sorot matanya penuh dengan amarah.


"Anyer tunggu!" Bia berusaha mencegah langkah Anyer yang akan menghampiri Lisa.


"Apa!" sentak Anyer.


Bia menunduk mendadak sadar akan posisinya saat ini.


"Kamu jangan coba menghalangi langkah saya Bia!" kecam Anyer.


Anyer tak menghiraukan Bia yang memanggil namanya. Air mata meleleh. Wanita mana yang sanggup saat melihat suaminya lebih mengutamakan wanita lain ketimbang istrinya sendiri.


Nathan segera meraih tubuh Bia dan membawanya menjauh dari tempat tersebut.


"Nath, coba katakan salahkah aku mengharapkan cinta dari suamiku?" 


Nathan tak bersuara. Tangannya mulai mengepal. Baru saja ia ingin melepaskan Bia namun, seperti Anyer tidak bisa menjaga hati Bia dengan baik.


Sementara itu Anyer melepaskan lingkaran tangan yang melingkar di pinggang Lisa membuat Lisa dan Rico sangat terkejut.


Awalnya Rico ingin memaki siapa yang sudah lancang melepas paksa tangannya.


"Anyer," gumam Lisa.


Lisa menganga dengan keterkejutan luar biasa. Bagaimana bisa Anyer berada disini.


"Sorry… Aku bisa jelaskan, bro!" Wajah Rico mendadak pucat.


"Sayang, ini tidak seperti apa yang kamu lihat. Percayalah!" bujuk Bia.


Anyer tersenyum sinis melihat kedua orang yang sudah tertangkap bahas itu berusaha saling mengelak. 


Tak disangka, orang yang sangat ia percayai telah mengkhianati dirinya.

__ADS_1


Rico yang berstatus teman baik, sementara Lisa adalah wanita yang ia cintai. Bahkan ia menaruh kepercayaan 100% kepada dirinya.


"Apa yang ingin kalian jelaskan lagi? Apakah yang saya lihat ini hanya sebuah salah paham?" tekan Anyer.


"Pantas saja dua minggu terakhir tak ada kabar darimu! Bahkan berhasil membuat alasan palsu yang mengatakan bahwa kamu sedang keluar kota." cibir Anyer.


"Bro… Kau salah paham," ujar Rico gugup.


Anyer menarik paksa pergelangan tangan Lisa dan segera membawa Lisa keluar dari toko tersebut. Lisa meringis menahan rasa sakitnya.


"Auu… Sakit Anyer! Lepaskan!"


Anyer menghempaskan cengkraman tangannya, mantap Lisa dengan penuh amarah. Deru nafasnya naik turun.


Ini adalah pertengkaran pertama diantar keduanya setelah bertahun tahun mereka menjalin hubungan.


Tak ada kelembutan seperti biasa, hanya amarah yang menggebu.


"Sekarang coba jelaskan!" tekan Anyer.


"Apa yang harus aku jelaskan lagi Anyer? Kamu hanya salah paham. Aku dan Rico tidak ada apa apa. Percayalah!" Lisa berusaha memohon. Dengan raut wajah sendu dan linangan air mata, berharap Anyer mempercayainya.


"Kamu tahu, Lisa! Aku paling benci sebuah kebohongan dan penghianatan. Kamu tahu kan?" tekan Anyer lagi.


Lisa menunduk. Hatinya bergetar sebab ia sudah tahu bagaimana sifat dari sosok Anyer.


Anyer menggusar kasar rambutnya. Kali ini ia benar benar sangat kecewa terhadap Lisa. Tak ingin larut dalam kekacauan ini Anyer memilih meninggalkan Lisa yang masih berdiam diri.


Sepintas Anyer mengingat sosok Bia yang tadi bersama dirinya. Bahkan ia sampai mengabaikannya tadi. Lagi lagi Anyer menggusur rambutnya mencari sosok Bia.


.


.


.


.


Bia dan Nathan memilih meninggalkan Mall. Nathan tak ingin membuat Bia semakin larut dalam isaknya, lelaki itu berencana mengajak Bia untuk ke sebuah pasar malam yang di gelar di taman di tengah tengah keriuhan kota.


