Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 31


__ADS_3

Benar saja, setelah pulang kantor Anyer segera meluncur ke kantor Lisa untuk menjemput wanita pujaan hatinya. Dengan kacamata hitam Anyer bersandar di mobilnya sambil menunggu Lisa. Banyak pasang mata yang menatapnya takjub ada pula yang berbisik bisik membicarakan sesuatu.


Anyer tidak begitu jelas namun, dari sorot matanya sangat jelas bahwa mereka sedang membicarakan dirinya.


Tak perlu menunggu lama, Lisa sudah terlihat. Ia segera menghampiri Anyer.


"Udah lama?" tanya Lisa.


"Belum." Anyer menggeleng.


Akhirnya kedua insan itu berangkat ke sebuah Mall terbesar untuk melepaskan rindu selama satu minggu tak bertemu.


Sesampainya di Mall, Tangan Lisa terus menempel pada lengan Anyer, seakan memberi isyarat bahwa Anyer adalah miliknya.


Sepanjang perjalanan, Lisa tersenyum penuh bahagia bisa jalan berdua seperti ini, mengingat mereka memiliki kesibukan masing masing.


"Sayang, kamu tunggu sini dulu biar aku yang beli pop cron." Saran Anyer.


Lisa memgangguk pelan. "Siap."


Tak perlu menunggu lama Anyer dan Lisa sudah mulai memasuki ruangan yang sebentar lagi film akan segera di mulai.


🌺 🌺 🌺


Bia sudah mengemasi berkas berkasnya. Sebelum memanggil Nathan, Bia memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.


"Bu Dir, mari." Nathan sudah siap.


Bia melangkah anggun meninggalkan ruangannya. Di luar ia berpapasan dengan para karyawannya yang hendak pulang juga. Bia hanya mengangguk saat di sapa dari para karyawannya. Bukan karena sombong namun, Bia hanya menjaga imagenya.


"Kita langsung pulang, Bu?" tanya Nathan.


Bia terdiam sejenak. Mengingat suasana hatinya sedang tidak baik, Bia memutuskan untuk mencari angin sejenak untuk melepaskan lelahnya.


"Kita ke Mall sebentar ya!" perintah Bia.


Nathan mengangguk patuh. Ia pun segera mengemudikan mobilnya menuju tempat yang di maksud oleh Bia.

__ADS_1


Beberapa kali, Nathan hanya melirik bosnya dari kaca spion. Terlihat sangat jelas wajah Bia yang lelah.ata pandanya juga terlihat. Memang semenjak kepergian Wijaya, Bia belum ada melakukan perawatan wajahnya. Biasanya Bia rajin pergi ke salon ataupun melakukan perawantan di rumah di bantu dengan Lia.


"Bu dir, kita sudah sampai."


Bia membuka matanya. Mengedarkan pandangan di sekitarnya.


"Ya sudah ayo turun!" titahnya.


Nathan mendongak. "Saya ikut?"


Bia kembali menatap Nathan. "Jadi maksud kamu aku harus masuk sendiri?"


Nathan menelan saliva. Baiklah, sabar Nathan.


"Baik, Bu dir. Mari!" Nathan mempersilakan Bia untuk jalan lebih dahulu.


"Kenapa harus aku yang jalan duluan? Memangnya kamu bodyguard ku?" ketus Bia.


Lagi lagi Nathan harus banyak mengelus dada. Saat ini yang terpenting adalah Bia merasa nyaman dan bahagia. Mengingat ia baru saja terpuruk.


"Baik, Bu dir. Mari." Kini Nathan menyamakan langkahnya seimbang dengan Bia.


Bia melihat lihat baju. Ternyata Bia baru menyadari bahwa dirinya sudah lama tidak meluangkan waktu shopping. Dan kali ini, ia tidak akan membuang waktunya belanja sepuasnya.


Begitu juga dengan Nathan yang senantiasa mengikuti bosnya. Selama ini jika bukan Nathan pasti Lia yang akan menemani Bia bepergian kemanapun Bia mau.


