
Anyer terpaksa harus membenarkan posisi tidur Bia. Ia pun melepas sepatu yang masih Bia kenakan.
Sebenarnya Anyer ingin sekali membangunkan Bia, namun, saat melihat guratan wajah lelah, Anyer mengurungkan niatnya.
Anyer pun segera membaringkan tubuhnya disamping Bia, bukan untuk tidur tetapi hanya untuk rebahan dan memainkan ponselnya.
Saat membuka ponsel, Agung menakutkan alisnya kala begitu bayak panggilan tak terjawab dari Lisa. Bahkan notifikasi mengambang di layar ponselnya.
"Lisa." gumam Anyer.
Dengan segera Anyer turun dari tempat tidur. Ia memilih menuju balkon. Saat itu juga Anyer menghubungi Lisa kembali.
Kina bukan hanya panggilan biasa namun, ia melakukan panggilan video call.
Tak butuh waktu lama, panggilan Anyer tersambung. Terlihat sosok Lisa yang hanya membalutkan handuk di tubunya. Bagian sembulan dada terlihat lebih menantang, ditambah dengan rambut Lisa yang masih basah. Tetesan air juga mengalir ke bagian leher dan dadanya.
Anyer hanya mampu menean ludahnya. Tampilan Lisa benar benar membuatnya semakin kelimpungan . Setelah ia menahan penampakan dari Bia.
"Ada apa sayang? aku baru habis mandi, nih."
Anyer masih menelan ludah kasarnya.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin memastikan saja," ucap Anyer.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Ayolah sayang, inikan sahabat lama kamu lho. Masa iya kamu gak mau nemuin dia?"
"Tapi..."
"Tuh kan, ayolah sayang. Mau ya?"
Anyer terdiam sejenak sebelum mengambil sebuah keputusan. Sebenarnya ia juga merasa bosan berada di rumah Bia. Sudah lama juga ia tidak menghibur diri sendiri.
"Baiklah, aku setuju." ujar Anyer. Sebenarnya Anyer merasa berat untuk menginjakkan kakinya di tempat seperti itu. Jujur saja, Anyer sudah lama tak pernah memasuki tempat itu.
Dari seberang sana Lisa merasa puas. Ia pun sangat berterima kasih kepada Anyer. Tak lupa sebelum mematikan telepon, Lisa melempar ciuman jauh. Membuat Anyer menggeleng.
Tak butuh waktu lama, Anyer sudah siap dengan pakaian santai. Jika biasanya ia menggunakan celana panjang dan sebuah jas. Kini lelaki itu tampil dengan casual. Terlihat lebih tampan dan muda.
"Tuan Anyer," gumamnya takjub.
"Tumben rapi, Tuan mau kemana?" tanya Juminten.
"Saya mau kemana itu bukan urusan kalian. Urusan kalian itu cukup mengurusi rumah dan mengurus Bia." Anyer segera berlalu.
"Ya ampun. Songong amat sih, Li." decak bik Juminten.
Lia tak menggubris juru masak di rumah ini. Ia hanya kepikiran akan kemanakah Anyer pergi dengan pakaian seperti itu. Selama tinggal di rumah ini, belum pernah Lia melihat suami Bia itu keluar malam seperti ini
__ADS_1
"Apa mereka berantem?" gumam Lia.
Mobil Anyer telah berhenti di sebuah apartemen mewah. Kini ia segera menuju kamar dimana Lisa berada. Sungguh ia tak sabar melihat Lisa. Bayangan tubuh Lisa tadi masih berputar dalam pikirannya.
"Sayang..." Lisa segera menghambur kepelukan Anyer.
Anyer pun segera membalas pelukan dari kekasihnya.
"Udah siap?" tanya Anyer.
Lisa terdiam. Ia memperhatikan penampilan Anyer.
"Yakin kamu pakai pakaian seperti ini?" Lisa memastikan.
Anyer mengangkat bahunya. "Jadi harus bagaimana? gak pantas ya?" tanya Anyer.
Lisa segara menggeleng. "Bukan begitu. Kamu malah terlihat lebih keren dengan pakaian seperti ini. Makin terlihat seperti ABG. Makin cinta aku jadinya." Gombal Lisa.
Kini keduanya berjalan menuju sebuah bar yang beroperasi di tengah pusat kota. Sudah lama Anyer tidak menginjakkan kakinya di tempat seperti ini. Jika bukan karena bujukan Lisa yang mengatakan bahwa sahabat lama Anyer telah pulang ke tanah air dan mengajak bertemu ditempat seperti ini.
Lisa menggandeng mesrah lengan Anyer. Pakaian yang super terbuka membuat para mata lelaki tak berkedip saat melihatnya. Belahan dada yang menonjol dan belahan rok yang terlalu tinggi, itulah yang Lisa kenakan.
kemerlap lampu disco dan musik DJ yang memekakkan telinga. Anyer sebenarnya merasa sangat sesak untuk berada di tempat tersebut. Beruntungnya mereka membuat janji di ruang VIP. Dengan begitu Anyer tidak perlu merasa sakit jantung.
__ADS_1