"Sudahlah Bu dir. Anda tidak perlu memikirkan Anyer. Anda wanita cantik, karir anda baik. Masih ada banyak lelaki yang mengantri untuk mendapatkan anda!"


"Jadi kamu menginginkan aku pisah dengan Anyer?" Bia mengernyitkan dahinya.


"Bukan… Bukan begitu Bu dir." Nathan mengelak.


"Saya hanya ingin anda bahagia. Jika anda memang sangat mencintai Tuan Anyer, ya pertahankan. Tetapi jika anda tidak menyukai ya mau bagaimana lagi…"


"Bu dir mau mencoba Carousel?" Nathan menunjuk pada salah satu wahana komedi putar.


Bia mengernyit melihat sebuah permainan yang ditunjuk oleh Nathan. Seketika Bia tertawa kecil.


"Kamu yang benar saja Nathan. Aku ini bukan anak kecil," cibir Bia.

__ADS_1


Tanpa menunggu persetujuan dari Bia, Nathan segera menarik lengan Bia menuju tempat tersebut. Setelah membeli tiket, Nathan meminta Bia memilih hendak menaiki hewan yang apa. Seperti anak kecil bukan?


Sewaktu kecil Bia sangat menginginkan untuk bisa melihat pasar malam dan mencoba menaiki wahana permainan yang ada seperti anak seusia dirinya.


Namun dengan kesibukan sang ayah kala itu, Bia tak pernah bisa melihat pasar malam.


Beruntunglah setelah Nathan menjadi ajudan pribadinya, Bia bisa melihat wahana yang diimpikan sedari kecil.


Sejak pertama kali Nathan mengajak Bia ke pasar malam, sejak itulah  Bia malah ketagihan. Terkadang jika ada pasar malam buka, Bia akan selalu memaksa Nathan untuk datang.


Bia seakan melupakan dengan apa yang terjadi baru saja. Dengan wajah berbinar bak anak kecil ia menikmati malam ini dengan penuh suka cita.


Menaiki carousel atau komedi putar seperti anak kecil yang tidak mempunyai beban hidup sama sekali.


Beruntungnya Bia memiliki seorang Nathan yang selalu ada disisinya dalam keadaan suka dan dukanya. Saat senang dan sedihnya.


Malam ini Nathan berhasil mengembalikan keceriaan dari sosok Bia. Sebelum mereka memutuskan untuk pulang Nathan mengajak Bia untuk mencicipi jagung bakar yang ada di sana.


"Ini jagungnya di beri rasa apa ya, Pak?" tanya penjual.


"Bu dir, anda ingin rasa apa?" tanya Nathan.


"Rasa apa yang enak?" Bia malah kembali bertanya.


"Semua rasa enak kok Bu," sahut penjual.


Nathan yang menyadari bahwa Bia tidak tahu tentang rasa akhirnya ia yang menentukan rasa.


"Rasa keju ya, Bang!" ujar Nathan.


Kali ini Bia mengulum senyum. Memang Nathan tidak ada tandingannya. Dari segi fashion, makanan bahkan sampai hal sekecil pun Nathan sudah sangat tahu ketimbang Anyer yang berstatus sebagai suaminya. Ah, mood Bia malah rusak kembali saat mengingat nama Anyer.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, jagung pesanan telah siap. Bia menghirup aroma wangi dari asap jagung berbalut keju kesukaannya yang di sodorkan abang penjual.


Tak menunggu lama Bia segera menyambar jagung tersebut. Meniupnya pelan, berharap jagung bakar yang panas segera dingin.


"Sini biar saya yang tiup."


Bia terdiam pasrah kala jagung bakar yang berada di tangannya telah berpindah tangan. 


Bia tak berkedip melihat Nathan yang begitu penuh perasaan dalam menghembus hembus jagung panas.


Tanpa disadari Bia mengulum senyum di bibirnya.


.


.


.


.


**T B C

__ADS_1


yuk tap Like dan komen banyak banyak tabur hadiah dong jan pelit 😭😭**


__ADS_2