Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Masih Menggantung


__ADS_3

...Mencintai Bukan Berarti...


...harus memiliki....


...Bisa berada di dekatmu saja...


...aku sudah bahagia...


...~ Nathan~...


Satu tahun kemudian….


Seorang bayi imut berceloteh ria di pagi hari meskipun matahari belum sempurnakan memancarkan sinarnya.


Bahkan sesekali ia menepuk nepuk pipi seorang wanita yang tengah tidur di sampingnya.


Bia menggeliat saat merasakan pukulan halus. Matanya  membuka pelan lalu menangkup wajah Aura gadis mungil berusia 7 bulan.


"Masih sangat pagi sayang," lirih Bia.


Jika Bia masih sangat mengantuk maka berbeda dengan Aura yang sudah ingin mengajaknya bermain. Celotehan yang tidak jelas membuat Bia tidak bisa mengabaikan gadis kecil itu.


"Papapa…" celoteh Aura.


Bia segera bangkit lalu mengingat rambutnya terlebih dahulu. Saat melirik jam di nakas, ternyata waktu masih menunjukkan pukul 5.30 WIB.


Coba saja Aura bertahan setengah jam lagi, Bia masih punya waktu tidurnya.


"Baiklah, mari kita cari Papa." Dengan penuh kasih sayang, Bia menggendong Aura untuk mencari sosok yang diucapkan sedari tadi.


Di rumah yang besar ini  hanya beberapa orang yang tinggal di dalamnya. Jika sebagian orang akan mengatakan wah sayang sekali rumah sebesar ini hanya ditempati  beberapa orang saja. 


Namun, nyata kicauan di luar sana tak sesuai fakta. Setelah kehadiran Aura, rumah besar tersebut selalu ramai akan ocehan yang belum jelas terdengar.


Bia yang membopong Aura berkeliling mencari keberadan Nathan, namun sayangnya di lantai atas Bia tidak menemukan sosok Nathan.


Aura dengan tangan aktifnya menarik narik rambut Bia.

__ADS_1


"Gak boleh ya, Aura sayang. Sakit rambut Mama."


Bak seperti anak yang sudah paham, Aura segera melepaskan tangannya. "Mamamam." celotehnya lagi.


Bia menautkan alisnya. "Aura mau mamam?" Bocah kecil itu tertawa lepas.


Sebenarnya Bia sendiri tidak mengerti akan setiap ucapan dari Aura, namun ia selalu berusaha untuk memahaminya.


Bia memilih menuruni anak tangga. Penciumannya telah menangkap aroma menggiurkan hingga Bia hanya mampu meneguk ludahnya sendiri.


Matanya segera menangkap sosok orang yang sedang ia cari. Ternyata Nathan sedang masak bersama mbak Lia.


Melihat Nathan, Aura segera berteriak girang. "Papapapa." tangannya menunjuk ke arah Nathan. Mata berbinar, serta pipi tembemnya, seakan Nathan ingin segera mencobanya.


"Morning sayang?" 


( Hayo, Nathan menyapa siapa? )


"Nath, kamu ngapain disini?" 


"Aku sedang membuat menu baru. Kamu wajib mencicipinya," ujar Nathan.


Saat Nathan hendak mencium pipi gembul Aura, tangan Bia langsung menepisnya. "Cuci tangan dulu! Bau bawang."


Tak menghiraukan ucapan Bia, Nathan langsung mengecup Pipi gembul gadis kecil iti, sebelum beranjak pergi Nathan menyempatkan untuk mengecup pipi Bia.


Seketika wajah Bia menjadi merah mudah.


"Nathan…" 


.


.


.


Semenjak perpisahannya dengan Anyer setahun yang lalu, seolah Anyer telan bumi begitu saja. Menurut kabar yang berhembus, Anyer memilih tinggal di luar negri bersama dengan Mamanya. Alasan saat itu hanya ingin menemani sang Oma berobat namun, hingga satu tahun tak ada kabar beritanya. Perusahaannya pun kini dikelola oleh Aryo, sang ayah.

__ADS_1


Selama satu tahun tak ada banyak perubahan dari seorang Bianca. Hanya kehadiran malaikat kecil yang mampu membuat hari hari Bia lebih berwarna.


Aura Magdalia, seorang malaikat kecil yang mampu mencuri perhatian Bia hingga saat ini. Beruntunglah ada Nathan yang selalu berada disampingnya yang mampu menghandle semua pekerjaan kantornya. Diusia yang sudah tidak muda lagi Bia merasa ingin resign dari dunia kerjanya lalu fokus untuk mengurus keluarga.


Keluarga?


Bia hanya bisa tersenyum pahit. Keluarga yang seperti apa? Bukankah Bia sudah memiliki keluarga yang utuh. Ia memiliki Aura penyemangat hidupnya. Lalu ia juga memiliki Nathan yang selalu disisinya.


Bohong jika Bia tidak menginginkan sebuah keluarga yang nyata.


Selama satu tahun Bia masih menggantung statusnya dengan Nathan. Sudah beratus kali Nathan melamar Bia namun sepertinya Bia masih takut untuk menjalani bahtera rumah tangga lagi.


Meski begitu Nathan tidak patah semangat, ia tetap mendekati Bia berharap Bia akan segera membuka pintu hatinya.


"Nath, sudah lama kita tidak ke rumah Papa. Pulang kerja kita kesana ya!" tutur Bia.


"Baiklah. Oh iya, sepertinya kita harus segera mengurus surat itu agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Aku hanya takut jika…"


"Kamu tenang aja, aku sudah mengurus semua." potong Bia.


Nathan mengangguk kemudian meninggalkan ruangan kerja Bia.


Sebenarnya Bia sudah merasa sangat nyaman bersama dengan Nathan. Tak ada lagi yang perlu di khawatir. Nathan baik, dia tanggung jawab dan dia juga sangat mencintai Bia.


Jari jari Nathan telah bersenam diatas tombol keyboard karena sebagian pekerjaan Bia telah dilimpahkan kepada dirinya. Jabatan Nathan bukan lagi seorang asisten pribadi atau ajudan pribadi lagi namun sudah menjadi wakil Direktur.


Nathan awalnya menolak sebab itu terlalu berlebihan untuk dirinya. Namun Bia selalu berdusta bahwa ia sudah lelah untuk mengurus kantor. Saat ia ingin berhenti ia selalu dihantui rasa bersalah pada mendiang Papanya, alhasil Nathan pun setuju menerima amanat dari Bianca.


.


.


.


.


Hayo siapa yang kecewa dengan part sebelumnya?

__ADS_1


Yang minta Bia bahagia dengan Nathan sini like dan komen biar Bia semakin bahagia hihihi


Ada yang tahu siapa yang disapa Nathan??


__ADS_2