"Nath, ini cocok gak?" Bia menunjukkan sebuah gaun warna hitam.


Dengan teliti Nathan mengamatinya sambil menggeleng. "Sepertinya ini kurang cocok Bu Dir. Warna gelap itu tidak memancarkan aura kebahagiaan untuk anda. Bagaimana kalai warna peach. Ini seperti cocok untuk anda."


Bia pun begitu patuh. Ia meletakkan lagibgaun warna hitam lalu mengambil gaun yang di katakan oleh Nathan.


Tak menunggu lama, Bia segera ke ruang ganti untuk mencobanya.


"Bagaimana, Nath?" seru Bia yang baru saja keluar dari ruang ganti.


Nathan segera mendongak. Matanya tak berkedip menatap jelmaan bidadari yang begitu nyata di hadapannya saat ini. Selama ini memang Nathan yang menemani Bia kemanapun ia pergi. Bahkan hampir semua keperluan Bia, Nathan lah yang menyiapkan.

__ADS_1


Namun, baru kali ini Nathan terkesima melihat kecantikan direkrut dengan sebuah gaun yangvia rekomendasikan tadi.


"Nathan!" seru Bia lagi.


Nathan segera tersadar. "Iya Bu dir. Anda sangat cocok dangn gaun itu," ucap Nathan gerogi.


Ah, bisa bisanya Nathan merasa gerogi seperti ini. Padahal ini bukan tugas pertamanya menemani Bia shopping.


Bia tersenyum puas. Jika Nathan mengatakan bagua, maka itu kemang bagus. Tapi jika Nathan mengatakan itu tidak bagus, maka sudah dipastikan barang itu tidak bagus.


"Ya sudah. Aku pilih yang ini aja." Terlihat dari sorot matanya Bia begitu riang. "Nath, bungkus yang ini!" titahnya pada Nathan.


Setelah mendapatkan satu buah gaun, Bia segera menuju ke rak sepatu. Meski di rumahnya sudah banyak koleksi sepatu, tak membuat Bia puas dengan yang sudah ia miliki.


Saat kaki Bia mencoba seatu bertumit, dengan segera Nathan mencegahnya.


"Maaf Bu dir, sepertinya sepatu ini tidak cocok dwngan anda!"


Bia hanya mengernyit. Tidak cocok? Bukqnkah di rumah juga banyak model seperti ini?


"Tidak cocok dari mana? Bahkan di rumah banyak model seperti ini. Kenapa baru sekarang kamu perotes?" Bia merasa heran.


"Sekarang sudah berbeda Bu dir. Anda sekarang sudah menikah dan sepatu ini tidak cocok untuk anda, apalagi jika anda hamil nanti." Nathan memelankan suaranya.


Mendadak Bia mematung. Apa? Hamil? Ah, itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Bia tetawa sinis.


"Kamu berlebihan Nath! Ya sudah ayo kita keluar!" Meski tidak terima, Bia pun tetap menuruti ucapan Nathan.


Tak terasa, hari pun sudah gelap. Bia memutuskan untuk mengisi perut mereka sebelum pulang. Dengan senang hati Nathan mengikuti langkah Bia ke sebuah restoran. Tak menunggu lama mereka segera memesan menu yang mereka inginkan.


Sambil menunggu menu datang, Mata Bia berkeliaran ke semua penjuru arah. Melihat lihat keramaian restoran tersebut. Namun, mata Bia berhenti pada pasangan yang baru saja memasuki restoran. Mata Bia tak berkedip hanya ingin memastikan dengan jelas.


Ya, tidak salah lagi. Itu adalah Anyer dan seorang wanita yang begitu familiar baginya namun, Bia lupa siapa sosok wanita tersebut.


...Jan lupa tinggalin jejak!...


Oh ya Nih aku aku ada rekomen salah satu novel karya

__ADS_1


Zain Wushi yang judulnya CAMELIA CHEN.



__ADS_2